Italia 11: Genoa dan Milan

Malam ini kita udah booking hotel di Milan. Rute menuju Milan dari Cinque Terre mau tak mau memang harus melewati Genoa. Rencana awal kita adalah tetap membawa mobil sampai ke Milan. Tapi tiba-tiba di tengah jalan si ayank pingin nge drop mobil di Genoa lalu kita melanjutkan perjalanan ke Milan menggunakan kereta. Waktu yang mepet dan rencana yang dadakan membuat aku merasa insecure. Tapi kalo ditolak ya kasian juga, mungkin si ayank udah kecapean nyetir dari Roma. It will be nice if he just can take a rest on the train and sleep, pikirku. Makanya aku pun meng-amini rencana dadakan itu karena si ayank meyakinkan bahwa ada kereta dari Genoa ke Milan.

Konter Avis, perusahaan tempat kita menyewa mobil ada di bandara Leonardo da Vinci Genoa. Kami pun menuju bandara Internasional tersebut untuk mengedrop mobil. Selesai mengedrop mobil, kita mencari-cari stasiun kereta yang awalnya si ayank kira sudah terintegrasi dengan bandara internasional Genoa. Tapi kita sangat kecewa setelah mengikuti papan tanda ‘stasiun’ yang di maksud di bandara itu ternyata hanya bermuara pada halte shuttle bus yang akan membawa kita menuju stasiun terdekat. Stress campur panik,  jam telah menunjukkan pukul 10 malam dan hanya tersisa satu kereta lagi menuju Milan. Kalau kita nggak bisa naik kereta itu, habislah sudah! Padahal hotel yang kita booking di Milan adalah hotel paling mewah dari semua hotel yang sudah kami tinggali di Italia. Karena kita pingin relax saja di hari terakhir.. Sungguh nggak nyangka hal mendebarkan seperti ini akan terjadi..

Kita pun tiba di stasiun terdekat setelah me-nego sebuah taxi untuk ngebut. Sampai di stasiun kita bingung lagi karena ternyata nggak ada kereta direct menuju Milan. Kita harus menuju ke Stasiun utama untuk mancari kereta menuju Milan. Dengan menyeret koper dan memanggul ransel, kita menaiki kereta menuju stasiun kereta utama Genoa. Sesampainya di stasiun utama, bukannya masalah selesai..! Stasiun ini cukup besar tapi tanpa ada informasi keberangkatan dan kedatangan kereta yang jelas. Semua tanda bahkan hanya tersedia dalam bahasa Italia! Ternyata kita DSC08857bukan orang yang lagi bingung sendirian. Ada sekelompok keluarga besar Italia yang juga lagi bingung bin panik mengejar kereta terakhir menuju Milan sama seperti kita. Nah.. kalo orang Italia sendiri aja bingung di stasiunnya, apalagi kita yang orang asing.. Kita pun ngekor rombongan ini yang kemudian bertanya ke kantor polisi di stasiun dalam bahasa Italia. Ternyata memang tidak ada kereta langsung ke Milan. Kita harus naik satu kereta menuju salah satu kota terdekat Milan baru kemudian pindah lagi ke kereta menuju Milan. Dan dua kereta tersebut adalah kereta terakhir. Ohhh.. mamamia.. cobaan apalagi inih! Akhirnya kereta yang ditunggu tiba, kita dan rombongan Italia berbondong-bondong menyerbu gerbong mencari tempat duduk. Untungnya kereta ini lengang jadi tidak begitu susah bagi rombongan kita untuk menguasai gerbong.

