Italia 10: Cinque Terre

Salah satu daerah wisata di Italia yang ngga kalah cantik untuk dikunjungi adalah Cinque Terre. Dalam bahasa Italia, Cinque artinya lima (5) dan Terre artinya Desa. Kata ini memang menunjuk pada lima desa nelayan Italia yang terkenal akan keindahan lanscape pantai mediteranianya. Lima desa itu adalah: Monterosso, Vernazza, Corniglia, Manarola, Riomaggiore.

Seusai chek out dari kastil Malaspina, kita menuju hotel yang telah kita booking sebelumnya. Sayangnya karena memasuki musim panas dan high season, mayoritas hotel di dalam lima desa tersebut udah penuh. Jadi terpaksa kita pilih salah satu hotel yang letaknya jauh di luar Cinque Terre. Hotel ini memang lumayan dengan breafast yang lezat tapi aku nggak begitu merekomendasikan bagi anda yang tidak membawa kendaraan pribadi. Karena jarak dari hotel ke stasiun kereta terdekat untuk menuju Cinque Terre adalah sekitar 45 menit. Stasiun kereta? Yup! Di Cinque Terre dilarang mengendarai kendaraan pribadi utamanya mobil. Untuk menuju kelima desa itu hanya bisa ditempuh menggunakan kereta api. Maka kita pun harus memparkir mobil di stasiun kereta terdekat di kota Levanto untuk selanjutnya menuju Cinque Terre dengan kereta api. Harga tiket Cinque Terre Trenno adalah 10 euro berlaku sampai pukul 00.00 setelah diaktivasi di mesin validasi stasiun. Kita bebas keluar masuk kereta bolak balik menuju 5 desa tersebut bila kita telah memegang Cinque Terre Treno.

RIOMAGGIORE

Hari pertama seusai check in kita pun menuju Riomaggiore. Tempat ini kita pilih karena sebagai lokasi terjauh Cinque Terre bila di tempuh dari Levanto. Jarak antara stasiun kereta Riomaggiore ke pantai utama tujuan wisata desa ini dapat ditempuh sekitar 10 menit berjalan kaki. Rumah dengan cat warna-warni di palung laut adalah hal yang sangat khas dan diburu para photographer. Palungnya nggak seberapa lebar sih, tapi lumayan lah buat celup-celup kaki 🙂 Apalagi mengingat sengat matahari musim panas Italia bisa begitu kejamnya mencabik kulit. Lalu berjalan-jalan sebentar di kota Riomaggiore juga sangat menyenangkan. Pantas saja mobil tidak diijinkan memasuki wilayah Cinque Terre. Lha wong selain jalanannya yang sempit, lokasinya juga di tebing batu. Di sini juga terdapat banyak tempat makan yang bisa kita pilih sesuai budget kita masing-masing. Sedangan aku dan ayank sepakat pilih beli pasta take away dan maemnya entar di pinggir pantai sambil menikmati sunset. Sound romantic? 😉

