Italia 7: Firenze (II)

Jujur ya sebelumnya aku ngga begitu familiar dengan kota Firenze. Taunya cuma Firenze tuh markasnya klub sepakbola Italia, Fiorentina. Simbol warna merah yang ada di logo klub Fiorentina pun aku kira gambar ujungnya tombak. hahaha.. parah ya.. jangan diketawain dong! Untung ketemu guide lokal gratis, Leo pemilik Bed and Breakfast kami yang baik yang menceritakan banyak sejarah kota Firenze.

Pada sekitar abad ke-14 ketika Italia masih berbentuk city state, Firenze adalah salah satu city state yang terkuat dan terkaya di Italia. Hal ini berkat kemahiran keluarga Medici membentuk political dinasty. Anggota keluarga Medici tersebar dalam setiap birokrasi city state Firenze bahkan menjalar hingga Kepausan Vatican. Pintarnya lagi, Medici family juga membentuk Medici Bank sebagai bisnis finansial yang melanggengkang kekayaan keluarga besar ini. Pada abad ke-15, Medici Bank pun menjadi Bank terbesar di benua eropa. Seperti kebanyakan bangsawan eropa pada masa itu, keluarga Medici pun mempunyai emblem keluarga, coat of arm. Simbol tameng dengan lima bola merah serta tiga bunga lili emas. Coat of arm inilah yang kemudian menyebar ke seantero Italia, dan terbubuhkan pada simbol keluarga-keluarga yang berhubungan dengan keluarga Medici maupun lembaga yang dibiayai oleh keluarga ini. Bahkan Istana Versailles Perancis pun juga memajang simbol bunga lili ini sehingga disinyalir dulunya anggota keluarga kerjaan Perancis punya hubungan dengan keluarga Medici. Saking kuatnya kekuasaan keluarga Medici dan city state Firence hingga simbol Lili emas pun tak lepas menjadi simbol kota, Lili of Firenze.

Salah satu jasa terbesar keluarga Medici yang lain adalah sumbangsih serta dukungannya yang kuat terhadap seni dan arsitektur. Tidak tanggung-tanggung dana yang dikeluarkan oleh keluarga ini untuk para seniman dan arsitek. Hingga pada puncaknya tahun 1475 ketika Lorenzo de Medici memegang tampu kekuasaan, dengan kekayaanya dan kekuatanya Ia mensponsori para seniman dan arsitektur sehingga mulai tumbuhlah suatu zaman baru di kota ini yang akan menggemparkan seluruh eropa, Renaissance. Banyak seniman terkenal, tokoh serta pemikir hebat yang lahir di era Renaissance  yang mayoritas karyanya juga terlahir di kota tempat lahir Renaissance ini, Firenze. Sebut saja Leonardo da Vinci, Sandro Botticelli, Michelangelo Buonarroti, Raphael, Niccolo Machiavelli, Thomas More, dan lain sebagainya.

Firenze, kota lahirnya jaman Renaissance. Jaman di mana humanisme, seni, ilmu, agama dan kesadaran diri dijunjung tinggi. Beberapa kaum skeptis memandang Firenze cuma beruntung saja karena kebetulan banyak orang hebat lahir secara bersamaan di kota ini dan berkontribusi tinggi. Tapi menurutku sih kalo cuma beruntung aja tapi bertubi-tubi, apalagi namanya kalo bukan berkah langit 🙂 Bahkan Dante Allieghiery juga terlahir di Firenze, tokoh pemikir dan agamawan abad pertengahan jauh sebelum era keluarga Medici berkuasa.

Berjalan-jalan di tengah old city Firenze membuat imajinasi kita berkelana. Back in time di mana jaman keemasan Renaissance berpusat di kota ini. Melihat bagaimana orang pada masa itu menggambarkan keindahan dalam seni dan bangunan.

Siang yang cerah itu seusai mengemasi barang-barang dari BB, kita meluncur menuju old city Firenze. Mobil dan kendaraan pribadi lainnya dilarang memasuki area kota tua. Makanya si kangmas parkir mobil di tempat yang sama seperti semalam. Lalu kita jalan lagi dengan rute yang sama seperti malam lalu 🙂

Kita itu ya bener-bener ngga ada persiapan. Melancong spontan aja. Bahkan buku panduan lonely planet kita beli secara spontan di pedagang suvenir dekat Ponte Vechio!  Haha.. jangan ditiru ya..