DSC08875Kita akhirnya tiba di Milan lewat tengah malam setelah sebelumnya transit di sebuah kota yang aku lupa namanya. Kesan pertama dengan stasiun utama kota Milan, sungguh megah! Stasiun ini sangat luas dengan bangunan yang besar dan tinggi menjulang. Sungguh tidak bisa dipercaya,  negara dengan bangunan semegah ini terpuruk dalam krisis ekonomi Eropa! Lelah dan ngantuk adalah perpaduan yang sempurna untuk menambah kebutaan akan arah di sebuah kota yang baru dijelajah. Yup, kami pun hanya mengikuti petunjuk arah ‘uscita’ yang artinya pintu keluar untuk mencari exit dari stasiun yang suber luas ini. Setelah bertanya pada polisi Italia dengan bahasa tarsan (karena mereka tidak bisa bahasa Inggris) akhirnya kita menemukan pintu keluar dan memutuskan untuk berjalan kaki menuju hotel yang tidak jauh dari stasiun.

DSC08891Senang sekali akhirnya kita setelah menyeret koper dan memanggul ransel akhirnya ketemu kasur super empuk dengan ruangan luxurius yang besar di NH Grand Hotel Verdi yang beralamat di Via Melchiorre Gioia 6, Milaan. Chain hotel bintang empat ini sebenarnya difokuskan untuk para bussinessman yang sedang dalam perjalanan dinas. Maka nggak heran kalo interior hotel NH dibentuk minimalis dan modern sesuai konsep orang-orang bisnis yang mobile. Dengan harga 138 Euro per malam, kita bisa mendapatkan kamar Superior double room berukuran 30 meter persegi, lengkap dengan bathroom dan sofa. Buru-buru kita menyerbu kasur empuk dan terlelap tanpa hitungan menit 🙂

 DSC08889

Pagi hari kita sarapan dengan menu komplit lalu pergi ke stasiun metro terdekat untuk menuju pusat kota Milan. Tidak susah untuk mengenakan transportasi umum di kota pusat fashion dunia ini. Metro sudah terintegrasi dengan baik dan sangat efektif menuju pusat-pusat wisata kota Milan. Sayangnya kita hanya punya waktu beberapa jam sebelum penerbangan pulang ke Belanda. Jadi kita putuskan untuk melihat Duomo dan shopping centre icon kota Milan yang terkenal saja. Bagi para penggemar klub sepak bola asal Milan maap ya, kita nggak mampir ke stadionnya.. Lagipula, dengar-dengar dari cerita teman yang pernah ke sana, stadion tersebut dilarang dimasuki oleh orang luar bila ngga ada pertandingan sepakbola yang sedang berlangsung. Sungguh berbeda dengan stadion Real Madrid, Barcelona maupun Ajax Amsterdam yang menawarkan tour lengkap beserta museum yang dapat dikunjungi oleh para fans fanatiknya.

DSC08901 DSC08900

Pasangan kasmaran yang sedang ‘ditipu’ fotografer keliling

Kita keluar di stasiun metro Duomo. Setelah menelusuru arah ‘uscita‘ alias exit, kita pun menaiki ekskalator yang ketika keluar sudah disambut Duomo terkenal milan! Warna putihnya yang terang nggak bisa dipungkiri lagi terbuat dari marmer putih yang silau ketika terkena kilauan cahaya matahari. Duomo yang indah ini begitu padu dengan kemegahan kota Milan. Sejenak kita duduk menikmati suasana di palazo Milan sambil memperhatikan turis-turis yang lalu lalang. Sedikit berbeda dengan kota-kota lain di Italia, orang-orang yang lalu lalang di Milan lebih beragam. Berbagai macam suku bangasa seperti asia, arab, asia timur maupun tenggara pun berpadu dalam lalu lintas kota Milan di hari minggu. Oh ya, ada hal yang sangat menarik yang kita perhatikan. Masih ingat tips yang pernah aku sarankan di tulisan Tips jalan-jalan ke Italia tentang jangan menerima biji jagung untuk makan merpati serta jangan mau dibantu di foto oleh orang asing? Nah.. kebetulan kita mendapati pasangan kekasih yang sedang kasmaran yang melakukan dua kesalahan fatal tersebut secara bersamaan! Bukan hanya menerima pemberian biji jagung, pasangan ini bergaya memberi makan merpati-merpati yang difotokan oleh orang asing! Aku dan kangmas seperti pada waktu di Trevi Fountain, asyik aja memperhatikan pasangan itu. Sama seperti pasangan di Trevi Fountain Roma, awalnya mereka bahagia tertawa ceria penuh asmara ketika berfoto dikerubuti merpati-merpati. Lalu sejenak kemudian ketika puas berfoto, mimik mereka berubah karena tentunya sang fotografer dadakan itu meminta sejumlah uang ‘jasa’.  Ckckck… ada-ada aja ya.. 

