Italia 11: Genoa dan Milan

Malam ini kita udah booking hotel di Milan. Rute menuju Milan dari Cinque Terre mau tak mau memang harus melewati Genoa. Rencana awal kita adalah tetap membawa mobil sampai ke Milan. Tapi tiba-tiba di tengah jalan si ayank pingin nge drop mobil di Genoa lalu kita melanjutkan perjalanan ke Milan menggunakan kereta. Waktu yang mepet dan rencana yang dadakan membuat aku merasa insecure. Tapi kalo ditolak ya kasian juga, mungkin si ayank udah kecapean nyetir dari Roma. It will be nice if he just can take a rest on the train and sleep, pikirku. Makanya aku pun meng-amini rencana dadakan itu karena si ayank meyakinkan bahwa ada kereta dari Genoa ke Milan.

Konter Avis, perusahaan tempat kita menyewa mobil ada di bandara Leonardo da Vinci Genoa. Kami pun menuju bandara Internasional tersebut untuk mengedrop mobil. Selesai mengedrop mobil, kita mencari-cari stasiun kereta yang awalnya si ayank kira sudah terintegrasi dengan bandara internasional Genoa. Tapi kita sangat kecewa setelah mengikuti papan tanda ‘stasiun’ yang di maksud di bandara itu ternyata hanya bermuara pada halte shuttle bus yang akan membawa kita menuju stasiun terdekat. Stress campur panik,  jam telah menunjukkan pukul 10 malam dan hanya tersisa satu kereta lagi menuju Milan. Kalau kita nggak bisa naik kereta itu, habislah sudah! Padahal hotel yang kita booking di Milan adalah hotel paling mewah dari semua hotel yang sudah kami tinggali di Italia. Karena kita pingin relax saja di hari terakhir.. Sungguh nggak nyangka hal mendebarkan seperti ini akan terjadi..

Kita pun tiba di stasiun terdekat setelah me-nego sebuah taxi untuk ngebut. Sampai di stasiun kita bingung lagi karena ternyata nggak ada kereta direct menuju Milan. Kita harus menuju ke Stasiun utama untuk mancari kereta menuju Milan. Dengan menyeret koper dan memanggul ransel, kita menaiki kereta menuju stasiun kereta utama Genoa. Sesampainya di stasiun utama, bukannya masalah selesai..! Stasiun ini cukup besar tapi tanpa ada informasi keberangkatan dan kedatangan kereta yang jelas. Semua tanda bahkan hanya tersedia dalam bahasa Italia! Ternyata kita DSC08857bukan orang yang lagi bingung sendirian. Ada sekelompok keluarga besar Italia yang juga lagi bingung bin panik mengejar kereta terakhir menuju Milan sama seperti kita. Nah.. kalo orang Italia sendiri aja bingung di stasiunnya, apalagi kita yang orang asing.. Kita pun ngekor rombongan ini yang kemudian bertanya ke kantor polisi di stasiun dalam bahasa Italia. Ternyata memang tidak ada kereta langsung ke Milan. Kita harus naik satu kereta menuju salah satu kota terdekat Milan baru kemudian pindah lagi ke kereta menuju Milan. Dan dua kereta tersebut adalah kereta terakhir. Ohhh.. mamamia.. cobaan apalagi inih! Akhirnya kereta yang ditunggu tiba, kita dan rombongan Italia berbondong-bondong menyerbu gerbong mencari tempat duduk. Untungnya kereta ini lengang jadi tidak begitu susah bagi rombongan kita untuk menguasai gerbong.

DSC08875Kita akhirnya tiba di Milan lewat tengah malam setelah sebelumnya transit di sebuah kota yang aku lupa namanya. Kesan pertama dengan stasiun utama kota Milan, sungguh megah! Stasiun ini sangat luas dengan bangunan yang besar dan tinggi menjulang. Sungguh tidak bisa dipercaya,  negara dengan bangunan semegah ini terpuruk dalam krisis ekonomi Eropa! Lelah dan ngantuk adalah perpaduan yang sempurna untuk menambah kebutaan akan arah di sebuah kota yang baru dijelajah. Yup, kami pun hanya mengikuti petunjuk arah ‘uscita’ yang artinya pintu keluar untuk mencari exit dari stasiun yang suber luas ini. Setelah bertanya pada polisi Italia dengan bahasa tarsan (karena mereka tidak bisa bahasa Inggris) akhirnya kita menemukan pintu keluar dan memutuskan untuk berjalan kaki menuju hotel yang tidak jauh dari stasiun.

DSC08891Senang sekali akhirnya kita setelah menyeret koper dan memanggul ransel akhirnya ketemu kasur super empuk dengan ruangan luxurius yang besar di NH Grand Hotel Verdi yang beralamat di Via Melchiorre Gioia 6, Milaan. Chain hotel bintang empat ini sebenarnya difokuskan untuk para bussinessman yang sedang dalam perjalanan dinas. Maka nggak heran kalo interior hotel NH dibentuk minimalis dan modern sesuai konsep orang-orang bisnis yang mobile. Dengan harga 138 Euro per malam, kita bisa mendapatkan kamar Superior double room berukuran 30 meter persegi, lengkap dengan bathroom dan sofa. Buru-buru kita menyerbu kasur empuk dan terlelap tanpa hitungan menit 🙂

 DSC08889

Pagi hari kita sarapan dengan menu komplit lalu pergi ke stasiun metro terdekat untuk menuju pusat kota Milan. Tidak susah untuk mengenakan transportasi umum di kota pusat fashion dunia ini. Metro sudah terintegrasi dengan baik dan sangat efektif menuju pusat-pusat wisata kota Milan. Sayangnya kita hanya punya waktu beberapa jam sebelum penerbangan pulang ke Belanda. Jadi kita putuskan untuk melihat Duomo dan shopping centre icon kota Milan yang terkenal saja. Bagi para penggemar klub sepak bola asal Milan maap ya, kita nggak mampir ke stadionnya.. Lagipula, dengar-dengar dari cerita teman yang pernah ke sana, stadion tersebut dilarang dimasuki oleh orang luar bila ngga ada pertandingan sepakbola yang sedang berlangsung. Sungguh berbeda dengan stadion Real Madrid, Barcelona maupun Ajax Amsterdam yang menawarkan tour lengkap beserta museum yang dapat dikunjungi oleh para fans fanatiknya.