Yang menarik dari Riomaggiore terutama bagi pasangan yang sedang kasmaran adalah adanya Via dell`Amore, kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya  jalan cinta. Jalan ini sebenarnya merupakan penghubung dari Riomaggiore menuju Manarola, dapat ditempuh sekitar 45 menit. Dengan landscape laut di sebelah kiri kita, membuat suasana romantis berjalan-jalan sore dengan pasangan terkasih 🙂 Terdapat banyak gembok cinta yang dipasang sepanjang jalan cinta ini sebagai tradisi di eropa seperti juga di jembatan Firenze. Sayangnya, bila kita datang sebelum jam 5 sore, kita akan dipungut biaya bila ingin melewati via dell`Amore. Tapi bagi kita pemegang Cinque Terre Treno pass, jangan khawatir karena kita nggak perlu bayar. Nggak mau capek-capek jalan kaki 45 menit menuju Manarola? Tenang aja, kita boleh balik lagi kok ke Riomaggiore trus naek kereta aja ke Manarolanya 😉 Ada cerita menarik ketika kami berhenti sejenak di salah satu sudut Via Dell`Amore. Sambil memandang lautan, sebenarnya kami sedang berbincang apakah kami akan melanjutkan perjalanan menyusuri Via Dell`Amore menuju Manarola ataukah balik saja ke Riomaggiore mumpung belum begitu jauh. Belum selesai si Schatje mengemukakan opsinya, aku memotong dan pilih balik ke Riomaggiore dengan alasan cuaca panas. Schat pun berkomentar, “Waduh kamu ini kok romantis banget sih, kita lagi jalan di jalan cinta, belum setengah jalan kamu minta balik karena panas..” Nah lagi asyik-asyik nya ngeyel-ngeyelan tuh, tiba-tiba ada mbak bule lewat yang kemudian nyamperin kami sambil bilang, “Wah.. you both is so romantic couple! Dont you want to making picture here? I`ll help you for taking it..” Kami pun melongo sesaat sebelum akhirnya memberikan kamera kami. Melongo? Ya iyalah.. Lha wong kami merasa sedang berdebat bukan sedang rayu-rayuan. Selain itu perjalanan di Roma membuat kami begitu anti menyerahkan kamera ke orang asing karena banyak copet dan penipu yang ujung-ujungnya minta duit. Tapi melihat mbak bule itu sepertinya dia juga turis seperti kami yang cuma spontan menawarkan bantuannya. Maka kami pun menyerahkan kamera kami. Seusai mbak bule itu memotret kami, dia pun pergi sambil sebelumnya mengucapkan “Have a nice evening” yang telah kami jawab dengan terimakasih tentunya.

Selesai jalan-jalan romantis di Via dell`Amore, kita pun menikmati sunset di palung Riomaggiore sambil menyantap Pastap terterolo dengan pesto dan spageti seafood. The day was just perfectly wonderfullThen we go back to our hotel and have a nice and relaxing sleep 🙂

 

MANAROLA

Dari ke-lima desa, favoritku adalah Manarola. Jarak antara stasiun kereta Manarola dengan palung pusat wisata tidak seberapa jauh. Kita hanya menyusuri jalan perkampungan nelayan sekitar 5 menit saja. Bila kita ingin berenang, Manarola adalah palung yang tepat selain karena tidak terlalu banyak turis, palungnya juga sedikit lebih besar daripada Riomaggiore. Saking indahnya Manarola sepertinya kata-kata nggak cukup mewakili..cieh.. Ok aku bagi foto-foto aja ya.. Enjoy it! 🙂

 

  

VERNAZZA

Jangan kaget dan nggak usah norak kalo liat mbak-mbak bule pada berjemur tanpa bikini ya alias topless. Pemandangan seperti ini sepertinya biasa saja dan banyak ditemui baik di Riomaggiore, Vernazza maupun Monterosso. Mereka berbaring saja dengan cuek diantara puluhan orang lain yang juga berbaring sunbathing. Kadang tengkurap tapi nggak jarang juga telentang tanpa menghiraukan orang lain yang hiruk pikuk berjalan di sekitarnya. Awas ya jangan pada ngeres itu otak! ;p Tapi yang menarik, orang-orang yang lalu lalang juga pada cuek aja tuh ada cewek topless terlentang ;D Mungkin hanya orang asia khususnya Indonesia seperti saya yang rada ribut sendiri, mencoba menalar apa isi pikiran mbak-mbak itu.

 DSC08750 DSC08769

DSC08811Kalau orang lain berjemur matahari, Aku memilih mencari tempat yang rindang dan tak lupa memakai topi. Kulit ku thoh sudah cukup eksotis, nanti malah jadi gosong kalau Aku ikut-ikutan mereka berjemur matahari. Di Vernazza kita duduk sejenak menikmati suasana Cinque Terre, suara laut, debur ombak, hembusan angin mediterania dan bangunan warna-warni yang khas. Sambil terbawa suasana syahdu, aku pun menengok si teman perjalanan kesayanganku yang duduk disampingku. Owalaaah… malah bablas bobok tho! -_-”

  DSC08813

MONTEROSSO

Pantai Monterosso diintip dari stasiunKeluar dari stasiun Monteroso, kita langsung dapat melihat objek utama di lokasi ini. Berbeda dengan ke-empat temannya, Monterosso lebih seperti pantai dengan hamparan pasir putih yang sudah diduduki payung-payung dan penuh sesak oleh turis-turis sunbathing. Pasir di bibir pantai ini pun sudah tertutup oleh puluhan dan mungkin ratusan manusia telungkup dan telentang. Kita dari awal memang nggak ada niat buat berjemur sih jadi nggak bawa peralatan berjemur juga. Tapi berenang di pantainya kok sepertinya menggoda ya…

DSC08829“Yank, aku pingin berenang di pantai..” Kataku mengawali perbincangan.

