River Cruise along the river Thames London to Hampton Court Palace

Sinopsis Europe Travel-Love Story: Menapaki Belanda, Belgia, Luksemburg dengan Cinta

Europe Travel-Love Story: Menapaki Belanda, Belgia, Luksemburg dengan Cinta

Buku Europe Travel-Love Story: Menapaki Belanda, Belgia, Luksemburg dengan Cinta. (Foto Nimas)

Buku ini berkisah tentang perjalanan Nimas seorang gadis Solo yang merantau ke negeri kincir angin. Disana ia bertemu dengan Remco seorang pria Belanda bermata biru yang jenaka. Nimas dan Remco pun jatuh hati pada pandangan pertama. Pasangan kekasih ini kemudian memulai kegiatan traveling bersama. Dengan riang, Remco mengajak Nimas menjelajahi Belanda, Belgia dan Luksemburg melalui persepsi orang lokal. Remco banyak menceritakan cerita sejarah di balik tempat-tempat yang mereka kunjungi dengan ringan dalam perbincangan sepasang kekasih. Buku ini juga dikemas dengan cerita manis penuh cinta dari sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Menceritakan bagaimana mereka menikmati momen kebersamaan sambil mengunjungi tempat-tempat indah bernuansa romantis khas negeri-negeri Eropa. Cerita perjalanan keliling Eropa pun terasa lebih menarik dan penuh cinta bila dijelajahi bersama kekasih tambatan hati.

Buku ‘Europe Travel-Love Story: Menapaki Belanda, Belgia dan Luksemburg dengan Cinta’

_Cover Travel

Bagi anda yang ingin jalan-jalan romantis ke Eropa bersama pasangan terkasih, dapatkan segera buku perdana:

Europe Travel-Love Story:

Menapaki Belanda, Belgia dan Luksemburg dengan Cinta

Silahkan pesan di: www.nulisbuku.com

FotorCre

Versi Buku

TERSEDIA JUGA VERSI E-BOOK

di: www.travelbugeurope.com

Bagi yang kesulitan memesan buku via nulisbuku.com silahkan tinggalkan komentar di halaman ini. Saya akan bantu untuk meng-order melalui saya. Terimakasih.

Ayo ikut Berburu Aurora Borealis di “Winter Wonderland” Skandinavia 6-15 Desember 2014

Ny Havn, Copenhagen, Denmark

The Famous Ny Havn, Copenhagen (Photo Originally Owned by: Travel Bug Europe)

Desember nanti mau ke mana ya enaknya? Ikutan kita aja yuk Berburu Aurora Borealis di Skandinavia. Tour Winter Wonderland 6-15 Desember 2014 ini akan diadakan 10 hari dengan rute:

Jakarta-Copenhagen-Oslo-Trondheim-Stockholm-Helsinki-Jakarta

(Denmark-Norwegia-Swedia-Finlandia). Paket kita murah kok, cuma ‚ā¨ 999 aja ūüôā

Buruan daftar ya, karena harga akan naik sesudah 1 Oktober 2014.

Info lebih lanjut silakan tulis alamat email ya di kolom komentar. Atau boleh  juga kirim email ke kita:

travelbugeurope@gmail.com

This tour Organized by:

Travel Bug Europe

Head Office: Den Haag, The Netherlands

Little Mermaid, Denmark (Photo Originally Owned by: Travel Bug Europe)

Little Mermaid, Denmark (Photo Originally Owned by: Travel Bug Europe)

Palace's Guard, Copenhagen (Photo Originally Owned by: Travel Bug Europe)

Palace’s Guard, Copenhagen (Photo Originally Owned by: Travel Bug Europe)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Winter Wonderland Skandinavia

Romantic Paris

64951_4534733278943_427658097_nSepertinya adalah menu wajib bagi semua orang Indonesia untuk mengunjungi kota Paris. Kota yang didaulat sebagai kota paling romantis sedunia, paling luxurious, paling fashionable, dan identik muahaaal. Kalau udah foto di depan Eifel Tour itu rasanya seperti mayoritas travel list sudah terpenuhi. Hayo siapa yang nggak kepingin pergi ke Paris?

Hehehe.. sebegitu dahsyat nya kah kota Paris? Mari kita berkunjung dulu dan berkeliling kota Paris sebelum memberikan judgement ya ūüôā

Mister Ayank yang sangat romantis, ingin mewujudkan harapan saya menginjakkan kaki di kota Paris. Kami memutuskan untuk road show alias menggunakan mobil dari Belanda ke Paris. Pertimbangannya, bila kita melihat sesuatu yang indah dan menarik di sepanjang jalan, kita bisa berhenti mampir. Perjalanan antar negri ini idealnya dapat ditempuh dalam waktu 4 jam. Coba bayangkan kalo kita di Indonesia, 4 jam berkendara ya masih juga di satu provinsi, saking luasnya negara kita. Perjalanan kami terbilang cukup lanacar. Hmm.. sejujurnya? saya tidur sepanjang jalan ;D

412814_4511718423586_1780416833_oMulai memasuki kota Paris, terlihat pemandangan padat penduduk. Bahkan terdapat sudut-sudut kumuh di bawah jembatan yang tidak pernah saya lihat pemandangan serupa di Belanda. Saya kaget sih.. ternyata ada penghuni bawah jembatan juga di kota paling terkenal akan ke-luxurious nya di dunia, macam di Jakarta aja. Lalu lintas kota Paris juga sangat sibuk dan macet. Pengendara mobil di Paris terkenal sebagai pengendara ceroboh di Eropa, sama seperti pengendara di Roma. Tapi kalo kita pernah hidup di Jakarta, ya kita tenang aja, penyupir-penyupir di Paris nggak ada apa-apanya deh ;p

457839_4511761504663_1067592100_oKita sampai di hotel menjelang sore. Kita memutuskan untuk menggunakan metro selama berjalan-jalan di kota Paris dan meninggalkan mobil di parkiran hotel. Pertimbangannya karena sangat susah sekali mencari parkir di pusat kota Paris. Selesai check in, kita langsung ngabur ke station metro terdekat dan mengunjungi Eifel tour dari Trocadero hall. Trocadero hall adalah viewing point alias tempat untuk melihat Eifel tour dari jarak yang sedang. Tempat ini sengaja di bangun untuk dapat menikmati keindahan Eifel Tour baik di siang maupun malam hari. Banyak orang-orang menuju ke hall ini untuk berfoto maupun sekedar menikmati menara besi ini. Hmm.. banyak lhoh orang Indonesia yang lagi heboh berfoto berbagai gaya bersamaEifel ūüôā Sedang kami berdua, sangat menikmati menatap menara ini yang kerlap-kerlip indah di malam hari. Lalu kita pulang dan beristirahat.

Keesokan harinya kita akan mengunjungi berbagai turis objek seperti Jardin de Luxembourg, Notredame, Arch de Triumph, Pantheon, Musee de Louvre, Pont LÀrcheveche, Moulin Rouge, Sacre Cour, Galeria Lafayette, Plaza de la Concord , Opera, Champs Elysees, Eifel tower (again). Wah banyak banget ya jadwalnya. Mari kita uraikan satu per satu biar nggak ruwet.

1. Eifel tower

Eiffel dari Champ de Mars Eiffel dari Trocadero Hall Icon utama kota Paris ini didaulat menjadi tempat wajib tampil di foto-foto  para turis yang berkunjung ke Paris. Awal mulanya pada tahun 1800-an, major kota Paris ingin membangun suatu icon untuk kota untuk menyambut Exposition Universelle of 1889, World fair yang diadakan di kota Paris. Arsitek Stephen Sauvestre  di daulat untuk menyeleseikan proposal pembuatan menara. Sedangkan pengerjaanya dilakukan oleh insinyur Gustav Eiffel. Nama menara ini pun menggunakan nama belakang sang insinyur, Eiffel. Ada dua tempat menarik untuk bisa melihat Eiffel yaitu Champ de Mars dan Trocadero Hall. Trocadero hall adalah tempat yang sudah kami kunjungi malam kemarin. Ini adalah point view untuk melihat Eiffel dari jarak yang sempura. Sedangkan Champ de Mars adalah taman di mana menara Eiffel berdiri. Manakah tempat terbaik untuk melihat Eiffel? Kalau ingin berfoto dan menikmati suasana, dari Trocadero hall adalah jarak yang sempurna. Tapi kalo penasaran pengen colek si menara besi dan pingin naik ke atas Eiffel, silahkan datang ke Champ de Mars. Tapi ya siap-siap datang pagi karena antreannya panjang seperti ular naga. Namun dari tempat ini tidak begitu sempurna untuk berfoto bersama Eiffel karena menaranya terlalu besar untuk dicakup utuh oleh kamera. Yang menggunakan metro, silahkan turun di stasiun Bier-Hakeim.

Kami tidak naik ke atas menara karena antrean yang cukup panjang dan ya memang tidak tertarik untuk naik. Kami duduk di bangku taman di dekat kaki Eiffel untuk menikmati suasana dan kebersamaan. A fine romantic morning infront of the Eiffel.. weww..