DSC08952Puas menikmati pemandangan lalu lalang turis sambil makan gelato, kita pun bergegas menuju Galleria, pusat shopping dan fashion dunia yang lokasinya tidak jauh dari tempat kita duduk maupun Duomo.  Di sini terhampar toko-toko dengan barang-barang branded dunia seperti Luis Vuiiton, Pradha, Versacce, Guci, dan teman-temannya. Galleria ini sendiri sangat menarik dengan arsitektur yang begitu indah.Nama Galleria Vitorio Emanuelle II dipilih sebagai penghormatan terhadap raja pertama kerajaan Italia. Galleria ini juga merupakan pusat perbelanjaan tertua di Italia yang dibangun sejak tahun 1861. Di tengah-tengah Galleria terdapat mosaik bergambar banteng di lantai yang adalah juga coat of arm Turin. Dalam mosaik banteng tersebut terdapat mitos menarik yang dipercaya sejak jaman kuno. Di mana jika kita bertumpu pada pergelangan kaki kanan dan menginjakkannya di bagian genital si banteng sambil berputar tiga berputaran maka keberuntungan akan menyelimuti kita. Akibat mitos ini banyak turis kemudian berbondong-bondong menginjakkan kaki di mosaik banteng dan berputar-putar di tengah galeria Milan. Mungkin saking terlalu banyak orang yang berputar di situ akibatnya terdapat lubang besar di bagian genital mosaik banteng tersebut. ckckck…

 557367_3892834671879_2093794462_n DSC08941

 Puas berkeliling Galleria, kita kembali lagi ke Piazza del Duomo. Untuk sekali lagikita  duduk sejenak menikmati Duomo sambil merekam erat momen kebersamaan ini dalam ingatan.  Nggak terasa waktu berlalu begitu cepat. Di piazza inilah kita tutup cerita liburan musim panas tahun 2012. Dengan ini pula ternyata kita lolos ujian suhu udara terpanas 40 derajat celcius ditambah serbuan ribuan turis di mana pun kita berada. Kita juga lolos dari tipu muslihat para pencari euro di Italia macam tukang foto keliling ;p Walau bertemu tidak sedikit orang Italia menyebalkan di kota Roma tapi itu nggak menutup kesuka-citaan kita menikmati setiap jengkal keindahan yang telah disuguhkan Italia. Mulai dari bangunan bersejarah, pemandangan Toscany yang sering diabadikan oleh pelukis terkenal maupun menikmati terik matahari di pantai Mediterania-nya. Dan yang nggak kalah menyenangkan tentunya mencoba aneka pasta dan pizza yang super lezat serta menikmati 27 skoop gellato dalam 9 hari perjalanan kami! Mengingat koin rupiah telah kami lemparkan bersama di Fontana de Trevi, kami pun yakin bahwa kami akan kembali suatu saat nanti! Arrivederci Italia… 🙂

DSC08912

  DSC08939

380541_3892823791607_1987694702_n

 

Italia 10: Cinque Terre

Salah satu daerah wisata di Italia yang ngga kalah cantik untuk dikunjungi adalah Cinque Terre. Dalam bahasa Italia, Cinque artinya lima (5) dan Terre artinya Desa. Kata ini memang menunjuk pada lima desa nelayan Italia yang terkenal akan keindahan lanscape pantai mediteranianya. Lima desa itu adalah: Monterosso, Vernazza, Corniglia, Manarola, Riomaggiore.

