Italia 4: Roma (II)

Hari ketiga di kota Roma, kita putuskan untuk menjelajah kota ini. Sebenernya ada banyak agenda dan tempat menarik yang ingin kami kunjungi seperti Coloseo, Forum Romana, Piaza Venezia, Fontana de Trevi, Pantheon, Piaza de la spagna, Piaza del papolo dan Museleum de Agustus. Tapi rasa-rasa nya jadwal terlalu padat hingga kami serahkan saja pada waktu. Just go with the flow and enjoy the highlight. Ngomong-ngomong soal Fontana de Trevi, ada cerita menarik di sabtu malam lalu ketika kami memutuskan untuk menghabiskan sisa malam dan dinner di sana seusai dari Castle d’Angelo. Masih inget kan di tulisan Italia 1 tentang ‘Dont do list’? Well, akhirnya kita ketemu juga yang macam begituan! ;D

Diantara kepadatan manusia-manusia yang berhiruk pikuk di Fontana de Trevi, kami membaur di sana dan berusaha membuat foto pasangan dengan posisi si kangmas ambil gambar kita dengan tangannya sendiri. Tiba-tiba datanglah fotografer lokal yang menawarkan bantuan “Can I help you with your camera?“, yang sepertinya baek ya. Tapi kami tidak tertipu, kami sudah tau trik mereka, then we sayNo!”. Tapi rupanya patah satu tumbuh seribu! Bukanya pada pergi ya si fotografer lokal itu malah berdatangan silih berganti nawarin ‘bantuan’ yang sama kepada cute couple yang sedang berusaha membuat foto romantic mereka di fontana ini ;p Dan ngeselinnya, mereka itu ngotot! Nawarin ‘bantuan’ kok ngotot ya! Plus makin lama makin berani maen serobot kamera aja lho! Sampe-sampe kita ngga bisa bikin foto bersama dengan tenang karena gangguan berdatangan silih berganti, bisa dibilang 5 kali lebih. Saking keselnya karena diganggu mulu ama orang-orang ini terutama sampe udah berani nyerobot kamera, akhirnya si Kangmas ngamuk juga. “No, we dont need your help! please go, leave us alone! If I see you once again you`ll find your own camera in the fountain!” Bukanya nyadar dan segera pergi ya si fotografer ini malah ngedumel pula! Ckckck…  Kejadian malam itu cukup membuat si kangmas antipati kepada Fontana de Trevi. Kalau bukan karena demi ayanknya yang terlalu excited dengan Trevi ini, rasa-rasanya kangmas kagak mau balik selamanya ke sana! ;D

Di hotel minggu pagi itu, diawali dengan pertanyaan si kangmas, “Are sure you will use that shoes?” karena aku bersikeras untuk mengenakan sepatu trepes cewek dari pada sepatu kets. Alasanku, karena Italia panas dan aku malas pakai kaos kaki. Di tambah lagi aku pakai rok, ngga lucu kan kalo pakai kets ;D Perjalanan hari minggu pagi kami awali dari hotel menuju Coloseo dengan metro line B. Dari pemberhentian Castro pretorio, kami akan melewati Termini, Cavaour lalu berhenti di Coloseo metro stop. Sesampai di Coloseo jam 10, antrian nya menuju gerbang pintu masuk nya alamaak! Setelah duduk-duduk menikmati suasana dan mengambil beberapa gambar, akhirnya kami putuskan untuk tidak masuk ke Coloseo dengan pertimbangan antrian yang ujubusyet itu!