Habis buka-buka buku lonely planet Firenze, kita baru mencari jejak! Awalnya kita niat banget mau pasang gembok cinta di tengah-tengah Ponte Vechio makanya nyari-nyari di mana orang-orang biasa pasang gembok cinta tersebut. Tapi pas mo nyebrang Ponte Vechio, alamaaak… rame orang-orang yang sepertinya ngga mau beranjak dari jembatan terkenal ini.  Pantes aja temennya si kangmas pernah bercanda, “Heran! kenapa Jembatan Ponte Vechio itu belum ambruk juga!” Sebagai ungkapan sarkasme atas banyaknya turis yang senantiasa memadati jembatan ini.  

 

 

 Pemandangannya sungguh sangat berbeda dari suasana malam lalu di mana semuanya hanya milik kita berdua.. haha.. Jalanan sepi, cuma tersisa tiga pemuda mabuk yang lagi diceramahin lelaki tua mabuk di dekat patung di tengah-tengah ponte Vechio. Lucu banget deh.. anak muda itu baris seperti regu yang lagi dimarahin ama ketua pletonnya ;D Toko-toko kayu di kanan-kiri jalan juga tutup malam lalu, hingga kita baru tau siang ini kalo toko itu ternyata toko emas!! Hahaha.. tau gitu.. malam lalu.. mumpung sepi.. haha.. Dan setelah kita perhatikan dari buku panduan, ternyata lokasi semalam di mana ada pemuda mabuk itulah tempat kita harusnya pasang gembok cinta! Siang ini pas kita dekati ternyata ada peringatan tertulis, barang siapa mo pasang gembok di area tersebut akan dikenai denda! Nah lhoh! Salah timing! Harusnya malam lalu kita pasang gembok cinta nya pas ngga ada pak polisi berkeliaran di Ponte Vechio…

Perjalanan selanjutnya menuju Piaza della Signora. Piaza ini adalah pusat kota Firenze pada masanya. Sebelumnya flashback dulu ya 🙂

Dari semalam, aku memang ribut mulu penasaran pingin liat David, patung terkenal karya Michaelangelo yang seharusnya ada di Piaza itu. Tapi kita masih belum nemuin di mana si David bersembunyi. Sampai-sampai schatje jadi rada sensi, “Ngapain sih kamu pingin banget liat patung cowok Italia telanjang si David itu?”. Semalam kita juga udah perhatiin kalau pintu masuk bangunan Palazo della Signora diapit dua Patung cowok telanjang. Schatje pun nanya,

Schatje:  “Tuh ada patung cowok Italia telanjang, kamu nggak mau foto ama patung itu?”.

Me: “Menurutmu itu si David apa bukan Yank?”

Schatje: “Emm..kayaknya bukan deh!”

Me: “Ok. Kalo gitu aku ngga mau foto! Satu-satunya cowok telanjang yang aku mau foto bareng cuma David!”

Schatje: “Grrr!! Itu di samping Pallazo ada air mancur dan patung bagus. Kamu mau foto nggak?”

Me: “Mmm.. ogah ah! Aku maunya David aja!”

Begitulah kesebelan si Schatje pada akang David bermula! ;D Hingga akhirnya kita buka buku panduan lonely planet yang ternyata mengungkapkan bahwa si mas-mas telanjang di depan pintu masuk Palazo itu memng David! Tapi bukan versi aselinya. Ini adalah versi tiruan yang dibuat oleh pemerintah Firenze,  patung aselinya ada di museum. Sedangkan patung air mancur di dekat Palazo itu adalah tiruan patung terkenal Fontana de Netuno alias Fountain of Neptune karyaue of Cosimo karya  Bartolomeo Ammannati. Menyesal ya! Karena semalem itu sepi!! Nggak ada turis.. Dunia milik berdua yang lain ngontrak..! Sekarang patung-patung terkenal itu sudah dikerubutin orang-orang. Susah untuk dinikmati dan di foto dengan leluasa. Tapi banyaknya turis dan sengatan matahari tetap tidak menyurutkan kita untuk duduk sejenak menikmati titik pusat kelahiran Renaissance ini. Selain David dan Fountain of Neptune setidaknya terdapat minimal 3 buah patung tiruan dari artis terkenal lain lagi yang sengaja di pajang di Piazza ini. Tiruan The marzocco, singa Florence karya Donatelllo, tiruan Judith and Holophernes karya Donatello, Perseus karya Benvenuto Cellini, Equestrian statue of Cosimo I karya Giambologna dan masih banyak lagi.