2. Jardin de Luxembourg

9457_4558667877293_711119023_n

551164_4558679237577_300441527_n 307538_4558669797341_1209985520_n

603223_4558680837617_487651799_nJardin de Luxembourg dulunya adalah sebuah istana yang dibangun oleh Marie de’Medici, janda dari Raja Henry IV.¬†¬†Familiar kah anda dengan nama belakang tersebut? Medici family of Firenze pernah saya ceritakan di tulisan saya tentang Firenze Italia. Silahkan di simak lagi ya. Dan yah, Madame Marie ini memang sangat merindukan kampung halamannya di Firenze sehingga ingin membangun imitasi dari Pitti Palace of Firenze. Maka jadilah Jadine de Luxembourg. Namun pasca Revolusi Perancis, istana ini kemudian di rebut oleh para republikan dan sekarang dijadikan tempat Senat alias DPR. Sedangkan tamanya menjadi taman terbuka terluas di Paris. Siapapun boleh datang dan bersantai di taman yang indah ini.

3. Katedral Notredame

546187_4534751279393_466195268_nKatedral ini termasuk salah satu iconic objek wisata di kota Paris. Dengan arsitektur bergaya ghotic, Katedral ini berdiri megah dan indah. Jika ingin memasuki Notredame jangan lupa datang pagi karena antreannya tak jauh beda dari antrean menara Eiffel. Masuk ke Notredame juga tidak dipungut biaya jadi aman untuk kocek kita. Ada beberapa peraturan yang harus kita patuhi ketika kita berada di dalam Notredame. Yaitu dilarang berisik, yah maklumlah kan kita harus menghormati tempat ibadah dan menghormati orang lain yang sedang khusyuk beribadah. Peraturan kedua yaitu boleh memfoto tetapi tidak boleh menggunakan flash kamera. Selesei berkeliling Katedral, silakan berjalan menyusuri sungai ke arah belakang Notredame. Maka kita akan melihat jembatan cinta yang terkenal seantero dunia, Pont LÀrcheveche.

4. Pont LÀrcheveche, Jembatan Cinta

9501_4558754759465_250084726_n

9501_4558753999446_1344599725_n 304572_4558754359455_396230052_n

393049_4558755039472_928478206_nPont¬†L√Ärcheveche lebih dikenal sebagai jembatan cinta oleh warga di seluruh dunia. Di kanan dan kiri sepanjang jembatan ini penuh bergantung ratusan ribu gembok cinta dari seluruh penjuru dunia. Sangat menarik sekali melihat bagaimana orang Eropa mempercayai mitos menempelkan gembok di jembatan-jembatan sebagai simbol menggembok hati dan cinta pasangan masing-masing ūüôā Memang sih romantis tapi kalo kaya gini kan ngeri juga lihatnya ya.. hehe.. Saya sih sibuk memperhatikan para gembok-gembok tersebut. Sampai ada yang niat banget lho bikin gembok cintanya, udah sengaja pesan gembok dengan bentuk cinta bahkan diukir nama pasangan tersebut.¬†Hayo yang punya pasangan, siap-siap bawa gembok ke Paris buat dipasang di jembatan cinta diatas Seine river.

5. Arch de Triumph

Arch de Triumph juga salah satu bangunan iconic dan wajib dikunjungi oleh para turis. Arch ini dibangun oleh Napoleon Bonaparte untuk menghormati rakyat Perancis yang meninggal selama perang revolusi dan perang Napolean. Terdapat dua macam Arc de Triumph yaitu Arc de Triumph du Carrousel di dekat Musee du Louvre dan Arc du Triomphe de l’Etoile. Arc du Carrousel inilah yang diklaim oleh anaknya si Amin Ra*s di novelnya yang katanya patung manusia menarik kuda di Arc de Triumph dibangun oleh Napoleon menghadap ke arah kiblat Mekkah. Bahwa Axe histourique sengaja dibangun oleh Napoleon sebagai ungkapan jalan kemenangan menuju kiblat. Well, belum ada bukti scientifik untuk kesimpulan anak sang tokoh besar RI tersebut. Masih harus mengumpulkan bukti yang kuat untuk mengklaim “keislaman” Napoleon. Napoleon memang pribadi yang menarik. Berkat jasa Napoleon lah negara barat (dan kita) mempunyai konsep berbangsa, bernegara dan bersatu. Diyakini sebelum masa kekuasaan Napoleon, masyarakat Eropa banyak terdiri dari raja-raja vasal dan kerajaan yang berperang satu lawan lain memperebutkan daerah kekuasaan maupun mempertahankan wilayah dari tetangga. Maka Napoleon merubah arah pondasi kenegaraan di Eropa yang tentunya kita rasakan dampaknya juga sebagai generasi baru Asia pasca perang dunia II. Walaupun tidak semua negara eropa melepaskan sistem kerajaannya namun pandangan Napolean akan berbangsa dan bernegara tetap merubah konstelasi dunia Eropa pada masa itu.

6. Champs Elysees

Dari¬†Arc du Triomphe de l’Etoile kita tinggal menyebrang saja untuk menyusuri the famous Champs Elysees.¬†Champs Elysees adalah nama jalan yang sangat terkenal di seantero jagad akan kemewahanya. Di sepanjang jalan inilah pusat toko-toko fashion mewah dan rajanya mahal. SEbutkanlah semua barang branded buatan Perancis dan desainer kelas dunia semua ada di sini. Beberapa toko bahkan juga memasang bodyguard berbadan gedhe di depan pintu yang membatasi berapa jumlah pengunjung yang diperbolehkan masuk ke dalam toko tersebut.

7. Plaza de la Concord

735173_4558814760965_612220197_nJika kaki kita belum capek berjalan menyusuri¬†Champs Elysees, kita akan menemukan Plaza de la concord. Plaza ini berada di tengah-tengah antara dua Arch de triumph (Du Carrousel di dekat Musee du Louvre dan Arc du Triomphe de l’Etoil). Di tengah-tengah plaza ini terdapat tugu Obelisk aseli dari Mesir. Bagi saya yang mengikuti cerita Maria Antoinnette, Ratu Prancis dari Raja Henry ¬†XVI, sebenarnya sedih menatap plaza ini. Kenapa? Di Plaza de la Concord inilah Sang ratu dan Sang raja di guillotine oleh rakyatnya alias dihukum pancung dengan pisau jagal yang amat sagat tajam. Membayangkan bagaimana marahnya rakyat Perancis pada masa revolusi tersebut tepat di plaza ini. Meneriaki, menghina dan mungkin melempari Raja dan Ratunya yang dianggap nista. Entah bagaimana emosi dan perasaan Louis XVI dan Antoinette dihadapan masa yang menghakiminya. Membayangkan kepala Antoinnette menggelinding dan darahnya mengalir di jalanan Plaza de la Concord. Hingga Napoleon pun pernah berkata bahwa tak seharusnya Perancis menghukum mati raja dan ratunya sendiri karena bagaimanapun juga mereka adalah simbol negara. Rakyat Perancis sangat benci dengan Antoinnette yang bermewah-mewahan, sibuk dengan judi, fashion dan barang mahal sehingga menghabiskan kas negara. Namun lihatlah Paris sekarang, pusat fashion dan kemewahan dunia.

8. Musee de Louvre

551172_4558530553860_1636020737_n 1131_4558129143825_1931145015_n

Masih belum lelah berjalan, silahkan terus saja menyusuri jalan menuju Arc de Triumph du Carrousel. Maka dibelakangnya, kita akan menemukan Musee de Louvre. Louvre sebenarnya adalah museum nasional di mana kita bis amelihat langsung lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci. Waktu itu kami memolih untuk tidak masuk ke dalam museum dan cukum hanya menikmati senja dari luar saja. Selain istirahat karena capek, kita juga sibuk berfoto saja di sini. Dengar-dengar lukisan Monalisanya juga sangat kecil.. hehe..

9. Moulin Rouge

Kincir angin warna merah di atas atap bangunan rumah. Apalagi kalo bukan Moulin Rouge. Sebenarnya kawasan ini adalah kawasan Red Light Districtnya Paris. Namun Moulin Rouge lah yang sangat terkenal sebagai tempat mewah yang menyajikan pertunjukan “seni”. Untuk memasuki Moulin Rouge anda harus reserved berminggu-minggu sebelumnya dan diwajibkan menggunakan baju formil macam mau jalan di Red Carpet. Untuk tiketnya saya tidak tahu pasti karena kita nggak masuk ;p yang pasti, siap-siap merogoh kocek tebal anda. Sebenarnya banyak Bar lain di sekitar Moulin Rouge yang lebih santai yang menyajikan pertunjukan-pertunjukan panas juga. Selain bar dengan pertunjukan panas, di sepanjang jalan ini juga sangat mudah ditemukan Sex-toys-shops. Oh ya satu hal lagi, ingat foto Marlyn Monrow ber dress putih yang dia sibuk memeganggi dress nya yang kena angin itu? Nah Marlyn berfoto di jalan di depan Moulin Rouge. Memang ada angin yang sengaja di keluarkan dari bawah tanah. Silahkan mencoba berfoto ala Marlyn monrow tertiup angin di depan Moulin Rouge. Tapi jangan lupa pakai rok tentunya biar bisa berkibar.. hehe..

10. Sacre Cour

Adalah gereja dengan arsitektur yang sangat indah. Namun untuk menuju ke sini diperlukan pengorbanan yang lumayan karena kita harus mendaki tangga yang sangat banyak. Maka siapkan stamina anda dan tinggalkan high hills di rumah saja. NAmun tentunya pengorbanan kita akan berbuah manis karena pemandangan dari Sacre Cour sungguh sangat indah. KIta bisa melihat kota Paris dari ketinggian. Masuk ke Sacre Cour juga gratis tidak di pungut biaya. Namun berbeda dengan Notredame, di sini kita tidak diperbolehkan mengambil foto dari dalam.