 

Kami pun menuju ke Forum Romano, tempat yang paling di idam-idamkan oleh si kangmas yang penggemar Roman Empire! Tapi ternyata antrean nya juga tak jauh ujubusyet walo sedikit lumayan. Karena rada pundung dengan antrean, si kangmas celingukan ke kasir dan aku diminta tunggu di antrian. Lalu akhirnya kangmas menemukan pemberitahuan tentang kartu sakti milik kami, Roma Pass! Dengan kartu itu kita bisa meloncati antrian dan masuk melalui jalur khusus! hahaha… Then he said, “This is the only first time I`m happy that we bought this card! ternyata ada gunanya juga nih kartu! hahaha…” Kami pun masuk dengan semangat sambil diikutin pelototan mata orang yang heran karena kami melenggang masuk tanpa antri ;D

Ternyata Forum Romana itu luaaas sekali! Sekarang saya menyesal meninggalkan sepatu kets di hotel 😦 Aku mulai jalan tertatih-tatih dan kaki lecet luka. Muka cembetut, kaki lecet, aku bener-bener ngga bisa menikmati tempat ini. si ayank mulai menyadari dan nanya, “Are you ok? you seems that you do not happy?”.

Me: “Im ok.”

Schat: “No, you are not! What happen to your feet?”

Me: “Well, I just dont want to complain about a thing that I alreday decide by my selft, honey..”

Schat: “Hmm..? What is that? Tell me!”

Me: “My feet is hurt! I should listen to you more… 😦

Kangmas menghela nafas melihat ayanknya yang kepayahan berjalan. Dilema juga, Forum Romana ini adalah tempat favoritnya. Dan jujur, aku sangat tidak ingin mengganggu keasyikannya dengan rengekan tidak penting atas kakiku. Tapi walau nggak penting, lecetnya si kaki ini minta ampun deh 😦 Sampai di suatu titik, si kangmas memutuskan untuk meminta aku menunggu di bawah pohon yang rindang sembari dia berkeliling sendiri. Tentu aku setuju, kaki ini benar-benar tidak bisa di ajak kompromi.

Puas menjelajahi Forum Romana, atas saran si kangmas, kita balik lagi ke hotel untuk ganti sepatu! Ribet banget ya cewek itu! ;D Well done! My feet is happy now! Lets go to the Trevi Fountain again! ;D

Oh ya, kita putusin untuk naek metro line B menuju Coloseo terus jalan menuju Piaza Venezia, baru naek bus ke Fontana de Trevi. Keputusan buat jalan dari stasiun metro Coloseo ke Piaza Venezia ini ngga akan pernah kita sesali karena pemandangannya fantastik! Coloseo ada di punggung kami dan di depan kami ada Monumento Nazionalle a Vittorio Emanuele II dan di kanan-kiri kita ada pepohonan unik menarik.

Selanjutnya, balik lagi ke Fontana de Trevi.. Trevi bisa dibilang sebagai pusat hingar bingarnya turis. Terdapat banyak restauran, Pizzaria, Gellateria yang buka sampai jam 10 an malam yang bisa kita pilih sesuai selera kita. Selain itu, di sini juga tempat terbaik untuk shopping cendera mata buat oleh-oleh. Selain harganya yang rata-rata lebih murah daripada di tempat lain juga toko yang banyak sehingga membuat kita punya pilihan lebih. Siang itu turis ngga sepadat malam kemarin. Beda dari ke-histeria-an kemarin, kali ini kita bisa lebih santai dan duduk menikmati air mancur ini. Sayangnya, Trevi sedang ada perbaikan, Jadi patung di sebelah kirinya ditutup untuk reparasi. Tapi acara lempar koin tetep ngga lupa dong.. Orang-orang percaya kalau kita lempar koin dengan tangan kanan melewati bahu kiri atas dan posisi badan memunggungi kolam maka suatu saat kita akan kembali ke Roma. Ambil deh 2 koin recehan 500 rupiah, daripada lempar euro kan sayang ;D Lalu dalam hitungan ketiga, kita kompak untuk lempar koin bareng. Semoga kembali lagi ke Roma bersama-sama 🙂

Dan btw fotografer-fotografer lokal itu masih dong di situ. Dengan trik yang sama, mereka lakukan jasa ‘menolong’ memfotokan lalu meminta upah seusai memfoto kepada turis-turis. Ternyata menarik juga memperhatikan bagaimana turis-turis itu merasa ditipu. Yang awalnya happy lalu berubah cemberut atau kadang marah seusai si fotografer lokal minta upah dadakan! Finally, we do enjoyed the fountain with a delicious gellato off course! ;D