Seusai chek out dari kastil Malaspina, kita menuju hotel yang telah kita booking sebelumnya. Sayangnya karena memasuki musim panas dan high season, mayoritas hotel di dalam lima desa tersebut udah penuh. Jadi terpaksa kita pilih salah satu hotel yang letaknya jauh di luar Cinque Terre. Hotel ini memang lumayan dengan breafast yang lezat tapi aku nggak begitu merekomendasikan bagi anda yang tidak membawa kendaraan pribadi. Karena jarak dari hotel ke stasiun kereta terdekat untuk menuju Cinque Terre adalah sekitar 45 menit. Stasiun kereta? Yup! Di Cinque Terre dilarang mengendarai kendaraan pribadi utamanya mobil. Untuk menuju kelima desa itu hanya bisa ditempuh menggunakan kereta api. Maka kita pun harus memparkir mobil di stasiun kereta terdekat di kota Levanto untuk selanjutnya menuju Cinque Terre dengan kereta api. Harga tiket Cinque Terre Trenno adalah 10 euro berlaku sampai pukul 00.00 setelah diaktivasi di mesin validasi stasiun. Kita bebas keluar masuk kereta bolak balik menuju 5 desa tersebut bila kita telah memegang Cinque Terre Treno.

RIOMAGGIORE

Hari pertama seusai check in kita pun menuju Riomaggiore. Tempat ini kita pilih karena sebagai lokasi terjauh Cinque Terre bila di tempuh dari Levanto. Jarak antara stasiun kereta Riomaggiore ke pantai utama tujuan wisata desa ini dapat ditempuh sekitar 10 menit berjalan kaki. Rumah dengan cat warna-warni di palung laut adalah hal yang sangat khas dan diburu para photographer. Palungnya nggak seberapa lebar sih, tapi lumayan lah buat celup-celup kaki 🙂 Apalagi mengingat sengat matahari musim panas Italia bisa begitu kejamnya mencabik kulit. Lalu berjalan-jalan sebentar di kota Riomaggiore juga sangat menyenangkan. Pantas saja mobil tidak diijinkan memasuki wilayah Cinque Terre. Lha wong selain jalanannya yang sempit, lokasinya juga di tebing batu. Di sini juga terdapat banyak tempat makan yang bisa kita pilih sesuai budget kita masing-masing. Sedangan aku dan ayank sepakat pilih beli pasta take away dan maemnya entar di pinggir pantai sambil menikmati sunset. Sound romantic? 😉

Yang menarik dari Riomaggiore terutama bagi pasangan yang sedang kasmaran adalah adanya Via dell`Amore, kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya  jalan cinta. Jalan ini sebenarnya merupakan penghubung dari Riomaggiore menuju Manarola, dapat ditempuh sekitar 45 menit. Dengan landscape laut di sebelah kiri kita, membuat suasana romantis berjalan-jalan sore dengan pasangan terkasih 🙂 Terdapat banyak gembok cinta yang dipasang sepanjang jalan cinta ini sebagai tradisi di eropa seperti juga di jembatan Firenze. Sayangnya, bila kita datang sebelum jam 5 sore, kita akan dipungut biaya bila ingin melewati via dell`Amore. Tapi bagi kita pemegang Cinque Terre Treno pass, jangan khawatir karena kita nggak perlu bayar. Nggak mau capek-capek jalan kaki 45 menit menuju Manarola? Tenang aja, kita boleh balik lagi kok ke Riomaggiore trus naek kereta aja ke Manarolanya 😉 Ada cerita menarik ketika kami berhenti sejenak di salah satu sudut Via Dell`Amore. Sambil memandang lautan, sebenarnya kami sedang berbincang apakah kami akan melanjutkan perjalanan menyusuri Via Dell`Amore menuju Manarola ataukah balik saja ke Riomaggiore mumpung belum begitu jauh. Belum selesai si Schatje mengemukakan opsinya, aku memotong dan pilih balik ke Riomaggiore dengan alasan cuaca panas. Schat pun berkomentar, “Waduh kamu ini kok romantis banget sih, kita lagi jalan di jalan cinta, belum setengah jalan kamu minta balik karena panas..” Nah lagi asyik-asyik nya ngeyel-ngeyelan tuh, tiba-tiba ada mbak bule lewat yang kemudian nyamperin kami sambil bilang, “Wah.. you both is so romantic couple! Dont you want to making picture here? I`ll help you for taking it..” Kami pun melongo sesaat sebelum akhirnya memberikan kamera kami. Melongo? Ya iyalah.. Lha wong kami merasa sedang berdebat bukan sedang rayu-rayuan. Selain itu perjalanan di Roma membuat kami begitu anti menyerahkan kamera ke orang asing karena banyak copet dan penipu yang ujung-ujungnya minta duit. Tapi melihat mbak bule itu sepertinya dia juga turis seperti kami yang cuma spontan menawarkan bantuannya. Maka kami pun menyerahkan kamera kami. Seusai mbak bule itu memotret kami, dia pun pergi sambil sebelumnya mengucapkan “Have a nice evening” yang telah kami jawab dengan terimakasih tentunya.