11. Galeria Lafayette

318029_4558810600861_1209820874_n  550908_4558845241727_16148471_n

Adalah semacam shoping indoors alias mall yang sangat terkenal di Paris. Di sini bisa ditemukan semua barang branded dari seluruh dunia, utamanya adalah dari desainer Paris. Siapakah pengunjung Galeria Lafayette? Ibu-ibu INdonesia. hahaha.. lucu juga kalo ngelihat ibu-ibu ini lagi belanja ya.. semuanya mau dibeli buat si ini.. si itu.. si ono.. hahaha.. ribut sendiri..

12.  Opera

735158_4558812800916_828770419_n

Dari Galeria Lafayette kita bisa berjalan kaki menuju Opera. Opera ini adalah tempat pertunjukan teatrikal terkenal di Paris. Melihat arsitektur luarnya saja sudah sangat menarik. Tapi waktu itu sedang tidak ada acara di Opera ini. Sehingga kami hanya duduk-duduk menikmati suasana bersama ūüôā Banyak juga turis seperti kami yang sedang asyik menikmati suasana malam di teras Opera Paris.

13. Pantheon

545128_4558756839517_1079418988_n

Adalah bangunan iconic lain yang sangat terkenal di Paris. Namun apakah Pantheon itu? Sebenarnya Pantheon adalah makam. Kita bisa masuk ke bawah tanah Pantheon ini untuk melihat makam/ peti batu. Jadi orang-orang yang meninggal di sini tidak dikubur tapi cukup dimasukkan ke dalam peti batu dan dipertontonkan. Jadi inget film yoko dan bibi lung yang tidur di peti batu ya.. hehe.. Mayoritas adalah orang-orang terkenal atau berdarah biru yang dikubur di Pantheon. Beberapa scientist juga dikuburkan di sini seperti Fisikawan Voltair dan negarawan. Hari menjelang malam dan suasana di dalam ruang bawah PAntheon semakin mencekam. Saya pun menarik si kangmas keluar dari Pantheon sebelum salah satu peti batu terbuka karena penghuninya kesal dengar suara berisik sepanjang hari ;p

1511_4558001900644_177505378_n 427772_4558000140600_1509365530_n

543296_4558757039522_996222869_n

 

 

 

 

Schengen, The Historical Town of EU

1619195_10202814978708081_6329917301108490641_nSchengen is a named of a town in Luxembourg. Once we arrived in this town, honestly we found nothing special of its architecture or building. So how come it became the inspiration for no boundary treaty within Europe?

Benelux (Belgium, Nederland, Luxembourg) are the forerunner of how integration of custom and cooperation happen in Europe since 1944. Later on 1951, together with Germany, France and Italy, they formed European Coal and Steel Community. Then, we can see it as a formed transferred into European Union in nowadays.

Schengen town is located in the border of Luxembourg (Benelux), Germany and France. So that it is a perfect location for signed an integration of custom’s treaty. The other interesting thing is that the treaty was signed in a Boat! The boat that sailing in De Mosselle, river of three country and landed in Schengen.

“So that we can travel around Europe without worry of immigration and custom on each borders”, Zegt mijn schat ūüôā

Thank you Schengen! ūüôā

Italia 11: Genoa dan Milan

Malam ini kita udah booking hotel di Milan. Rute menuju Milan dari Cinque Terre mau tak mau memang harus melewati Genoa. Rencana awal kita adalah tetap membawa mobil sampai ke Milan. Tapi tiba-tiba di tengah jalan si ayank pingin nge drop mobil di Genoa lalu kita melanjutkan perjalanan ke Milan menggunakan kereta. Waktu yang mepet dan rencana yang dadakan membuat aku merasa insecure. Tapi kalo ditolak ya kasian juga, mungkin si ayank udah kecapean nyetir dari Roma. It will be nice if he just can take a rest on the train and sleep, pikirku. Makanya aku pun meng-amini rencana dadakan itu karena si ayank meyakinkan bahwa ada kereta dari Genoa ke Milan.

Konter Avis, perusahaan tempat kita menyewa mobil ada di bandara Leonardo da Vinci Genoa. Kami pun menuju bandara Internasional tersebut untuk mengedrop mobil. Selesai mengedrop mobil, kita mencari-cari stasiun kereta yang awalnya si ayank kira sudah terintegrasi dengan bandara internasional Genoa. Tapi kita sangat kecewa setelah mengikuti papan tanda ‘stasiun’ yang di maksud di bandara itu ternyata hanya bermuara pada halte shuttle bus yang akan membawa kita menuju stasiun terdekat. Stress campur panik,¬† jam telah¬†menunjukkan pukul 10 malam dan hanya tersisa satu kereta lagi menuju Milan. Kalau kita nggak bisa naik kereta itu, habislah sudah! Padahal hotel yang kita booking di Milan adalah hotel paling mewah dari semua hotel yang sudah kami tinggali di Italia. Karena kita pingin relax saja di hari terakhir.. Sungguh nggak nyangka hal mendebarkan seperti ini akan terjadi..

Kita pun tiba di stasiun terdekat setelah me-nego sebuah taxi untuk ngebut. Sampai di stasiun kita bingung lagi karena ternyata nggak ada kereta direct menuju Milan. Kita harus menuju ke Stasiun utama untuk mancari kereta menuju Milan. Dengan menyeret koper dan memanggul ransel, kita menaiki kereta menuju stasiun kereta utama Genoa. Sesampainya di stasiun utama, bukannya masalah selesai..! Stasiun ini cukup besar tapi tanpa ada informasi keberangkatan dan kedatangan kereta yang jelas. Semua tanda bahkan hanya tersedia dalam bahasa Italia! Ternyata kita DSC08857bukan orang yang lagi bingung sendirian. Ada sekelompok keluarga besar Italia yang juga lagi bingung bin panik mengejar kereta terakhir menuju Milan sama seperti kita. Nah.. kalo orang Italia sendiri aja bingung di stasiunnya, apalagi kita yang orang asing.. Kita pun ngekor rombongan ini yang kemudian bertanya ke kantor polisi di stasiun dalam bahasa Italia. Ternyata memang tidak ada kereta langsung ke Milan. Kita harus naik satu kereta menuju salah satu kota terdekat Milan baru kemudian pindah lagi ke kereta menuju Milan. Dan dua kereta tersebut adalah kereta terakhir. Ohhh.. mamamia.. cobaan apalagi inih! Akhirnya kereta yang ditunggu tiba, kita dan rombongan Italia berbondong-bondong menyerbu gerbong mencari tempat duduk. Untungnya kereta ini lengang jadi tidak begitu susah bagi rombongan kita untuk menguasai gerbong.

DSC08875Kita akhirnya tiba di Milan lewat tengah malam setelah sebelumnya transit di sebuah kota yang aku lupa namanya. Kesan pertama dengan stasiun utama kota Milan, sungguh megah! Stasiun ini sangat luas dengan bangunan yang besar dan tinggi menjulang. Sungguh tidak bisa dipercaya, ¬†negara dengan bangunan semegah ini terpuruk dalam krisis ekonomi Eropa! Lelah dan¬†ngantuk adalah perpaduan yang sempurna untuk menambah kebutaan akan¬†arah di sebuah kota yang baru dijelajah. Yup, kami pun hanya mengikuti petunjuk arah ‘uscita’ yang artinya pintu keluar untuk mencari exit dari stasiun yang suber luas ini. Setelah bertanya pada polisi Italia dengan bahasa tarsan (karena mereka tidak bisa bahasa Inggris) akhirnya kita menemukan pintu keluar dan memutuskan untuk berjalan kaki menuju hotel yang tidak jauh dari stasiun.

DSC08891Senang sekali akhirnya kita setelah menyeret koper dan memanggul ransel akhirnya ketemu kasur super empuk dengan ruangan luxurius yang besar di NH Grand Hotel Verdi yang beralamat di¬†Via Melchiorre Gioia 6, Milaan. Chain hotel bintang empat ini sebenarnya difokuskan untuk para bussinessman yang sedang dalam perjalanan dinas. Maka nggak heran kalo interior hotel NH dibentuk minimalis dan modern sesuai konsep orang-orang bisnis yang mobile. Dengan harga 138 Euro per malam, kita bisa mendapatkan kamar Superior double room berukuran 30 meter persegi, lengkap dengan bathroom dan sofa. Buru-buru kita menyerbu kasur empuk dan terlelap tanpa hitungan menit ūüôā

 DSC08889

Pagi hari kita sarapan dengan menu komplit lalu pergi ke stasiun metro terdekat untuk menuju pusat kota Milan. Tidak susah untuk mengenakan transportasi umum di kota pusat fashion dunia ini. Metro sudah terintegrasi dengan baik dan sangat efektif menuju pusat-pusat wisata kota Milan. Sayangnya kita hanya punya waktu beberapa jam sebelum penerbangan pulang ke Belanda. Jadi kita putuskan untuk melihat Duomo dan shopping centre icon kota Milan yang terkenal saja. Bagi para penggemar klub sepak bola asal Milan maap ya, kita nggak mampir ke stadionnya.. Lagipula, dengar-dengar dari cerita teman yang pernah ke sana, stadion tersebut dilarang dimasuki oleh orang luar bila ngga ada pertandingan sepakbola yang sedang berlangsung. Sungguh berbeda dengan stadion Real Madrid, Barcelona maupun Ajax Amsterdam yang menawarkan tour lengkap beserta museum yang dapat dikunjungi oleh para fans fanatiknya.