Karena letak Pantheon tak seberapa jauh dari Trevi jadi kita jalan kaki ke sana. Cuma di gang sebelah kok. Asal kita ngga nyasar, deket aja tuh Trevi-Pantheon. Maka jangan lupa siapkan peta/google map sebelum jalan ya. Pantheon termasuk ke dalam bangunan Romawi kuno. Dulunya di bangun oleh Kaisar Agustus sebagai tempat pemujaan terhadap dewa-dewa romawi kuno. Namun pada masa Vatican berjaya, Pantheon pun sempat dirubah menjadi gereja. Sayangnya, Pantheon sudah tutup jam 5 sore. Jadi kita cuma bisa leyeh-leyeh di depan lalu mampir ke Tazza D`Oro coffee shop yang direkomendasikan oleh trip advisory. Secangkir espresso Italia pun dipilih oleh si kangmas yang penggemar kopi. Hanya dengan porsi satu sloki kecil nampaknya dia sudah senang. Bagi yang suka strong kopi (and no sugar offcourse) espresso Italia adalah pilihan terbaik!

Terakhir, kami naik bus menuju Barberini metro stop untuk naek metro line A menuju Piaza de Spagna metro stop. Cukup satukali stop saja dari metro Barberini ke Piaza Spagna ini. Kami pun menikmati evening time in the Spanish steps. Bagi aku pribadi, tempat ini tidak semenarik tempat lain yang sudah kita kunjungi di Roma. Spanish steps adalah sebutan untuk tangga yang menghampar menuju gereja dengan arsitektur Baroque. Tapi thoh selama ini kita udah liat banyak arsitektur serupa tersebar di kota Roma. Tapi bagi anda yang pingin shopping barang-barang branded mungkin di sini tempat yang cocok. Tersebar toko-toko dengan merk terkenal di area ini. Sayang pas kita sampai di sana semua toko sudah tutup. Kesan nya jauh berbeda sekali dengan hingar bingar di Trevi maupun piaza navona. Bahkan untuk menemukan restoran pun susah. Jangan juga mengharapkan ada toko suvenir di sini. Maka malam terakhir kami di Italia pun usai sudah. (Bersambung)

Italia 3: Vatican

Sabtu pagi kita semangat banget mau pergi ke Vatican. Kita memutuskan pergi hari sabtu setelah mempertimbangkan informasi bahwa Museo alias musium Vatican tutup di hari minggu. Sayang kan sudah pergi ke Vatican tapi ngga masuk ke Musium. Dan ternyata keputusan kami untuk memilih memasuki Museum Vatican adalah sesuatu yang tidak akan pernah kami sesali!! It`s Wonderful!

Diawali breakfast di hotel, seorang pria Italia membawakan dua piring berisi croissant dan roti kering. Petugas pelayan makan pagi ini pun menawarkan kopi, capucino, machiato, atau latte pada kami. Hmm… Italian coffee at breakfast time!! Saya pun memilih Capucino 🙂 Si Kangmas yang memang penggemar kopi tentu saja tak mau melewatkan espresso ala Italia 🙂

Masalah perut sudah beres, maka kami pun tancap menuju Vatican, dengan sebelumnya mampir dulu ke minimarket dekat hotel untuk membeli persediaan selama perjalanan, roti dan air. Siapa tahu  nanti kami keasyikan di Vatican dan ngga ketemu pedagang asongan pas perut keroncongan ;D