“Oh… trus gimana kamu nanti ngeringin badan? Kan kita nggak bawa handuk..”, jawabnya.

“Ya biar aja ntar kan bisa kering sendiri airnya..” Aku bayangkan seperti biasanya aku dan teman-teman maen di Parang Tritis Yogyakarta. Sambil lari-larian di pantai dan sedikit-sedikit main ombak. Duduk di pantai lagi main gitar sambil nyanyi trus balik lagi nyebur ke ombak. Pulang-pulang biasanya kita basah kuyup tapi sesampai di Jogja kota baju dan badan kami sudah kering seperti sedia kala. I miss that moment!

“OOh.. Nah! Itulah yang kami orang eropa iri dari kalian!”

“Iri apa?” jawabku bingung.

“Itu, yang kamu bisa berenang di laut trus airnya kering sendiri. Kita nggak bisa seperti itu. Kalau berenang di laut yang otomatis kena sinar matahari langsung, kulit kami jadi merah. Kalau kelamaan, kulit merah itu bisa sakit dan mengelupas. Itulah yang disebut sebagai ‘sun-burn’. Kami harus bilas air tawar. Kalau nyebur lagi ke laut, bisa dibayangkan perihnya kulit yang mengelupas itu terkena air garam.”

“Lha trus orang-orang ini kok pada suka sunbathing ya?” jawabku bingung.

“Itulah.. mereka rela sakit-sakit padahal kulit mereka nggak akan pernah secoklat kulit kamu. Paling menthog warnanya ya merah, bukan coklat. Ada dua jenis kulit, pertama kulit yang seperti orang Italia, Spanyol dan Amerika latin, kalau mereka berjemur sebentar saja, mereka bisa jadi ‘tan‘ alias kecoklatan. Tapi kulit-kulit seperti kulitku, orang Skandinavia, Inggris, Jerman dan sejenisnya, paling-paling cuma bisa merah dan mengelupas. Butuh waktu berjam-jam untuk bisa meninggalkan efek ‘tan‘ di kulit kami sambil terbakar matahari. Rasa sakit terbakarnya itu akan kerasa 2 sampai 3 hari pasca sunbathing. Tapi ya mereka tetep aja berusaha mencoklatkan kulit seperti yang kamu lihat sekarang.. Dan kegiatan ini cuma bisa kami lakukan sekali dalam setahun, pas di musim panas aja tentunya. Makanya kita iri sama kulitmu.”

Percakapan kami membuat aku berpikir sejenak dan bersyukur diberi anugrah kulit yang kuat terkena matahari. Sesuatu yang sederhana yang jarang kita sadari ternyata begitu besar manfaatnya. Kita justru mengeluh punya warna kulit idaman dan sibuk memutih dan mempucatkan kulit. Padahal orang-orang di belahan bumi yang lain sibuk bersakit-sakit menginginkan warna kulit seperti milik kita yang eksotis, kulit kuning langsat & sawo matang.. 😉

DSC08831DSC08830

Hari sudah menjelang sore,Corniglia mustahil untuk kita datangi. Selain karena waktu yang mepet, lokasi Corniglia berbeda dari ke-4 desa lainnya. Corniglia terletak di tebing bukit. Untuk mencapai ke sana selalin dengan kereta kita pun harus menyambung lagi dengan bus umum. Maka kita skip Corniglia dan memutuskan segera kembali ke Levanto kemudian melanjutkan perjalanan menuju Genoa dan Milan. Tak terasa waktu berlalu begitu cepatnya dan esok hari adalah hari terakhir perjalanan kita di Italia.