DSC08901 DSC08900

Pasangan kasmaran yang sedang ‘ditipu’ fotografer keliling

Kita keluar di stasiun metro Duomo. Setelah menelusuru arah ‘uscita‘ alias exit, kita pun menaiki ekskalator yang ketika keluar sudah disambut Duomo terkenal milan! Warna putihnya yang terang nggak bisa dipungkiri lagi terbuat dari marmer putih yang silau ketika terkena kilauan cahaya matahari. Duomo yang indah ini begitu padu dengan kemegahan kota Milan. Sejenak kita duduk menikmati suasana di palazo Milan sambil memperhatikan turis-turis yang lalu lalang. Sedikit berbeda dengan kota-kota lain di Italia, orang-orang yang lalu lalang di Milan lebih beragam. Berbagai macam suku bangasa seperti asia, arab, asia timur maupun tenggara pun berpadu dalam lalu lintas kota Milan di hari minggu. Oh ya, ada hal yang sangat menarik yang kita perhatikan. Masih ingat tips yang pernah aku sarankan di tulisan Tips jalan-jalan ke Italia tentang jangan menerima biji jagung untuk makan merpati¬†serta jangan mau dibantu di foto oleh orang asing? Nah.. kebetulan kita mendapati pasangan kekasih yang sedang kasmaran yang melakukan dua kesalahan fatal tersebut secara bersamaan! Bukan hanya menerima pemberian biji jagung, pasangan ini bergaya memberi makan merpati-merpati yang difotokan oleh orang asing! Aku dan kangmas seperti pada waktu di Trevi Fountain, asyik aja memperhatikan pasangan itu. Sama seperti pasangan di Trevi Fountain Roma, awalnya mereka bahagia tertawa ceria penuh asmara ketika berfoto dikerubuti merpati-merpati. Lalu sejenak kemudian ketika puas berfoto, mimik mereka berubah karena tentunya sang fotografer dadakan itu meminta sejumlah uang ‘jasa’.¬† Ckckck… ada-ada aja ya..¬†

DSC08952Puas menikmati pemandangan lalu lalang turis sambil makan gelato, kita pun bergegas menuju Galleria, pusat shopping dan fashion dunia yang lokasinya tidak jauh dari tempat kita duduk maupun Duomo.¬†¬†Di sini terhampar toko-toko dengan barang-barang branded dunia seperti Luis Vuiiton, Pradha, Versacce, Guci, dan teman-temannya. Galleria ini sendiri sangat menarik dengan arsitektur yang begitu indah.Nama Galleria Vitorio Emanuelle II dipilih sebagai penghormatan terhadap raja pertama kerajaan Italia. Galleria ini juga merupakan pusat perbelanjaan¬†tertua di Italia yang dibangun sejak tahun 1861. Di tengah-tengah Galleria terdapat mosaik bergambar banteng di lantai yang adalah juga coat of arm Turin. Dalam mosaik banteng tersebut terdapat mitos menarik¬†yang dipercaya sejak jaman kuno. Di mana jika¬†kita¬†bertumpu pada pergelangan kaki kanan dan menginjakkannya di bagian genital si banteng sambil berputar tiga berputaran maka keberuntungan akan¬†menyelimuti kita. Akibat mitos ini banyak turis kemudian berbondong-bondong menginjakkan kaki di mosaik banteng dan berputar-putar di tengah galeria Milan.¬†Mungkin saking terlalu banyak orang yang berputar di situ¬†akibatnya terdapat lubang besar di bagian genital mosaik banteng tersebut. ckckck…

 557367_3892834671879_2093794462_n DSC08941

¬†Puas berkeliling Galleria, kita kembali lagi ke Piazza del Duomo. Untuk sekali lagikita ¬†duduk sejenak menikmati Duomo sambil merekam erat momen kebersamaan¬†ini dalam ingatan.¬†¬†Nggak terasa waktu berlalu begitu cepat. Di piazza inilah kita tutup cerita liburan musim panas tahun 2012. Dengan ini pula ternyata kita lolos ujian suhu udara terpanas 40 derajat celcius ditambah serbuan ribuan turis di mana pun kita berada. Kita juga lolos dari tipu muslihat para pencari euro di Italia macam tukang foto keliling ;p¬†Walau bertemu tidak sedikit orang Italia menyebalkan di kota Roma tapi itu nggak menutup kesuka-citaan kita menikmati setiap jengkal keindahan yang telah disuguhkan Italia. Mulai dari bangunan bersejarah, pemandangan Toscany yang sering diabadikan oleh pelukis terkenal maupun menikmati terik matahari di pantai Mediterania-nya. Dan yang nggak kalah menyenangkan tentunya mencoba aneka pasta dan pizza yang super lezat¬†serta menikmati 27 skoop gellato dalam 9 hari perjalanan kami! Mengingat koin rupiah telah kami lemparkan bersama di Fontana de Trevi, kami pun yakin bahwa kami akan kembali suatu saat nanti! Arrivederci Italia… ūüôā

DSC08912

  DSC08939

380541_3892823791607_1987694702_n

 

Italia 10: Cinque Terre

Salah satu daerah wisata di Italia yang ngga kalah cantik untuk dikunjungi adalah Cinque Terre. Dalam bahasa Italia, Cinque artinya lima (5) dan Terre artinya Desa. Kata ini memang menunjuk pada lima desa nelayan Italia yang terkenal akan keindahan lanscape pantai mediteranianya. Lima desa itu adalah: Monterosso, Vernazza, Corniglia, Manarola, Riomaggiore.

Seusai chek out dari kastil Malaspina, kita menuju hotel yang telah kita booking sebelumnya. Sayangnya karena memasuki musim panas dan high season, mayoritas hotel di dalam lima desa tersebut udah penuh. Jadi terpaksa kita pilih salah satu hotel yang letaknya jauh di luar Cinque Terre. Hotel ini memang lumayan dengan breafast yang lezat tapi aku nggak begitu merekomendasikan bagi anda yang tidak membawa kendaraan pribadi. Karena jarak dari hotel ke stasiun kereta terdekat untuk menuju Cinque Terre adalah sekitar 45 menit. Stasiun kereta? Yup! Di Cinque Terre dilarang mengendarai kendaraan pribadi utamanya mobil. Untuk menuju kelima desa itu hanya bisa ditempuh menggunakan kereta api. Maka kita pun harus memparkir mobil di stasiun kereta terdekat di kota Levanto untuk selanjutnya menuju Cinque Terre dengan kereta api. Harga tiket Cinque Terre Trenno adalah 10 euro berlaku sampai pukul 00.00 setelah diaktivasi di mesin validasi stasiun. Kita bebas keluar masuk kereta bolak balik menuju 5 desa tersebut bila kita telah memegang Cinque Terre Treno.

RIOMAGGIORE

Hari pertama seusai check in kita pun menuju Riomaggiore. Tempat ini kita pilih karena sebagai lokasi terjauh Cinque Terre bila di tempuh dari Levanto. Jarak antara stasiun kereta Riomaggiore ke pantai utama tujuan wisata desa ini dapat ditempuh sekitar 10 menit berjalan kaki. Rumah dengan cat warna-warni di palung laut adalah hal yang sangat khas dan diburu para photographer. Palungnya nggak seberapa lebar sih, tapi lumayan lah buat celup-celup kaki ūüôā Apalagi mengingat sengat matahari musim panas Italia bisa begitu kejamnya mencabik kulit. Lalu berjalan-jalan sebentar di kota Riomaggiore juga sangat menyenangkan. Pantas saja mobil tidak diijinkan memasuki wilayah Cinque Terre. Lha wong selain jalanannya yang sempit, lokasinya juga di tebing batu. Di sini juga terdapat banyak tempat makan yang bisa kita pilih sesuai budget kita masing-masing.¬†Sedangan aku dan¬†ayank sepakat¬†pilih beli pasta take away dan maemnya entar di pinggir pantai sambil menikmati sunset. Sound romantic? ūüėČ