Selesai jalan-jalan romantis di Via dell`Amore, kita pun menikmati sunset di palung Riomaggiore sambil menyantap Pastap terterolo dengan pesto dan spageti seafood. The day was just perfectly wonderfullThen we go back to our hotel and have a nice and relaxing sleep 🙂

 

MANAROLA

Dari ke-lima desa, favoritku adalah Manarola. Jarak antara stasiun kereta Manarola dengan palung pusat wisata tidak seberapa jauh. Kita hanya menyusuri jalan perkampungan nelayan sekitar 5 menit saja. Bila kita ingin berenang, Manarola adalah palung yang tepat selain karena tidak terlalu banyak turis, palungnya juga sedikit lebih besar daripada Riomaggiore. Saking indahnya Manarola sepertinya kata-kata nggak cukup mewakili..cieh.. Ok aku bagi foto-foto aja ya.. Enjoy it! 🙂

 

  

VERNAZZA

Jangan kaget dan nggak usah norak kalo liat mbak-mbak bule pada berjemur tanpa bikini ya alias topless. Pemandangan seperti ini sepertinya biasa saja dan banyak ditemui baik di Riomaggiore, Vernazza maupun Monterosso. Mereka berbaring saja dengan cuek diantara puluhan orang lain yang juga berbaring sunbathing. Kadang tengkurap tapi nggak jarang juga telentang tanpa menghiraukan orang lain yang hiruk pikuk berjalan di sekitarnya. Awas ya jangan pada ngeres itu otak! ;p Tapi yang menarik, orang-orang yang lalu lalang juga pada cuek aja tuh ada cewek topless terlentang ;D Mungkin hanya orang asia khususnya Indonesia seperti saya yang rada ribut sendiri, mencoba menalar apa isi pikiran mbak-mbak itu.

 DSC08750 DSC08769

DSC08811Kalau orang lain berjemur matahari, Aku memilih mencari tempat yang rindang dan tak lupa memakai topi. Kulit ku thoh sudah cukup eksotis, nanti malah jadi gosong kalau Aku ikut-ikutan mereka berjemur matahari. Di Vernazza kita duduk sejenak menikmati suasana Cinque Terre, suara laut, debur ombak, hembusan angin mediterania dan bangunan warna-warni yang khas. Sambil terbawa suasana syahdu, aku pun menengok si teman perjalanan kesayanganku yang duduk disampingku. Owalaaah… malah bablas bobok tho! -_-”

  DSC08813

MONTEROSSO

Pantai Monterosso diintip dari stasiunKeluar dari stasiun Monteroso, kita langsung dapat melihat objek utama di lokasi ini. Berbeda dengan ke-empat temannya, Monterosso lebih seperti pantai dengan hamparan pasir putih yang sudah diduduki payung-payung dan penuh sesak oleh turis-turis sunbathing. Pasir di bibir pantai ini pun sudah tertutup oleh puluhan dan mungkin ratusan manusia telungkup dan telentang. Kita dari awal memang nggak ada niat buat berjemur sih jadi nggak bawa peralatan berjemur juga. Tapi berenang di pantainya kok sepertinya menggoda ya…

DSC08829“Yank, aku pingin berenang di pantai..” Kataku mengawali perbincangan.