Pergi ke Vatican dari hotel kami dapat ditempuh dengan Metro. Sebelum berlanjut, Aku jelasin dulu ya tentang metro di Roma. Terdapat dua line metro di Roma, Line A dan Line B. Kedua Line ini hanya bertemu satu kali yaitu di stasiun Termini saja. Castro Pretorio ada di Line B bersama Coloseo. Sedangkan pada Line A terdapat Barberini (pemberhentian untuk Trevi Fountain), Spagna (pemberhentian untuk Spanish steps) serta Cipro (Museum of Vatican). maka dari Castro Pretorio kami akan transit di Termini dan pindah ke metro Line A jurusan Batistini, nantinya kami akan berhenti di Cipro. Metro di Roma ini sangat tepat waktu dan berhenti hanya sekian detik saja di masing-masing pemberhentian. Maka kita harus cepat! cepaat!! dan cepaaaattt!!! Tapi jangan lupa manner ya.. malu-malu in ih kalo ndorong orang-orang demi diri sendiri 😉 Well, selama aku di sana sih aku perhatikan semua orang tertib namun tetap cepat. fasilitas metro? emm.. sebenarnya tergantung kita beruntung or enggak. Karena ada dua kereta yang dipakai untuk metro. Yang satu tua tanpa AC dan penuh coretan, dan yang lain baru dengan AC. Masalah kecepatan, keduanya sama-sama cepat, jadi walau tanpa AC tapi perjalanannya tetap cepat sampai kok. Fasilitas di dalam stasiun metro cukup nyaman dengan AC . Hal ini patut diacungi jempol mengingat di musim panas suhu Italia mencapai 40 derajat celcsius. Bisa dibayangkan dong kalau stasiun metro yang notabene di bawah tanah tidak ada AC nya? Bagi anda yang kebelet pipis di area pemberhentian metro, silakan di tahan dulu ;D Sejauh pengamatanku, Aku ngga nemuin toilet satupun di stasiun metro manapun tuh  ;D Naek eksalator menuju pemberhentian metro Italia merupakan pengalaman menarik menurutku. Membuat aku berpikir betapa orang Italia membangun stasiun bawah tanah ini dengan batu-batu yang sangat kokoh. Coba sekali saja eskalator ini berhenti bekerja, aku jamin orang-orang akan kepayahan menuruni/menaiki tangga yang sangaaaaaat tinggi ini. That will be really their very BAD day!! ;D Banyak orang yang menyangsikan Italia dan hanya memandangnya sebelah mata, maka robahlah cara berpikir Anda! Negeri ini kaya dan punya potensi. Pembangunan metro ini saja pastinya cukup menelan biaya yang tidak sedikit, mengingat betapa kokohnya batu-batuan yang dipakai sebagai materialnya.

Sampai di Cipro sekitar pukul 10 pagi. Sebenarnya kami sangat khawatir mendapat info dari teman bahwa antrian di Museum Vatican itu sangat panjang apalagi pada musim panas seperti ini bisa mencapai dua jam. Ditambah lagi bila kita ingin memasuki Basilica, kita harus mengantri lagi dengan antrian yang lebih panjang karena untuk memasuki Basilica tidak dipungut biaya. Namun ternyata, antrian sama sekali tidak panjang. Tidak sampai 10 menit kami mengantri di loket pintu masuk. Harga tiket Musei Vaticani adalah 15 euro. Bila kita punya student card dengan usia dibawah 26 tahun, tunjukkan kartu kita. Syukur-syukur di diskon tiket masuk seperti saya, cukup membayar 8 euro sajah 😉

Bersiaplah untuk ternganga-nganga selama memasuki Musei Vaticani. Tempatnya sangat luas dengan berbagai macam benda seni dipajang di sana-sini. Aku dan si Kangmas setuju bahwa setiap memasuki ruangan baru, selalu saja berbeda dan lebih indah. Semakin mendekati Sistine Chapel semakin menakjubkan saja. Betapa jeniusnya artis yang melukis atap-atap Vatican dengan sangat mewah dan elegant. Semua orang biasanya suka buru-buru pingin segera pergi ke Sistine Chapel. Tapi aku sarankan untuk, take your time and enjoy the journey to the Sistine Chapel! Karena di Sistine Chapel sangat padat oleh orang-orang yang tidak mau beranjak. Jadi kita akan kesulitan untuk benar-benar mencari rasa nyaman, ditambah si petugas pintu yang sedikit-sedikit berteriak “Sssssssttttt!!!! Silence!!”.   