DSC08901 DSC08900

Pasangan kasmaran yang sedang ‘ditipu’ fotografer keliling

Kita keluar di stasiun metro Duomo. Setelah menelusuru arah ‘uscita‘ alias exit, kita pun menaiki ekskalator yang ketika keluar sudah disambut Duomo terkenal milan! Warna putihnya yang terang nggak bisa dipungkiri lagi terbuat dari marmer putih yang silau ketika terkena kilauan cahaya matahari. Duomo yang indah ini begitu padu dengan kemegahan kota Milan. Sejenak kita duduk menikmati suasana di palazo Milan sambil memperhatikan turis-turis yang lalu lalang. Sedikit berbeda dengan kota-kota lain di Italia, orang-orang yang lalu lalang di Milan lebih beragam. Berbagai macam suku bangasa seperti asia, arab, asia timur maupun tenggara pun berpadu dalam lalu lintas kota Milan di hari minggu. Oh ya, ada hal yang sangat menarik yang kita perhatikan. Masih ingat tips yang pernah aku sarankan di tulisan Tips jalan-jalan ke Italia tentang jangan menerima biji jagung untuk makan merpati serta jangan mau dibantu di foto oleh orang asing? Nah.. kebetulan kita mendapati pasangan kekasih yang sedang kasmaran yang melakukan dua kesalahan fatal tersebut secara bersamaan! Bukan hanya menerima pemberian biji jagung, pasangan ini bergaya memberi makan merpati-merpati yang difotokan oleh orang asing! Aku dan kangmas seperti pada waktu di Trevi Fountain, asyik aja memperhatikan pasangan itu. Sama seperti pasangan di Trevi Fountain Roma, awalnya mereka bahagia tertawa ceria penuh asmara ketika berfoto dikerubuti merpati-merpati. Lalu sejenak kemudian ketika puas berfoto, mimik mereka berubah karena tentunya sang fotografer dadakan itu meminta sejumlah uang ‘jasa’.  Ckckck… ada-ada aja ya.. 

DSC08952Puas menikmati pemandangan lalu lalang turis sambil makan gelato, kita pun bergegas menuju Galleria, pusat shopping dan fashion dunia yang lokasinya tidak jauh dari tempat kita duduk maupun Duomo.  Di sini terhampar toko-toko dengan barang-barang branded dunia seperti Luis Vuiiton, Pradha, Versacce, Guci, dan teman-temannya. Galleria ini sendiri sangat menarik dengan arsitektur yang begitu indah.Nama Galleria Vitorio Emanuelle II dipilih sebagai penghormatan terhadap raja pertama kerajaan Italia. Galleria ini juga merupakan pusat perbelanjaan tertua di Italia yang dibangun sejak tahun 1861. Di tengah-tengah Galleria terdapat mosaik bergambar banteng di lantai yang adalah juga coat of arm Turin. Dalam mosaik banteng tersebut terdapat mitos menarik yang dipercaya sejak jaman kuno. Di mana jika kita bertumpu pada pergelangan kaki kanan dan menginjakkannya di bagian genital si banteng sambil berputar tiga berputaran maka keberuntungan akan menyelimuti kita. Akibat mitos ini banyak turis kemudian berbondong-bondong menginjakkan kaki di mosaik banteng dan berputar-putar di tengah galeria Milan. Mungkin saking terlalu banyak orang yang berputar di situ akibatnya terdapat lubang besar di bagian genital mosaik banteng tersebut. ckckck…

 557367_3892834671879_2093794462_n DSC08941

 Puas berkeliling Galleria, kita kembali lagi ke Piazza del Duomo. Untuk sekali lagikita  duduk sejenak menikmati Duomo sambil merekam erat momen kebersamaan ini dalam ingatan.  Nggak terasa waktu berlalu begitu cepat. Di piazza inilah kita tutup cerita liburan musim panas tahun 2012. Dengan ini pula ternyata kita lolos ujian suhu udara terpanas 40 derajat celcius ditambah serbuan ribuan turis di mana pun kita berada. Kita juga lolos dari tipu muslihat para pencari euro di Italia macam tukang foto keliling ;p Walau bertemu tidak sedikit orang Italia menyebalkan di kota Roma tapi itu nggak menutup kesuka-citaan kita menikmati setiap jengkal keindahan yang telah disuguhkan Italia. Mulai dari bangunan bersejarah, pemandangan Toscany yang sering diabadikan oleh pelukis terkenal maupun menikmati terik matahari di pantai Mediterania-nya. Dan yang nggak kalah menyenangkan tentunya mencoba aneka pasta dan pizza yang super lezat serta menikmati 27 skoop gellato dalam 9 hari perjalanan kami! Mengingat koin rupiah telah kami lemparkan bersama di Fontana de Trevi, kami pun yakin bahwa kami akan kembali suatu saat nanti! Arrivederci Italia… 🙂

DSC08912

  DSC08939

380541_3892823791607_1987694702_n