“Oh… trus gimana kamu nanti ngeringin badan? Kan kita nggak bawa handuk..”, jawabnya.

“Ya biar aja ntar kan bisa kering sendiri airnya..” Aku bayangkan seperti biasanya aku dan teman-teman maen di Parang Tritis Yogyakarta. Sambil lari-larian di pantai dan sedikit-sedikit main ombak. Duduk di pantai lagi main gitar sambil nyanyi trus balik lagi nyebur ke ombak. Pulang-pulang biasanya kita basah kuyup tapi sesampai di Jogja kota baju dan badan kami sudah kering seperti sedia kala. I miss that moment!

“OOh.. Nah! Itulah yang kami orang eropa iri dari kalian!”

“Iri apa?” jawabku bingung.

“Itu, yang kamu bisa berenang di laut trus airnya kering sendiri. Kita nggak bisa seperti itu. Kalau berenang di laut yang otomatis kena sinar matahari langsung, kulit kami jadi merah. Kalau kelamaan, kulit merah itu bisa sakit dan mengelupas. Itulah yang disebut sebagai ‘sun-burn’. Kami harus bilas air tawar. Kalau nyebur lagi ke laut, bisa dibayangkan perihnya kulit yang mengelupas itu terkena air garam.”

“Lha trus orang-orang ini kok pada suka sunbathing ya?” jawabku bingung.

“Itulah.. mereka rela sakit-sakit padahal kulit mereka nggak akan pernah secoklat kulit kamu. Paling menthog warnanya ya merah, bukan coklat. Ada dua jenis kulit, pertama kulit yang seperti orang Italia, Spanyol dan Amerika latin, kalau mereka berjemur sebentar saja, mereka bisa jadi ‘tan‘ alias kecoklatan. Tapi kulit-kulit seperti kulitku, orang Skandinavia, Inggris, Jerman dan sejenisnya, paling-paling cuma bisa merah dan mengelupas. Butuh waktu berjam-jam untuk bisa meninggalkan efek ‘tan‘ di kulit kami sambil terbakar matahari. Rasa sakit terbakarnya itu akan kerasa 2 sampai 3 hari pasca sunbathing. Tapi ya mereka tetep aja berusaha mencoklatkan kulit seperti yang kamu lihat sekarang.. Dan kegiatan ini cuma bisa kami lakukan sekali dalam setahun, pas di musim panas aja tentunya. Makanya kita iri sama kulitmu.”

Percakapan kami membuat aku berpikir sejenak dan bersyukur diberi anugrah kulit yang kuat terkena matahari. Sesuatu yang sederhana yang jarang kita sadari ternyata begitu besar manfaatnya. Kita justru mengeluh punya warna kulit idaman dan sibuk memutih dan mempucatkan kulit. Padahal orang-orang di belahan bumi yang lain sibuk bersakit-sakit menginginkan warna kulit seperti milik kita yang eksotis, kulit kuning langsat & sawo matang.. 😉

DSC08831DSC08830

Hari sudah menjelang sore,Corniglia mustahil untuk kita datangi. Selain karena waktu yang mepet, lokasi Corniglia berbeda dari ke-4 desa lainnya. Corniglia terletak di tebing bukit. Untuk mencapai ke sana selalin dengan kereta kita pun harus menyambung lagi dengan bus umum. Maka kita skip Corniglia dan memutuskan segera kembali ke Levanto kemudian melanjutkan perjalanan menuju Genoa dan Milan. Tak terasa waktu berlalu begitu cepatnya dan esok hari adalah hari terakhir perjalanan kita di Italia.