 

Oh ya, kita diperbolehkan memotret selama memasuki Musei Vaticani, kecuali di Sistine Chapel. Berikut aku bagi-bagi hasil jepretan selama terkagum-kagum di Musei vaticani ya 🙂

 

 

 

Sampai di Sistine Chapel, semua pengunjung diminta untuk tidak memfoto dan tidak berbicara. Masuk akal sih, ini kan tempat ibadah. Sampai saat ini, Sistine Chapel masih digunakan para Paus untuk bermusyawarah dan memilih Paus baru. Michelangelo melukis sendiri di Sistine Chapel dengan karya-karya yang mengabadikan namanya, seperti The Creation of Adam di langit-langit Chapel dan The Last Judgement tepat di dinding altar.  Sebenarnya, kita mungkin sangat familiar dengan lukisan The Creation of Adam ini, di mana Adam berusaha meraih tangan Sang Bapa setelah Adam di usir dari langit. Kalau kamu masih penasaran, silahkan meng-googling dua lukisan terkenal tersebut.

Puas menikmati Musei Vaticani, kami menuju Basilica. Basilica masih aktif digunakan hingga saat ini. Setiap hari minggu, paus akan memimpin doa di Basilica. Beruntung bagi kami, lagi-lagi tidak ada antrian memasuki Basilica. Oh ya, ada aturan yang cukup ketat diberlakukan untuk memasuki Basilica, khususnya bagi perempuan. Dilarang mengenakan rok/celana mini di atas lutut, serta baju yang menunjukan lengan dan dada (tank top, kemben, dsb). Jika ada yang nekat mengenakan baju yang tidak berlengan, petugas pintu masuk pun tidak akan segan mengusir. Bagi pria, di minta untuk membuka topi dan kacamata hitam. Intinya, persiapkan diri dengan baik. Kenakan baju sopan yang menutupi dada, bahu dan lutut. Kenakan sepatu untuk jaga-jaga, buka topi dan lepas kaca mata hitam, maka kita akan aman dari usiran para petugas penjaga pintu Basilica 🙂

 

 

Berapakah waktu ideal untuk mengunjungi Vatican? Minimal, satu hari bila kita benar-benar ingin menikmati tempat ini bukan hanya buat mejeng foto 🙂 Waktu itu kita keluar dari Basilica sekitar pukul empat atau lima sore. Beruntungnya, ternyata sedang ada upacara singkat pergantian penjaga yang sayang bila dilewatkan 🙂 Setelah menikmati pergantian penjaga, kita pun masih sempatkan diri untuk mampir ke kantor pos tepat di depan Vatican, dekan dengan Obelisk. Lumayan mengirimkan kartu pos dengan prangko cap Vatikan untuk saudara di rumah. Harga kartu pos hanya 50 sen dan perangko tidak sampai 2 euro 🙂

  

 

Vatican dilihat dari Castle D`Angelo

Kami melanjutkan perjalanan menuju Castle St. D`Angelo yang letaknya tidak jauh dari Vatican. Tinggal jalan lurus aja dari Vatican ke depan maka sampailah kita di Kastil ini. Waktu yang sudah sangat mepet membuat kami segera bergegas sebelum Kasa ditutup. Mengingat Lokasi kastil ini sudah masuk ke Roma maka, Kastil ini adalah Museum gratis pertama dari bonus kartu Roma Pas kami. Konon ceritanya, Kastil ini dibangun untuk bungker penyelamat paus apabila Vatican diserang musuh. Terdapat jalan khusus yang langsung menghubungkan Vatican dengan Kastil ini.

 

 

Ternyata pilihan menuju Kastil D`Angelo adalah pilihan yang tepat untuk menikmati sore kota Roma. Dari puncak Kastil D`Angelo, kita dapat melihat kota Roma dari atas. Indah sekali! Demikianlah kami tutup sore kami. Untuk dinner, kita memilih pergi ke Trevi Fontain yang terkenal banyak restoran dan rame oleh turis. Kita tidak berlama-lama mengunjungi Trevi Fontainnya karena terlalu padat oleh turis, dan menyimpan nya untuk esok hari ketika matahari bersinar cerah dan kamera saya dapat menangkap objek dengan bagus. Roma hari ke-dua pun selesai dengan sempurna 🙂 