Yang menarik dari Riomaggiore terutama bagi pasangan yang sedang kasmaran adalah¬†adanya Via dell`Amore, kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia¬†artinya ¬†jalan cinta. Jalan ini sebenarnya merupakan penghubung dari Riomaggiore menuju Manarola, dapat ditempuh sekitar 45 menit. Dengan landscape laut di sebelah kiri kita, membuat suasana romantis berjalan-jalan sore dengan pasangan terkasih ūüôā Terdapat banyak gembok cinta yang dipasang sepanjang jalan cinta ini sebagai tradisi di eropa seperti juga di jembatan Firenze.¬†Sayangnya, bila kita datang sebelum jam 5 sore, kita akan dipungut biaya bila ingin melewati via dell`Amore. Tapi bagi kita pemegang Cinque Terre Treno pass, jangan khawatir karena kita nggak perlu bayar. Nggak mau capek-capek jalan kaki¬†45 menit menuju Manarola? Tenang aja, kita boleh¬†balik lagi kok ke Riomaggiore trus naek kereta aja ke Manarolanya ūüėČ Ada cerita menarik ketika kami berhenti sejenak di salah satu sudut Via Dell`Amore. Sambil memandang lautan, sebenarnya kami sedang berbincang apakah kami akan melanjutkan perjalanan menyusuri Via Dell`Amore menuju Manarola ataukah balik saja ke Riomaggiore mumpung belum begitu jauh. Belum selesai si Schatje mengemukakan opsinya, aku memotong dan pilih balik ke Riomaggiore dengan alasan cuaca panas. Schat pun berkomentar, “Waduh kamu ini kok romantis banget sih, kita lagi jalan di jalan cinta, belum setengah jalan kamu minta balik karena panas..” Nah lagi asyik-asyik nya ngeyel-ngeyelan tuh, tiba-tiba ada mbak bule lewat yang kemudian nyamperin kami sambil bilang, “Wah.. you both¬†is so romantic couple! Dont you want to making picture here? I`ll help you¬†for taking it..” Kami pun melongo sesaat sebelum akhirnya memberikan kamera kami. Melongo? Ya iyalah.. Lha wong kami merasa sedang berdebat bukan sedang rayu-rayuan. Selain itu perjalanan di Roma membuat kami begitu anti menyerahkan kamera ke orang asing karena banyak copet dan penipu yang ujung-ujungnya minta duit. Tapi melihat mbak bule itu sepertinya dia juga turis seperti kami yang cuma spontan menawarkan bantuannya. Maka kami pun menyerahkan kamera kami. Seusai mbak bule itu memotret kami, dia pun pergi sambil sebelumnya mengucapkan “Have a nice evening” yang telah kami jawab dengan terimakasih tentunya.

Selesai jalan-jalan romantis di Via dell`Amore, kita pun menikmati sunset di palung Riomaggiore sambil menyantap Pastap terterolo dengan pesto dan spageti seafood. The day was just perfectly wonderfull!¬† Then we go back to our hotel and have a nice and relaxing sleep ūüôā

 

MANAROLA

Dari ke-lima desa, favoritku adalah Manarola. Jarak antara stasiun kereta Manarola dengan palung pusat wisata tidak seberapa jauh. Kita hanya menyusuri jalan perkampungan nelayan sekitar 5 menit saja. Bila kita ingin berenang, Manarola adalah palung yang tepat selain karena tidak terlalu banyak turis, palungnya juga sedikit lebih besar daripada Riomaggiore. Saking indahnya Manarola sepertinya kata-kata nggak cukup mewakili..cieh.. Ok aku bagi foto-foto aja ya.. Enjoy it! ūüôā

 

  

VERNAZZA

Jangan kaget dan nggak usah norak kalo liat mbak-mbak bule pada berjemur tanpa bikini ya alias topless. Pemandangan seperti ini sepertinya biasa saja dan banyak ditemui baik di Riomaggiore, Vernazza maupun Monterosso. Mereka berbaring saja dengan cuek diantara puluhan orang lain yang juga berbaring sunbathing. Kadang tengkurap tapi nggak jarang juga telentang tanpa menghiraukan orang lain yang hiruk pikuk berjalan di sekitarnya. Awas ya jangan pada ngeres itu otak! ;p Tapi yang menarik, orang-orang yang lalu lalang juga pada cuek aja tuh ada cewek topless terlentang ;D Mungkin hanya orang asia khususnya Indonesia seperti saya yang rada ribut sendiri, mencoba menalar apa isi pikiran mbak-mbak itu.

 DSC08750 DSC08769

DSC08811Kalau orang lain berjemur matahari,¬†Aku memilih mencari tempat yang rindang dan tak lupa memakai topi. Kulit¬†ku thoh sudah cukup eksotis, nanti malah jadi gosong kalau Aku ikut-ikutan mereka berjemur matahari. Di Vernazza kita duduk sejenak menikmati suasana Cinque Terre, suara laut, debur ombak, hembusan angin mediterania dan bangunan warna-warni yang khas. Sambil terbawa suasana syahdu, aku pun menengok si teman perjalanan kesayanganku yang duduk¬†disampingku. Owalaaah… malah bablas bobok tho! -_-”

  DSC08813

MONTEROSSO

Pantai Monterosso diintip dari stasiunKeluar dari stasiun Monteroso, kita langsung dapat melihat objek utama di lokasi ini. Berbeda dengan ke-empat temannya, Monterosso lebih seperti pantai dengan hamparan pasir putih yang sudah diduduki payung-payung dan penuh sesak oleh turis-turis sunbathing. Pasir di bibir pantai ini pun sudah tertutup oleh puluhan dan mungkin ratusan manusia telungkup dan telentang. Kita dari awal memang nggak ada niat buat berjemur sih jadi nggak bawa peralatan berjemur juga. Tapi berenang di pantainya kok sepertinya menggoda ya…

DSC08829“Yank, aku pingin berenang di pantai..” Kataku mengawali perbincangan.

“Oh… trus gimana kamu nanti ngeringin badan? Kan kita nggak bawa handuk..”, jawabnya.

“Ya biar aja ntar kan bisa kering sendiri airnya..” Aku bayangkan seperti biasanya aku dan teman-teman maen di Parang Tritis Yogyakarta. Sambil lari-larian di pantai dan sedikit-sedikit main ombak. Duduk di pantai lagi main gitar sambil nyanyi trus balik lagi nyebur ke ombak. Pulang-pulang biasanya kita basah kuyup tapi¬†sesampai di Jogja kota baju dan badan kami sudah kering seperti sedia kala.¬†I miss that moment!

“OOh.. Nah! Itulah yang kami orang eropa iri dari kalian!”

“Iri apa?” jawabku bingung.

“Itu, yang kamu bisa berenang di laut trus airnya kering sendiri. Kita nggak bisa seperti itu. Kalau berenang di laut yang otomatis kena sinar matahari langsung, kulit kami jadi merah. Kalau kelamaan, kulit merah itu bisa sakit dan mengelupas. Itulah yang disebut sebagai ‘sun-burn’. Kami harus bilas air tawar. Kalau nyebur lagi ke laut, bisa dibayangkan perihnya kulit yang mengelupas itu terkena air garam.”

“Lha trus orang-orang ini kok pada suka sunbathing ya?” jawabku bingung.

“Itulah.. mereka rela sakit-sakit padahal kulit mereka nggak akan pernah secoklat kulit kamu. Paling menthog warnanya ya merah, bukan coklat. Ada dua jenis kulit, pertama kulit yang seperti orang Italia, Spanyol dan Amerika latin, kalau mereka berjemur sebentar saja, mereka bisa jadi ‘tan‘ alias kecoklatan. Tapi kulit-kulit seperti kulitku, orang Skandinavia, Inggris, Jerman dan sejenisnya, paling-paling cuma bisa merah dan mengelupas. Butuh waktu berjam-jam untuk bisa meninggalkan efek ‘tan‘ di kulit kami sambil terbakar matahari. Rasa sakit terbakarnya itu akan kerasa 2 sampai 3 hari pasca sunbathing. Tapi ya mereka tetep aja berusaha mencoklatkan kulit seperti yang kamu lihat sekarang.. Dan kegiatan ini cuma bisa kami lakukan¬†sekali dalam setahun, pas di musim panas aja tentunya. Makanya kita iri sama kulitmu.”

Percakapan kami membuat¬†aku berpikir sejenak dan bersyukur diberi anugrah kulit yang kuat terkena matahari. Sesuatu yang sederhana yang jarang kita sadari ternyata begitu besar manfaatnya. Kita justru mengeluh punya warna kulit idaman dan sibuk memutih dan mempucatkan kulit. Padahal orang-orang di belahan bumi yang lain sibuk bersakit-sakit menginginkan warna kulit seperti milik kita yang eksotis, kulit kuning langsat & sawo matang.. ūüėČ

DSC08831DSC08830

Hari sudah menjelang sore,Corniglia mustahil untuk kita datangi. Selain karena waktu yang mepet, lokasi Corniglia berbeda dari ke-4 desa lainnya. Corniglia terletak di tebing bukit. Untuk mencapai ke sana selalin dengan kereta kita pun harus menyambung lagi dengan bus umum. Maka kita skip Corniglia dan memutuskan segera kembali ke Levanto kemudian melanjutkan perjalanan menuju Genoa dan Milan. Tak terasa waktu berlalu begitu cepatnya dan esok hari adalah hari terakhir perjalanan kita di Italia.

Italia 9: Pisa dan Lucca

Pagi yang cerah, kita berangkat dari Fosdinovo menuju Pisa dan Lucca. Jarak Fosdinovo menuju Pisa mungkin sekitar satu setengah jam, sedangkan dari Pisa menuju Lucca dapat ditempuh selama 30 menit saja. Arah yang kita pilih adalah yang melewati Carrara Marble Mountain. Persis seperti namanya dong, gunung ini adalah penghasil batu marmernya negara Italia. Dari gunung marmer inilah bangunan-bangunan megah Italia dibangun, dari Duomo indah di seantero negeri, pilar-pilar istana, patung-patung artistik sampe jalanan yang dibuat dari marmer kasar kemungkinan besar diangkut dari batuan di gunung ini. Yang bikin herannya itu, kok bisa ya si marmer masih aja tersedia di gunung ini padahal sudah ribuan tahun diambil, tepatnya sejak jaman romawi kuno. Jadi bisa kita bayangkan betapa besarnya gunung marmer ini aselinya di jaman itu ketika belum diambil batunya buat jadi Duomo, kastil, patung dan semua bangunan marmer Italia.