 

 

Puas menikmati Piaza, kita niat jalan ke Duomo tanpa rute. Cuma berdasarkan feeling rute semalam! Ternyata itu adalah tindakan yang kurang terpuji ya saudara-saudara.. karena kita nyasar! Hahaha.. Tapi inilah yang menarik dari Firenze. Walau kita nyasar di salah satu lorong, kita nggak akan menyesal! Coba tebak apa yang kita temukan di kala nyasar? Casa di Dante! Alias rumah Dante Allieghiery, pemikir dan agamawan terkenal abad pertengahan. Sungguh penyasaran tanpa penyesalan! Kalau ngga nyasar, mungkin aku pribadi ngga akan pernah tau ternyata Dante adalah orang Firenze dan bahkan rumahnya masih utuh bisa dilihat sampai saat ini karena digunakan sebagai Museum. Bagi yang tidak mengenal Dante, beliau adalah seorang pendeta, sastrawan dan pemikir. Ilmu sosial dan politik menggolongkan Dante dalam paradigma idealisme. Karya terkenalnya adalah Comedia.

 

Setelah menyasar bahagia, akhirnya kita liat kubah Duomo semakin dekat. Duomo yang besar ini bukan hanya indah tapi juga menarik puluhan turis untuk antri memasukinya. Aku dan Schatje mutusin buat ngga masuk ke dalam Duomo mengingat sisa waktu kita yang terbatas. Kita harus nyampe di Fosdinovo sebelum tengah malam karena pihak hotelnya susah untuk dihubungi.

Bangunan Baptestery of st. Giovani dibangun di atas situs pemujaan dewa romawi dan mengalami perenovasian di beberapa generasi. Aselinya Baptisery ini didirikan pada abad ke-4 tapi pintu emasnya dibuat pada tahun 1425 oleh Lorenzo Ghiberty. Saking indahnya pintu emas ini sampai-sampai Michaelangelo menjulukinya Gate of Paradise. Pintu gerbang ini terdiri dari sepuluh relief yang menceritakan tentang kejadian-kejadian yang ada di kitab suci umat nasrani seperti penciptaan Adam dan Eva, Abraham dan pengorbanan Isaac, Solomon and the queen of Sheba, The sacrifice of Noah and his family, dan lain-lain.

  

Katedral Firenze yang sangat besar dan menarik ini didirikan pada abad ke-4 dan 5 serta juga mengalami perenovasian dalam beberapa generasi. Puncak perenovasian adalah pada tahun 1300 ketika masa Renaissance berjaya dan seniman-seniman hebat bermunculan di Firenze. Duomo atau Katedral yang didominasi marmer putih, hijau dan merah ini bahkan terlalu besar untuk dapat diabadikan dalam sekali gambar foto.

 

 Belum puas berkeliling Duomo Firenze tapi waktu sudah mepet sekali maksa kita segera cabut ke Fosdinovo sebelum gelap. masih terlalu banyak cerita tertinggal di Firenze. Jejak peradapan dan keindahan arsitektur kota yang belum kita saksikan langsung dengan mata kepala. Sedih rasanya ketika terpaksa meninggalkan Firenze dengan sangat cepat. But Don’t worry Firenze, we’ll be back buat masang gembok cinta di Ponte Vechio-mu 😉

Italia 6: Firenze (I)

Sudah banyak teman-teman yang ngomong tinggi dan memuja-muja kota Firenze. Membuat aku sangat penasaran seperti apa sih kota pujaan banyak orang yang konon katanya sangat cantik itu! Jam 5 sore kita pergi dari Siena menuju Firenze. Waktu perjalanan yang dibutuhkan dengan kendaraan roda empat adalah 3 jam. Jadi di perkirakan jam 8 kita akan sampai di Firenze. Menyadari kalau kita akan telat, kita pun menghubungi pihak Bed & Breakfast (BB) yang udah kita pesan kalo kemungkinan kita nyampai jam 8-an. Untungnya pihak BB ini sangat kooperatif dan bersedia menunggu kita walo telat datang dari perjanjian awal ;D

Kesan pertama dengan lalu lintas di kota ini adalah cukup nyaman dan luas kalau dibanding Perugia maupun Sienna. Tapi tetep ya.. yang namanya nyasar itu memang nggak bisa dihindarkan. Berbekal alamat dan peta kota Firenze, kita mencoba menemukan lokasi BB. Kerasa deh kayak lagunya Ayu ting ting.. “di mana.. di mana.. di mana…” Untungnya.. si kangmas canggih baca peta nya! Kalo cuma berbekal navigasi peta dari eike, paling ujung-ujungnya kita bisa nyasar ke Gellateria ato Pizzeria! ;D

Setelah dua kali putaran di lokasi yang kita curigai akhirnya ketemu juga itu alamat! Bed and Breakfast Beautiful Florence. Logonya kecil sekali dan cuma dipasang di depan pintu. Tepat pas kita jalan ke arah pintu, ada cowok Italia masih pake helm nyamperin kita dan nanya, “Are you the Bed & Breakfast’s guest?”.