 

Italia 2: Roma (I)

Yeahhh! It is the day!! Our summer romantic vacation in the romantic country, Italia

Kami merencanakan liburan selama 9 hari dan akan mengunjungi berbagai kota di Italia. Diantaranya Roma, Perugia, Siena, Firenze, Fosdinovo Tuscany, Pissa, Lucca, Cararra Mountain, Via Regio, Cinque Terre, Genoa dan berakhir di Milan. Ups.. cukup panjang ya daftar nya 🙂 Ayank berencana untuk menyewa mobil dari Roma, sehingga kami bisa road trip dari Roma menuju Genoa dengan mengunjungi kota-kota yang telah saya sebutkan di atas.

Hari itu jumat 3 Agustus 2012 siang, pesawat kami berangkat dari Amsterdam. Berhubung kami tinggal di Den Haag maka kami pun harus menyiapkan ekstra waktu naek kereta Den Haag-Schipol. Beruntungnya, sistem transportasi di negeri kincir ini tidaklah rumit. Terdapat stasiun kereta di bandara Schipol yang dapat diakses oleh kereta dari Stasiun manapun. Jadwal keberangkatan kereta lengkap beserta rutenya pun dapat kita lihat di internet (Netherlands Spoorwagen). Perjalanan kereta Den Haag-Schipol memakan waktu 45 menit. Sekitar pukul 15.00, kami sudah sampai di bandara Schipol, Amsterdam.

O ya, kali ini kami memilih maskapai KLM Royal Dutch sebagai transportasi udara kami, dengan rute Schipol,Amsterdam —  Leonardo da Vinci Fiumicino,Roma dan Linate International Airport,Milan — Schipol,Amsterdam. Kenapa KLM? tentunya masih pada inget dong di cerita Praha 2 rupanya si Ayank kapok naik budget airlines gara-gara kaki nya kepenthok kursi di depan nya.. hihihih ;D Dengan KLM Royal Dutch ini setidaknya kaki si Ayank bisa sedikit lebih nyaman karena ada space di depan nya. Dalam penerbangan ini, kami dua kali ditawarin minum dan satu kali snack. Pertama, pramugari menawarkan Apple juice, Orange juice, Cola, Bir, Wine, Air putih, dengan snack berupa roti dan beberapa permen. Lalu kedua, pramugari akan menawarkan teh atau kopi atau air putih. Penawaran minuman dan snack ini sudah satu paket dengan harga tiket kita jadi tidak perlu mengeluarkan uang ekstra lagi.

KLM Royal Dutch kebanggaan rakyat negeri Belanda ini adalah maskapai tertua di dunia yang masih beroperasi hingga saat ini. Kebanggaan orang Belanda? Yups, sepanjang perjalanan saya telah diceramahi si Meneer gara-gara komentar: “Kamu kok kayaknya bangga banget ya ama KLM?”;D

    

KLM juga memudahkan customer nya untuk chek in secara on line melalui koneksi internet masing-masing. Jadi kita ngga perlu repot-repot lagi ngantri di check in desk yang mengaruskan kita berada di bandara minimal 1 jam sebelum waktu boarding. Dengan chek in on line, penumpang cukup harus ada di tempat ketika pintu gate di buka. Bila kita punya koper/barang-barang yang harus di masukkan bagasi, kita tinggal ngantri di alat pengedropan bagasi. Alat ini secara otomatis akan memindai barang kita dan kita cukup menerima resi apabila terjadi lost bagage. Tidak ada lagi servis manusia, semuanya dimesinkan.. ckckck…

Urusan koper beres, logam detector juga beres. Sekarang saatnya duduk leyeh-leyeh selama 1 jam perjalanan menuju Italia. Sembari sebentar-sebentar motret awan dan pegunungan Alpen di bawah kami, bagus sekali!! 🙂

Sekitar pukul 19.00 kami mendarat di Roma Leonardo da Vinci Fiumicino Airport. Bandara ini sangat penuh sesak jadi kesan nya seolah sempit. Waktu itu pas summer pula.. rasanya mirip sekali seperti lagi berjejalan di pasar Tanah Abang jakarta ;D