Italia 9: Pisa dan Lucca

Pagi yang cerah, kita berangkat dari Fosdinovo menuju Pisa dan Lucca. Jarak Fosdinovo menuju Pisa mungkin sekitar satu setengah jam, sedangkan dari Pisa menuju Lucca dapat ditempuh selama 30 menit saja. Arah yang kita pilih adalah yang melewati Carrara Marble Mountain. Persis seperti namanya dong, gunung ini adalah penghasil batu marmernya negara Italia. Dari gunung marmer inilah bangunan-bangunan megah Italia dibangun, dari Duomo indah di seantero negeri, pilar-pilar istana, patung-patung artistik sampe jalanan yang dibuat dari marmer kasar kemungkinan besar diangkut dari batuan di gunung ini. Yang bikin herannya itu, kok bisa ya si marmer masih aja tersedia di gunung ini padahal sudah ribuan tahun diambil, tepatnya sejak jaman romawi kuno. Jadi bisa kita bayangkan betapa besarnya gunung marmer ini aselinya di jaman itu ketika belum diambil batunya buat jadi Duomo, kastil, patung dan semua bangunan marmer Italia.

 

Puas terpukau menikmati keindahan gunung marmer, kita pun melanjutkan perjalanan menuju Pisa. Sayangnya pemandangan Toscany yang indah, aku lewatkan begitu saja karena rasa kantuk yang teramat dalam. Aku pun pulas bobo di samping pak kusir yang sedang bekerja mengendarai kuda supaya baik jalannya.. hey! ;p

Bangun-bangun, si kangmas udah parkir mobil dan si menara condong itu udah ngintip di balik pepohonan! Waduh aku senangnya bukan maen.. Kita pun jalan tak sampai lima menit menuju menara condong yang terkenal tersebut. Kesan pertama nyampai di Pisa? Turisnya booo uju busyet! Kayaknya turis yang ada di Roma pada menyerbu ke Pisa juga di hari ini! ckckck… Tapi ngga apa-apa, hal itu tetep ngga mengurangi kegembiraan hati kita menatap langsung menara condong ini yang sebenarnya tak lebih dari kesalahan  konstruksi. Kesalahan konstruksi? Yup betul. Sedari awalnya menara ini direncanakan untuk berdiri tegak biasa saja. Namun ketika pendiriannya terdapat kesalahan konstruksi sehingga ia pun menjadi condong alias miring. Yang justru hal tersebutlah membuat Duomo beserta menara ini punya daya tarik tersendiri dan terkenal di dunia. Bahan bangunan penyusun bangunan ini jangan ditanya lagi. Tentunya marmer yang diangkut dari Cararra Marble Mountain. Dindingnya aseli marmer semua. Makanya kita bisa lihat warna putih yang cerah mencolok dari dinding ini.

  

Nggak banyak yang bisa dilihat di Pisa. Karena selain Duomo dan menara condong, tidak banyak objek menarik yang bisa dilihat di pusat kota ini. Bahkan beberapa teman yang pernah maen ke Italia menyarankan kalo mau cari penginapan mending ke Firenze yang juga dekat dengan Pisa. Selesai berkeliling, berfoto dan duduk sejenak menikmati suasana, kita pun pergi menuju Lucca.

LUCCA

Kota ini terkenal dengan bentuk lingkaran pada pusat kota tua nya. Menemukan pusat kota tua yang berbentuk lingkaran ini merupakan tantangan tersendiri. Pasalnya, jalanan kecil menyerupai labirin akan terlihat mirip satu sama lain yang kemudian bisa mengaburkan pikiran nalar kita. Awalnya aku pun sangat terpesona dengan desain kota Lucca yang unik ini. Aku berpikir betapa jeniusnya penggagas tata kota ini. Bila ada musuh datang menyerang mungkin mereka akan bingung menuju pusat kotanya. Ternyata eh ternyata ada rahasia dibalik pembangunan tata kota lingkaran ini. Aku bocorin enggak ya enaknya? ;p