Namanya Leo, pemuda Italia pemilik BB Beautiful Florence. Sehari-hari ia kerja di perusahaan minyak, sedangkan BB ini cuma bisnis sampingannya. Leo dengan ramah menerima kita sambil menunjukkan letak kamar yang udah kita pesan di lantai 2. Standart sih, tanpa AC tapi breakfast udah di jamin. Yah namanya juga Bed and Breakfast masa nggak dikasih breakfast ya! ;D  Pertimbangan kita waktu pilih BB ini adalah karena banyak hotel di area kota tua udah penuh. Lagian kalaupun masih kosong, harganya melonjak gila karena tarif musim panas dan Firenze tak pernah sepi dari kunjungan wisata. Seperti hukum ekonomi, demand tinggi, harga naik. As simple as that! 😉 Lagi pula kita juga cuma 1 malam nginap di Firenze dan bisa dibilang cuma numpang tidur karena seharian kita akan kelayapan.. Maka nggak masalah buat kita untuk mengorbankan sedikit kenyamanan. Tentang lokasi, BB ini emang letaknya di luar kota tua. Buat pergi ke kota tua bisa ditempuh dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi. Letak halte bus ke arah kota tua nggak jauh dari BB ini kok. Tinggal nyebrang jalan aja.. Sedangkan buat kita karena ada kendaraan pribadi maka lokasi BB ini yang diluar kota tua tidak menjadi masalah.

Leo adalah tuan rumah yang baik. Selain menjelaskan lokasi BB dan apa aja yang bisa kita lakukan di sekitar BB (misal makan di pizzeria & transportasi) Leo juga suka diajak ngobrol dari hal ringan sampai serius. Klop lah sudah si kangmas ketemu teman ngobrol.

“Leo, kita penasaran tentang krisis ekonomi yang melanda Eropa. Menurut kamu sebagai orang Italia, apakah krisis ini punya dampak yang berarti bagi kehidupan sehari-hari orang Italia? Karena, jujur aja selama kita road trip di Italia ini kita perhatiin bisnis masih jalan dengan baik, restoran masih juga ramai dan jumlah turis yang berkunjung ke tempat wisata serta rela antri sungguh gila walau suhu 40 derajat celcius. Sung

guh tidak mencerminkan sebuah negara yang butuh suntikan duit dari Uni Eropa! Lalu ke mana semua uang dari bisnis pariwisata itu pergi? Apa Italia tidak bisa mengatur uang? Karena aku yakin bisnis wisata di Italia ini sungguh berdampak besar bagi devisa negaramu!” Yak, begitulah pertanyaan pertama si kangmas terucap. Persis kayak kreditur eropa barat yang lagi menganalisa dan mempertimbangkan permintaan utang nasabah! Aku sih nikmatin aja obrolan mereka sambil makan kacang ya! ;D

“Ya. Buat kita orang Italia krisis ekonomi ini berat. Banyak dari kita yang tidak bisa mengandalkan hidup hanya dengan satu mata pencahariaan. Seperti aku misalnya, aku masih butuh bisnis ini selain dari kerjaanku sehari-hari untuk bisa membuat dapur tetap mengepul. Banyak orang yang punya dua hingga tiga kerjaan sekaligus saat ini sebagai upaya mereka bertahan dari krisis. Karena krisis ini juga, kita mempertimbangkan untuk kembali tinggal bersama keluarga lagi. Mungkin tidak
seperti kamu di Belanda yang bisa pergi dari rumah ketika remaja dan hidup sendiri. Di sini perekonomian kami tidak memungkinkan untuk bisa hidup mandiri seperti itu. Tetap tinggal bersama orangtua merupakan pilihan terbaik saat ini untuk bisa saling meng

hemat dalam perekonomian. Masalahnya sebenarnya terletak di generasi orangtuaku. Mereka adalah generasi yang tidak berpikir panjang. Mereka hidup untuk hari ini dan berusaha selalu senang setiap harinya. Memang bagus dan menyenangkan untuk punya hidup seperti itu. Tapi dampaknya baru dipetik oleh generasiku. Kamilah yang harus menanggung hutang serta hidup tanpa jaminan kesejahteraan sosial. Sungguh beruntung kamu sebagai generasi muda Belanda. Sedangkan tentang bisnis pariwisata, kamu benar bahwa bisnis ini menyumbang devisa besar kepada negara. Banyak pajak dan pungutan yang harus kami serahkan sebagai pemilik tempat penginapan seperti ini. Tapi tentang pertanyaan ke mana uang-uang itu? I’ve nothing to say! Korupsi di tataran pejabat Italia tidak bisa diawasi lagi.”