Kedatangan kami di Roma disambut dengan ketidakramahan warga Roma. Hal inilah yang kemudian membekas di kepala kami ketika bertemu orang-orang Roma lain pada perjalanan kami selanjutnya yang ternyata tidak jauh lebih baik ;D

Waktu itu kami mampir ke Tourist Information di dalam bandara Fiumicino. Si ayank berencana membeli kartu Roma Pass yang konon katanya akan memberikan akses bus & metro gratis selama 3 hari, plus gratis 2 kali masuk museum di Roma dan diskon 20% sampai 50% untuk beberapa museum yang telah disebutkan di buku panduan. Harga Roma Pass ini 30 Euro, karena kami berdua maka harus beli 2, dengan harga 60 Euro. Sedangkan saya waktu itu menyarankan untuk membeli paket tiket transportasi 3 hari seharga 11 Euro saja yang juga mendapatkan fasilitas gratis menaiki bus & metro. Maka total harga berdua cuma 22 Euro. Tapi dasar si Kangmas dan saya sama-sama ngeyel, maka kami butuh beberapa waktu untuk berdiskusi dan berargumen. Si ayank berargumen bahwa tiket masuk Colloseo+Palatino Hill+Forum Romana sekitar 15 Euro. Tiket masuk Museum Vatikan saja juga 15 Euro. Jadi, 2 museum sudah 30 Euro, jika kita beli 3 day transportation pass yang 11 Euro maka total kami akan mengeluarka 41 Euro/orang. Sedangkan Roma pass cuma 30 Euro per orang plus gratis 2 kali entrance museum. 

Eh.. si mba-mba kasirnya dengan tidak sopan, menginterupsi kami dengan muka kesal bilang kalo mereka mau tutup. Ya, saya bisa pahami kalau mereka mau tutup. Tapi apa ya sebagai Customer Service yang bekerja melayani & memberikan informasi kepada turis (dan pastinya tidak sedikit turis yang bingung), mereka tidak pernah di training bagaimana menjadi CS itu sendiri? Dengan diskusi yang tidak terselesaikan akhirnya kami memutuskan untuk membeli 2 Roma Pass seharga 60 Euro itu. Dan si mba-mba itu tetap saja melayani kami dengan cranky dan memberikan informasi secara ketus serta tidak banyak memberikan solusi tentang wisata di Roma!

Setelah keluar dari kantor itu dan membaca petunjuk Roma Pass, si ayank lebih marah lagi! Ternyata 3 hari yang dimaksudkan di kartu itu bukan 24 jam x 3, melainkan hari di mana kartu itu di aktivasi sampai pukul 00.00 dianggap sebagai hari pertama. Jadi, misal hari itu juga pukul 20.00 kami melakukan aktivasi maka masa 1 hari kartu itu habis pada pukul 00.00 di hari yang sama. Belum lagi ternyata, entrance Colloseo dan Forum Romana+Palatino Hill di anggap terpisah oleh kartu Roma Pass.  Jadi jika kami masuk ke Colloseo maka dianggap memasuki museum pertama gratis. Lalu jika setelah itu masuk ke Forum Romana+Palatina Hill maka dianggap memasuki museum kedua gratis. Bisa dibilang, 15 euro paket colloseo+Palatina Hill+Forum Romana ditambah 11 euro tiket paket transportasi 3 hari terpisah, lebih untung daripada Roma Pass (26 euro vs 30 euro). O ya satu lagi, Vatikan tidak termasuk Roma, sehingga entrance museum Vatican tidak ada di Roma Pass. Apa mau dikata..

Selanjutnya kami berdiskusi tentang transportasi apa yang sebaiknya kami ambil dari bandara Fiumicino menuju stasiun Termini.  Ternyata ada banyak bus khusus yang melayani trayek Fiumicino-Termini dengan harga 5 euro/orang. Lalu kemudian dari Termini kami mau tak mau mulai mengaktivasi Roma Pass dengan naek metro line B menuju Castro Pretoria, metro stop terdekat dari hotel kami.