 

Puas terpukau menikmati keindahan gunung marmer, kita pun melanjutkan perjalanan menuju Pisa. Sayangnya pemandangan Toscany yang indah, aku lewatkan begitu saja karena rasa kantuk yang teramat dalam. Aku pun pulas bobo di samping pak kusir yang sedang bekerja mengendarai kuda supaya baik jalannya.. hey! ;p

Bangun-bangun, si kangmas udah parkir mobil dan si¬†menara condong itu udah ngintip di balik pepohonan! Waduh aku senangnya bukan maen.. Kita pun jalan tak sampai lima menit menuju menara condong yang terkenal tersebut. Kesan pertama nyampai di Pisa? Turisnya booo uju busyet! Kayaknya turis yang ada di Roma pada menyerbu ke Pisa juga di hari ini! ckckck… Tapi ngga apa-apa, hal itu tetep ngga mengurangi kegembiraan hati kita menatap langsung menara condong ini yang sebenarnya tak lebih dari kesalahan¬† konstruksi. Kesalahan konstruksi? Yup betul. Sedari awalnya menara ini direncanakan untuk berdiri tegak biasa saja. Namun ketika pendiriannya terdapat kesalahan konstruksi sehingga ia pun menjadi condong alias miring. Yang justru hal tersebutlah membuat Duomo¬†beserta menara ini punya daya tarik tersendiri dan terkenal di dunia. Bahan bangunan penyusun bangunan ini jangan ditanya lagi. Tentunya marmer yang diangkut dari Cararra Marble Mountain. Dindingnya aseli marmer semua. Makanya kita bisa lihat warna putih yang cerah mencolok dari dinding ini.

  

Nggak banyak yang bisa dilihat di Pisa. Karena selain Duomo dan menara condong, tidak banyak objek menarik yang bisa dilihat di pusat kota ini. Bahkan beberapa teman yang pernah maen ke Italia menyarankan kalo mau cari penginapan mending ke Firenze yang juga dekat dengan Pisa. Selesai berkeliling, berfoto dan duduk sejenak menikmati suasana, kita pun pergi menuju Lucca.

LUCCA

Kota ini terkenal dengan bentuk lingkaran pada pusat kota tua nya. Menemukan pusat kota tua yang berbentuk lingkaran ini merupakan tantangan tersendiri. Pasalnya, jalanan kecil menyerupai labirin akan terlihat mirip satu sama lain yang kemudian bisa mengaburkan pikiran nalar kita. Awalnya aku pun sangat terpesona dengan desain kota Lucca yang unik ini. Aku berpikir betapa jeniusnya penggagas tata kota ini. Bila ada musuh datang menyerang mungkin mereka akan bingung menuju pusat kotanya. Ternyata eh ternyata ada rahasia dibalik pembangunan tata kota lingkaran ini. Aku bocorin enggak ya enaknya? ;p

 

 

    

Rahasinya adalah¬†rumah-rumah yang dibangun di daerah ini berdiri di atas Amphi Teathre Romawi kuno.¬†Yep, bangunan semacam Coloseo di Roma. Inilah yang jadi hal menarik di Italia. Situs purbakala yang seharusnya menjadi sejarah bangsa, ditumpuk bangunan begitu saja karena jaman telah berubah dan manusia butuh tempat tinggal. Suatu dilema yang sangat miris seperti ini sebenarnya sudah sering terjadi di berbagai tempat lain di Italia terutama di kota Roma. Manusia di jaman¬†ini membuat bangunan baru diatas peninggalan sejarah bangunan Romawi kuno. Terkadang bila¬†ada orang bikin pondasi mau bikin rumah, mereka juga nemuin situs sejarah. Tapi thoh mereka cuek saja dan tetap terus membangun bangunan ūüôā Tapi ya mau disalahin gimana lagi, thoh kalau kita pikir keseluruhan kota Roma itu peninggalan peradaban Romawi. Alias di bawah tanah setiap jengkal kota Roma terdapat situs sejarah peninggalan Romawi kuno. Bahkan jalan raya di¬†samping Coloseo dan Forum Romana juga¬†terpaksa dibangun di atas situs sejarah. Kembali ke pusat kota Lucca, kita masih bisa melihat batu-batu jaman Romawi kuno yang masih kokoh menempel di pondasi perumahan. Jadi bginilah bila Amphi teather yang¬†melingkar itu di jadiin pondasiperumahan. Hasilnya adalah kota Lucca! Tapi jangan sampai ya kita bangun rumah di atas candi borobudur atau candi prambanan! ūüėČ

Kita pun menikmati keriangan di pusat kota Lucca yang bulat ini dengan sepiring risoto seafoods dan pasta Italia yang lezat. Serta tak lupa tiga scoop gelato sebagai desert tentunya! Sekitar pukul 12 malam, kita pulang menuju Kastil Fosdinovo. Masih 2 jam perjalanan menanti kita sebelum bisa tidur lelap di kasur empuk.

City centre Lucca.

Source: google

 

 

 

 

Italia 8: Kastil Malaspina Fosdinovo, Kisah cinta yang terluka hantu Italia

Di Eropa kira-kira ada hantu nggak ya? Orang eropa kan rata-rata nggak percaya hantu gitu..! Ah masak sih? Percaya nggak percaya, kebetulan kita ada cerita yang cukup membuat bulu kuduk berdiri macam di film-film thriller. Penasaran kayak apa hantu Italia? Tulisan kali ini ber-setting di desa Fosdinovo tentang Malaspina Castle yang menyimpan sejarah bisu abad pertengahan. Selamat menikmati ūüôā

Malaspina Castle Fosdinovo

Mayoritas pembookingan hotel dalam liburan di Italia ini kita lakukan melalui internet jauh-jauh hari sebelum keberanggkatan. Terdapat berbagai macam situs pembookingan hotel yang bisa kita pakai seperti, booking dot com, agoda dot com, hostels dot com, expedia dan lain-lain. Schat sendiri sudah langganan booking dot com dari lama. Beberapa hotel ada yang minta pinalti berupa uang kalau kita melakukan pembatalan pemesanan, tapi beberapa hotel yang lain free of charge pembatalan sebelum 7 hari kedatangan. Semua tergantung aturan pihak hotelnya masing-masing. Waktu di Belanda sebenernya, rencana kita mau nginap di Firenze dua (2) malam di BB yang sama bahkan kita juga sudah pesan. Sampai suatu hari schatje menemukan Malaspina Castle Bed and Breakfast di daerah Fosdinovo. Jalur yang smpurna dari Firenze menuju Cinque Terre melewati Carrara Mountain of Marble. Dari BB Castle ini juga nggak seberapa jauh dari Pisa dan Lucca, sekitar 1 jam perjalanan. Jadilah kita sepakat untuk membatalkan pemesanan 1 hari Firenze dan membooking Malaspina Castle BB selama 2 malam dengan tarif 110 Euro/malam, tanpa sebelumnya mengecek latar belakang sejarah kastil ini di internet maupun buku.

Dari Firenze kita meluncur menuju Fosdinovo. Lama perjalanan idealnya satu setengah jam. Karena keasyikan, kita baru pergi dari Firenze jam 18.00. Diperkirakan jam setengah 8 malam kita bisa nyampai di Malaspina Castle BB. Ada satu hal yang ngebuat kita cemas karena pihak BB nggak bisa dihubungi sedangkan jam maksimum check in adalah sekitar jam 19.00. Sehingga kita sama sekali nggak bisa memberitahukan kemungkinan keterlambatan check in.

Perjalanan menuju Fosdinovo ini cukup berliku. Mobil kita menerjang pedesaan Tuscany dan meliuk-liuk khas perjalanan di area pegunungan. Yang menarik dari perjalanan ini tentu saja kita bisa menikmati landscape Tuscany yang terkenal itu: kebun anggur, kebun bunga matahari yang oranye indah, sekaligus desa-desa Italia yang damai jauh dari hinggar bingar keramaian kota dan turis. Di puncak perjalanan di atas gunung, dari kejauhan kita lihat ada kastil tua yang besar. Aku dan Schatje mulai menebak-nebak karena kita udah mulai hampir tersesat.

Me: “Kira-kira di mana ya Yank kastilnya? Itu kali ya yang di atas bukit itu..”

Schat: “Ah.. enggak ah.. Nggak mungkin yang itu. Itu kan Kastil beneran!”

*Semakin dekat,, semakin dekat…*

Me: (membaca papan nama) “Iya yank!! Yang itu kastil kita!!!”

Schat: (kaget)

Kenapa kita kaget? Karena kita berdua nggak nyangka kalu BB yang kita pesan adalah benar-benar kastil! Batu-batu besar, pintu gerbang kayu, baju zirah perang, sebutin aja satu-satu semua ada! Pas kita nyampai, pintu gerbang utama Kastil udah ditutup. Kita nekat aja masuk ke pintu yang belum dikunci. Melewati tangga batu dan mencoba menuju ke ruangan terdekat sambil pangil-panggil apa ada orang di sana. Beruntung, ada perempuan muda Italia yang sangat ramah membukakan pintu. Dia adalah resepsionis BB yang sudah mau pulang. Lima menit aja kita telat kethok pintu, kita mungkin nggak bisa check in karena nggak ada pekerja yang tinggal di BB. Cuma ada satu orang penjaga kunci yang nggak tahu menahu tentang administrasi BB.