“Oh..sungguh sayang sekali Leo padahal Italia sangat indah dan banyak potensi. Baik potensi sumber daya alamnya, pertanian buah dan sayur, perkebunan anggur, wisata maupun sumber daya manusia yang bisa membangun kota-kota ini deng

an arsitektur dan bangunan megah! Jalan tol yang kalian punyai sungguh hebat dengan rute yang panjang dan infrastruktur yang baik. Sebagian besar bahkan membelah pegunungan dengan tunel-tunel. Sungguh sangat disayangkan! Leo..boleh nggak kita nanya lagi? kita sangat heran. Pas kita di Roma, kita ketemu banyak orang menyebalkan, kasar dan tidak sopan. Apakah semua orang Italia begitu?” Percaya ato enggak si kangmas beneran nanya ke orang Italia apakah mereka menyebalkan! ;D

“Oh…ya! Orang Roma memang menyebalkan. Mereka merasa merekalah Roman, tinggal di kota besar dan segalanya. Aku juga nggak suka orang Roma. Tapi percayalah, orang Firenze tidak seperti itu. Kami di Firenze lebih ramah dan sopan. Pokoknya asalkan kamu keluar dari Roma sampai ke Tuscani, kamu bisa ketemu orang-orang Italia yang baik dan ramah.” hihi entah narsis atau memang benar adanya tapi begitulah tanggapan Leo. Namun fakta bahwa Leo ramah ke kita udah cukup membuktikan kalo ada orang Italia yang ramah! ;D Dan setelah kita pikir lagi, resepsionis hotel di kota Sienna juga ramah. Sangat berbeda dengan resepsionis hotel di Roma yang kita singgahi.

Selesai ngobrol, kita mampir

ke Pizzeria terdekat rekomendasi Leo. Leo bilang tempat ini adalah favorit orang lokal. Nah tempat kayak ginilah yang susah kita temuin di Roma yang mayoritas tourist oriented. Seneng banget bisa ngerasain tempat kayak gini dengan cita rasa lokal dan bukan tourist based. Harganya pun harga lokal tanpa tourist trap. Di sini keramahan orang Firenze kembali terbukti. Koki pizzeria ini sangat ramah milihin pizza yang mungkin cocok buat kita. Rekomendasinya adalah Pasta al maghiare buat aku yaitu pizza berisi seafoods dengan bumbu asam manis pedas. Sedangkan pasta ala cabonara buat schatje. Terus pizza keju dan Jamur untuk kita maem bareng. Yang menarik di pizzeria ini, adalah si koki ngga cuma masakin buat kita tapi juga jelasin kebiasaan orang lokal. Misal, jangan naburin keju di atas pasta al maghiare (which is I did! ;D) karena akan merusak cita rasa, jangan nambahin jamur di pizza (which is based on my order!;D) karena air yang keluar dari jamur selama proses pemanggangan akan ngerusak pizza nya, minum wine tertentu selama makan pasta tertentu untuk ngebuat rasanya match dan serasi. Dan yang nggak

 kalah penting adalah makanlah pizza langsung dengan tangan tanpa bantuan garpu, pisau maupun sendok. Ceritanya, saking makanan itu enak maka si tamu akan makan lahap tanpa alat bantu makan. Ini juga menjadi wujud apresiasi terhadap si pembuat makanan. Selain itu, hal ini juga merupakan simbol kedekatan tamu dengan tuan rumah. Seolah tidak ada jarak dan merasa seperti berada di rumah sendiri bersama keluarga sendiri. Intinya adalah kehangatan dan keramahan tentunya! Ok Firenze, you win our hearts! 🙂

Selesai makan, hari sudah hampir jam 11 malam. Tapi kita masih terlalu excited pingin segera mengeksplore kota Firenze. Maka kita putuskan untuk ciao ke kota tua. Mobil schatje di parkir di luar kota tua. Dekat dengan sungai yang akan melewati Ponte Vechio yang terkenal itu. Kita jalan kaki romantis menikmati suasana malam Firenze tanpa turis! Rute yang kita lewati adalah Ponte Vechio, Piazza della Signoria, Duomo trus balik lagi ke parkiran dan pulang ke BB. It’s really a romantic night with romantic companionship in the romantic city of a romantic country! What a perfect day! 🙂 *sensor!*

 Mau tau cerita lengkap tentang indahnya kota tua Firenze? Sabar ya.. tahan penasaran anda dan tunggu tulisan saya selanjutnya!! ;)) Hahahaha..