Yang menarik, selama perjalanan menggunakan bus Fiumicino-Termini, trayek bus ini melewati Colloseo Roma. Kami pun beserta seluruh penumpang bus yang tentunya mayoritas turis baru mendarat di Roma, takjub menganga menyaksikan Colloseo di malam hari hanya beberapa jengkal dari kaca bus kami. 🙂

Setibanya di Stasiun Termini, kami meneruskan perjalanan dengan metro menuju Castro Pretoria, pemberhentian terdekat dari hotel yang telah kami booking. Hotel ini walau sangat basic namun lumayan untuk menginap selama tiga malam di Roma. Dengan fasilitas, AC, TV, shower room, breakfast. Catatan yang sangat penting, AC di kamar hotel adalah hal yang akan membuat anda sangat bersyukur selama menghadapi musim panas di Italia. Bisa anda bayangkan bahwa suhu selama summer disini mencapai 40 derajat celcius setiap harinya.  

Setelah Check in di hotel dan meletakkan barang-barang bawaan, kami pun memutuskan untuk pergi ke Piazza de Navona. Berdasarkan saran dari teman yang pernah pergi ke Italia, Piazza ini sangat menarik dan romantis untuk menghabiskan waktu sore bersama pasangan.

 

 

Pernah baca buku Dan Brown ataukah anda penggemar karya-karya Dan Brown? Maka Piaza Navona adalah tempat yang wajib anda kunjungi!  Air mancur ini adalah karya artist terkenal Italia, Giovanni Lorenzo Bernini yang sangat merepresentasikan arsitektur Baroque yang cukup kental mendominasi era tersebut.  Dalam novel Angel and Demond, Brown menyebut tempat ini sebagai Fontana dei Quattro Fiumi atau fontain of four river sebagai altar of science yang mewakili sungai empat benua: Danube Eropa, Gangga Asia, Rio de la Plata Amerika dan Nil Afrika. Sangat mearik bila kita berjalan berkeliling dan memperhatikan detail patung-patung dalam fontana ini. Ke-empat patung itu adalah dewa-dewa yang dipercaya berkuasa atas sungai-sungai tersebut. Dewa di sungai Gangga digambarkan sedang membawa dayung sebagai simbol navigasi sungai. Dewa sungai Nil digambarkan mengenakan kain yang tersampir kendur, menyimbolkan bahwa pada masa itu tidak ada yang tahu dimanakah sumber sungai Nil berasal. Dewa sungai Danube digambarkan sedang menyentuh simbol papal ke-Pausan. Sedangkan Plata digambarkan sedang duduk di atas tumpukan koin dan terlihat ketakutan oleh seekor ular. Plata sendiri dalam bahasa Spanyol berarti perak, sehingga ini menyimbolkan kekayaan yang dapat Amerika tawarkan kepada Eropa. Namun di sisi lain, patung ular menyimbolkan ketakutan seorang kaya kalau-kalau hartanya akan dicuri. Ditengah-tengah patung itu terdapat Obelis yang Mesirn kuno.

Piaza Navona memang sangat menarik. Selain berkeliling memperhatikan detail patung, kita juga bisa duduk sejenak dan menikmati suasana sore. Tidak jauh dari Fontana, terdapat jajaran lukisan-lukisan indah yang sengaja dipajang dan dijual oleh para pelukis, on the street.  Perut lapar? Jangan khawatir! Terdapat banyak restauran di sekitar piaza ini. Berkelilinglah mensurvei restoran dengan menu yang sesuai selera dan harga yang sesuai kantong anda masing-masing. Serta jangan lupa perhatikan apakah ada fee atau tax tambahan untuk menghindari tourist trap 😉 

Musik merdu yang disenandungkan oleh para musisi jalanan pun menyempurnakan sore kami menikmati keromantisan Piaza ini. Akhirnya, duduk di bangku dekat fountain sambil makan gelato, menutup perjalanan hari pertama kami menikmati Roma 🙂