Perempuan muda ini mengantarkan kita ke kamar yang telah kita pesan. Perjalanan menuju kamar ini sangatlah panjang. Dari ruangan resepsionis, kita memasuki pintu kayu besar menuju salah satu ruangan di sayap kiri kastil. Lalu kita harus melewati lorong dan menaiki tangga kecil. Pemandangan di ruangan ini adalah senjata perang dan benda tajam jaman pertengahan. Lalu kita diajak melewati sebuah ruang tengah lengkap dengan meja besar ditengah dan kursi perjamuan. Dinding ruang tengah ini dihiasi sekitar delapan buah lukisan besar keluarga Malaspina lengkap dengan baju tradisional abad pertengahan. Belum sampai juga, kita harus menaiki tangga dan melewati lorong dengan pemandangan indah dari jendelanya, pemandangan desa Fosdinovo dan Tuscany dari atas. Matahari terbenam pun dapat kita nikmati dengan semburat yang sangat indah dari arah jendela ini menghadap. Akhirnya, tinggal satu belokan lagi menaiki tangga menuju lorong kamar kita. Ada 2 kamar yang lain yang kita lewati sebelum nyampai di kamar pesanan kita. Kamar pertama di dekat lorong, dihuni oleh satu orang penyewa. Kamar selanjutnya kosong. Sedangkan kamar ketiga adalah kamar kita yang cukup luas dan nyaman dengan kamar mandi dalam yang sama luasnya seperti kamar tersendiri.

 

 

 

Perempuan muda ini pun menjelaskan peraturan BB seperti makan pagi siap dari jam 8 hingga jam 10 pagi di teras dekat ruang tengah, diharuskan mematikan lampu ketika meninggalkan ruangan manapun di dalam kastil dan bila kita tersesat, ada lonceng di halaman tengah yang bisa kita bunyikan untuk memanggil penjaga kunci. Selesai menjelaskan, perempuan muda ini pun pamit dengan sopan. Suasana pun senyap seketika… Aku yang awalnya excited¬†tinggal di Kastil beneran, sekarang nyalinya menciut. Suasana senja memang sangat indah tapi sunyi di Kastil ini sungguh lain cerita ūüė¶ Belum lagi, aku baca petunjuk aturan kamar sial*n yang di point terakhirnya bilang: “If you meet a ghost, don’t worry, he is a good ghost!”

Kita belum makan seharian dan pihak BB tidak menyediakan fasilitas makan malam.¬†Sebelum memasuki Kastil, kita emang lihat ada restaurant cukup nyaman di samping kastil. Aku pinginya, kita segera maem trus cepet-cepet balik ngumpet di kamar. Kalau bisa baliknya sebelum cahaya matahari¬†hilang biar kita¬†nggak gelap-gelapan menyusuri jalur panjang menuju kamar ūüė¶ Gelap-gelapan? Yep, gelap literally! Masih inget dong aturan yang disampein si resepsionis: diharuskan mematikan lampu setiap kali meninggalkan ruangan manapun di kastil. Peraturan tersebut membuat kastil ini selalu dalam keadaan gelap gulita! Termasuk semua lorong-lorongnya! Kita hanya dibekali senter kecil untuk mencari jejak. Kerasa deh kayak uji nyali: silahkan mencari kamar masing-masing dengan bekal senter kecil, kalo tersesat silakan cari lonceng. Kalau ketemu hantu…ups, berarti anda sedang tidak beruntung! -_-

Yang bikin keselnya, si ayank ternyata tidak merasakan ketakutan seperti yang aku rasakan. Dia malah santai-santai aja menikmati empuknya ranjang kamar. “Duh.. enak ya.. nggak nyangka ternyata beneran Kastil aseli!”, ucapnya sambil enak-enak rebahan. Aku sendiri mau kesel ya gimana lagi thoh dia habis nyupir seharian mungkin capek. Nggak bisa disalahin juga kalo dia asik-asik rebahan di kasur.

Me: “Yank.. maem yuk ke bawah..”

Schat: “..zzzzzttttttt….” boboklah dia.

(20 menit kemudian)

Schat: “Maem yuk!”

Me: (cemberut parah) “Ogah! Nggak laper!” (sambil ngebayangin ogah gelap-gelapan kelayapan di Kastil)

Schat: “Kamu gimana sih tadi ributin ajak makan.. sekarang diajak makan nggak mau… Ya udah, pokoknya aku mau makan. Kalau kamu nggak mau ikut, aku tinggal di sini..”

Me: “Ogaaah.. aku ikut makan deh!”

Lalu keluarlah kami dari sarang. Untungnya sinar matahari masih sedikit tertinggal jadi kita bisa jalan tanpa harus menghidupkan senter. Setelah melewati berbagai macam lorong, akhirnya sampailah kita di pintu kayu besar menuju taman belakang kastil dan selanjutnya menyusuri taman melewati pintu keluar Kastil. Letak restoranya memang sangat dekat. Restauran ini sudah ramai dipenuhi turis yang aku tidak tau mereka tinggal di mana.. hanya berharap kalau mereka tinggal di Kastil juga biar bisa balik bareng-bareng ke Kastil.. Dasar penakut! hehehe..

Masakannya? Hmmm… nggak ada kata lain selain “Lezzzatt!” yang bisa menggambarkan rasa masakan ini. Aku pesan appetizer berupa salad yang berisi rucola, pine seeds¬†kacang khas¬†italia, olive oil¬†dan daging asap. Lalu main menunya aku pilih pasta testarolo dengan pesto hijau yang sangat kental dan ditutup dengan dessert, machiato italia yang sangat lezat. Semuanya sempurna! Setting restorannya sangat cozzy, hangat dan romantis. ¬†Untuk sejenak aku terlena dan melupakan bahwa kita harus balik gelap-gelapan ke Kastil tua yang usianya ribuan taon itu!

 

 

Waktu yang ditunggu pun datang juga. Kita balik menuju kastil dan sialnya kita sendirian. Nggak nampak satupun pengunjung restoran itu yang mungkin juga menghuni kastil ini. Oh sial.. aku merayap di tembok mencari-cari saklar di dinding. Lalu mematikan sakelar lagi setelah melewati ruangan. Begitu seterusnya, turn on-turn off sampai ke koridor kamar. Kita sempat¬†hampir tersesat karena banyaknya lorong dan mirip satu sama lain. Untungnya kita masih ditunjukkan jalan¬†yang benar, menuju kamar kita ūüėČ

Selamatlah kita di hari pertama¬†di kastil ribuan taun ini. Kita bobok lelap dan bangun¬†jam 8 pagi lalu sarapan. ¬†Usai sarapan rencananya kita mo cabut ke Pisa dan Lucca. Si Ayank bilang mau ke ruangan resepsionis dulu buat nanya jalur sedangkan aku pilih balik ke kamar sambil siapin barang-barang dan makanan yang mau di bawa dalam perjalanan. Udah satu jam-an lebih nunggu si Schatje kok nggak balik-balik ke kamar. Nyasar di mana dia ya..apa nanya rute butuh waktu yang lama ya…

Dua jam kemudian akhirnya si kangmas balik juga. “Aku habis keliling-keliling kastil tadi.. Semua ruangan yang nggak dikunci pintunya, aku masukin. Banyak ruangan yang bagus..”, cuma bisa geleng-geleng aku menanggapi polahnya itu!

 

 

¬†Akhirnya kita pun pergi ke Pisa dan Lucca. Menikmati sepanjang hari kita di kota menara condong dan kota lingkaran sampai lupa waktu. Lupa waktu? yep! lagi-lagi kita balik tengah malam ūüė¶ Aku sudah menyiapkan diri sepanjang perjalanan untuk gelap-gelap-an lagi masuk ke kastil tua yang indah di siang hari tapi serem kalo malam ituh! Jam menunjukkan pukul¬†1 (satu)¬†dini hari. Semakin mendekati kastil aku semakin uring-uringan cemberut dan diam karena ngeri. Si Meneer mah tetap aja semangat, kadang-kadang malah suka iseng. Udah tau suasana serem begitu, si Meneer matanya masih jelalatan ke ruangan yang gelap di pojok sambil komentar, “Eh lihat Yank! Ruangan itu serem ya…!”. Demi apa ya ni bocah! Aku cubit aja tangannya, aku suruh diem! ūüėÄ

Seperti malam lalu, kita merambat dalam gelap. Aku pilih berjalan di depan, karena takut kalo jalan di belakang nanti ada yang colek :p Yang paling aku khawatirin kalo-kalo pas nyalain lampu, tiba-tiba “surprise!” ada noni Italia ngasi kejutan ūüė¶ Aku mencoba sangat fokus dan tatapan mata yang enggak jahil. Terutama pas memasuki ruangan tengah itu yang banyak lukisannya. Bulu kuduk rasanya berdiri semua. Kayak-kayak banyak yang liatin gerak-gerik kita selama berjalan. -_- Untungnya kita selamat menuju kamar. Puihhhh… lega rasanya! ūüôā

Si kangmas pun langsung menuju tempat tidur dan rebahan. Dalam hitungan detik, doi udah pindah ke pulau mimpi dengan lelap. Aku sendiri asyik utak-atik internet. Maklum dapat wifi gratis di kamar dan kita bawa laptop. Rencananya aku ngga mau melek lama, khawatir kalo yang ‘nemenin’ ngajak ‘kenalan’. Tapi apa daya, kalo udah buka fb apalagi upload foto, bikin lupa ngantuk ūüėÄ Aku pun terjaga selama 2 jam dan baru tidur lelap jam 3 pagi, kebetulan pas si Meneer ngolet.

Jam sembilan pagi aku bangun dan si Meneer udah duluan bangun. Dia pun nanya, “Yank, semalem pas bobok, kamu kebangun lagi nggak?”. Aku kira itu pertanyaan biasa aja karena emang kebiasaan kita kalo bangun tidur suka nanyain, gimana boboknya? nyenyak nggak? bangun lagi nggak? mimpi apa? dan lain-lain. Dengan cuek aku jawab, enggak tuh! Obrolan pun pindah ketika kita breakfast di teras kastil. Kebetulan si mbak resepsionis ada di sana juga menjamu para tamu. Mungkin ada sekitar 4 pasang tamu yang lain yang menginap di BB ini. Tapi herannya, mereka semua kok ya nggak nampak ya kalo malam hari ūüė¶ Pas si mbak itu datang ke meja kita, si Meneer nanya, “Excuse me… tadi pagi sekitar jam 4 ada apa ya? Kok saya dengar suara berisik sekali. Seperti orang marah dan¬†banting pintu tapi terus-terusan. Ada sekitar satu jam saya dengar suara itu..”

Ooh.. Memang sedang ada reparasi di salah satu ruangan kastil, tapi tukangnya baru datang jam 8 pagi. Kalau anda dengarnya jam 4 pagi, I have no idea..” Kata si resepsionis sambil shock. Aku pun shock mendengar pertanyaan mendadak di Schatje. Sejenak si resepsionis pamit buat nanyain ke rekannya, kira-kira suara berisik itu datangnya dari mana. Si schatje pun nanya ke aku, “Yank, kamu percaya hantu¬†itu ada?”. Aku yang berasal dari negara timur dan penakut ini tentunya menganggukkan kepala. “Aku sumpah suara itu nyata, bukan mimpi. Kamu percaya kan ama aku?” lanjutnya lagi. Jadi setelah aku tidur, jam 4 pagi giliran si kangmas kebangun gara-gara suara itu. Suara seperti orang yang lagi ngamuk dan banting pintu berulang-ulang. Dari suara dan gemanya yang berat, menurut si Ayank itu pastilah pintu yang besar. Suara juga disinyalir dari dalam kastil, bukan dari arah luar, teras maupun taman.

Apa yang kamu lakuin pas dengar suara itu?”, tanyaku penasaran. Si ayank pun jawab, “Awalnya aku pingin keluar dan cari di mana sumber suaranya. Kalau memang itu hantu, aku pingin lihat. Tapi lama-lama suaranya makin kencang dan intens seperti orang ngamuk banget. Lalu aku putuskan untuk nggak keluar kamar.¬†Lalu beberapa saat kemudian, aku rasa seperti ada langkah kaki di lorong dan berhenti tepat di depan pintu kamar kita. Saat itu bulu kuduk rasanya berdiri semua! Aku lalu mencoba untuk kembali tenang dan tidur lagi.”

Si resepsionis pun balik dan menyampaikan kalau suara itu mungkin berasal dari pintu teras taman. Kamar kita kan dekat taman dan pintu di situ nggak pernah ditutup. Jadi menurut si resepsionis, mungkin anginlah yang membuat suara berisik dari pintu di pagi tadi. Walau hal ini kita bantah karena aku thoh masih tejaga sampai jam 3 pagi. Kalau memang itu karena angin, logikanya, apakah nggak ada angin selama aku terjaga 2 jam itu? Lalu si angin tiba-tiba datang 1 jam kemudian.. mustahil kan.. Capek berdebat dengan kami, akhirnya si resepsionis ngaku juga, “Don’t worry. She is a good ghost. She is the part of the family.” Jreneegg.. jreeeengggg!! Dia pun menambahkan, kadang ada tamu yang cerita kalau pintu kamarnya ada yang kethok-kethok pas tengah malam. Aku dan schat pun saling pandang.. Untung itu si hantu tadi malam cuma berdiri di depan pintu kamar, nggak ngethok-ngethok! Bahkan pernah ada reality show Ghost Hunters International yang khusus datang ke Italia untuk mencari pembuktian tentang hantu di Malaspina Castle ini. Acaranya semacam uji nyali dan paranormal activity sekitar 4 atau 5 pembawa acara yang disebar di spot terangker kastil dan merekam dengan kamera infra red. Hasilnya? Mereka menemukan suara horor. Lebih lanjut tentang acaranya, silahkan googling sendiri ya ūüôā

Beruntungnya, si horor mulai keluar di hari terakhir kami menghuni kastil. Kalau kejadian ini di hari pertama, kayaknya aku ogah balik tengah malah dan merambat di dinding kastil lagi ūüėÄ Tapi.. kok ya ada yang janggal ya. Aku terjaga hampir 2 jam tapi nggak didatengin hal aneh. Bukannya ngarep didatengin ya.. ini aja udah bersyukur ūüôā

Schat, ngomong-ngomong kenapa ya kok kamu yang didatengin horor nya? Padahal aku kebangun selama 2 jam. Kalo si horor mau, dia bisa aja datengin aku ya.. Tapi kenapa kok kayaknya dia spesifik hororin kamu aja? Apa yang kamu lakuin sebelumnya? Atau aku nebak, sebelumnya kamu memang pengen ketemu hantu di kastil ini?” pertanyaanku terlontar dengan penuh semangat. Schat pun terdiam sejenak.

Eeem….eem… sebenernya kamu betul. Awalnya aku penasaran pingin liat hantu. Makanya di hari sebelum kita berangkat ke Pisa, aku nyelonong ke seluruh penjuru kamar. Berharap nemuin ruangan paling angker yang kira-kira ada hantunya. Aku ketemu kok ruangan itu. Bikin bulu kuduk berdiri pas masuk di sana….”. Sekali lagi, aku pun cuma tepok jidat menanggapi polahnya.

Beberapa hari seudah balik ke Belanda, aku coba kumpulin info tentang kastil itu. Hasilnya sangat mencengangkan! Konon ceritanya ada¬†legenda rakyat yang berhembus di daerah Fosdinovo. Tentang seorang gadis di abad pertengahan, putri keluarga Malaspina namanya Bianca. Dengan¬†jiwa muda yang membara, ¬†Bianca yang cantik dan kaya ini jatuh cinta kepada pemuda biasa di desa setempat. Bagaikan gayung bersambut, pemuda itu pun membalas cinta Bianca. Jadilah sepang sejoli dalam balutan cinta muda yang menggelora, nekat dan keras kepala. Bak drama Romeo-Juliet, keluarga kaya Malaspina tidak merestui cinta sepasang kekasih ini. Keteguhan cinta Bianca diartikan sebagai pemberontakan terhadap keluarga besar Malaspina. Orangtua yang marah dan malu pun menghukum Bianca dengan mengurungnya di ruang bawah tanah bersama seekor anjing dan babi hutan. Anjing sebagai simbol kesetiaan cinta Bianca terhadap pemuda desa. Sedangkan babi hutan adalah sebagai simbol sikap pemberontakan dan keras kepala Bianca terhadap keluarga besarnya. Cerita Juliet yang dikurung dalam kastil ini awalnya hanyalah dongeng dari mulut ke mulut yang berhembus di sekitar desa. Hingga pada sekitar tahun 2000-an ketika sang pewaris kastil ingin merenovasi ruangan, dia menemukan tulang belulang perempuan, anjing dan babi hutan di ruangan bawah tanah. Maka dongeng yang cuma legenda ini¬†pun akhirnya menemukan bukti. Tulang tersebut disinyalir adalah milik Bianca. Sedangkan¬†hantu yang berkeliaran di kastil pun di duga adalah……¬† *jawab sendiri ya* ūüėČ

Selain menyimpan cerita misteri, kastil Malaspina juga menyimpan sejarah bisu abad pertengahan. Dante Alliegery yang di usir dari Firenze dikarenakan ajaran agamanya yang bertentangan dengan nasrani katholik Vatikan, diterima di kastil ini oleh bangsawan tuan rumah. Dante diijinkan tinggal di salah satu kamar di kastil malaspina, dilindungi dari serangan musuh dan diijinkan untuk menyebarkan agama sesuai keyakinannya di daerah desa Fosdinovo. Lukisan tentang Dante masih bisa ditemukan di dinding salah satu ruangan terkenal di kastil ini. Bahkan patung dan kamar Dante pun masih di jaga dan bisa dinikmati hingga saat ini.

Yang paling sayang adalah, aku sempat berkeliling di ¬†kastil ini di hari terakhir dan menyusuri lorong-lorong kamar. Tapi setelah di cek di Belanda, foto-foto itu nggak ada! Sampai sekarang, aku masih kehilangan file foto banyak sekali tentang kastil ini. Semoga ini cuma kesalahan teknis ya.. bukan karena ulah noni Italia yang ngambek. ūüėČ

-End-