 

 

    

Rahasinya adalah rumah-rumah yang dibangun di daerah ini berdiri di atas Amphi Teathre Romawi kuno. Yep, bangunan semacam Coloseo di Roma. Inilah yang jadi hal menarik di Italia. Situs purbakala yang seharusnya menjadi sejarah bangsa, ditumpuk bangunan begitu saja karena jaman telah berubah dan manusia butuh tempat tinggal. Suatu dilema yang sangat miris seperti ini sebenarnya sudah sering terjadi di berbagai tempat lain di Italia terutama di kota Roma. Manusia di jaman ini membuat bangunan baru diatas peninggalan sejarah bangunan Romawi kuno. Terkadang bila ada orang bikin pondasi mau bikin rumah, mereka juga nemuin situs sejarah. Tapi thoh mereka cuek saja dan tetap terus membangun bangunan 🙂 Tapi ya mau disalahin gimana lagi, thoh kalau kita pikir keseluruhan kota Roma itu peninggalan peradaban Romawi. Alias di bawah tanah setiap jengkal kota Roma terdapat situs sejarah peninggalan Romawi kuno. Bahkan jalan raya di samping Coloseo dan Forum Romana juga terpaksa dibangun di atas situs sejarah. Kembali ke pusat kota Lucca, kita masih bisa melihat batu-batu jaman Romawi kuno yang masih kokoh menempel di pondasi perumahan. Jadi bginilah bila Amphi teather yang melingkar itu di jadiin pondasiperumahan. Hasilnya adalah kota Lucca! Tapi jangan sampai ya kita bangun rumah di atas candi borobudur atau candi prambanan! 😉

Kita pun menikmati keriangan di pusat kota Lucca yang bulat ini dengan sepiring risoto seafoods dan pasta Italia yang lezat. Serta tak lupa tiga scoop gelato sebagai desert tentunya! Sekitar pukul 12 malam, kita pulang menuju Kastil Fosdinovo. Masih 2 jam perjalanan menanti kita sebelum bisa tidur lelap di kasur empuk.

City centre Lucca.

Source: google

 

 

 

 

Italia 8: Kastil Malaspina Fosdinovo, Kisah cinta yang terluka hantu Italia

Di Eropa kira-kira ada hantu nggak ya? Orang eropa kan rata-rata nggak percaya hantu gitu..! Ah masak sih? Percaya nggak percaya, kebetulan kita ada cerita yang cukup membuat bulu kuduk berdiri macam di film-film thriller. Penasaran kayak apa hantu Italia? Tulisan kali ini ber-setting di desa Fosdinovo tentang Malaspina Castle yang menyimpan sejarah bisu abad pertengahan. Selamat menikmati 🙂

Malaspina Castle Fosdinovo

Mayoritas pembookingan hotel dalam liburan di Italia ini kita lakukan melalui internet jauh-jauh hari sebelum keberanggkatan. Terdapat berbagai macam situs pembookingan hotel yang bisa kita pakai seperti, booking dot com, agoda dot com, hostels dot com, expedia dan lain-lain. Schat sendiri sudah langganan booking dot com dari lama. Beberapa hotel ada yang minta pinalti berupa uang kalau kita melakukan pembatalan pemesanan, tapi beberapa hotel yang lain free of charge pembatalan sebelum 7 hari kedatangan. Semua tergantung aturan pihak hotelnya masing-masing. Waktu di Belanda sebenernya, rencana kita mau nginap di Firenze dua (2) malam di BB yang sama bahkan kita juga sudah pesan. Sampai suatu hari schatje menemukan Malaspina Castle Bed and Breakfast di daerah Fosdinovo. Jalur yang smpurna dari Firenze menuju Cinque Terre melewati Carrara Mountain of Marble. Dari BB Castle ini juga nggak seberapa jauh dari Pisa dan Lucca, sekitar 1 jam perjalanan. Jadilah kita sepakat untuk membatalkan pemesanan 1 hari Firenze dan membooking Malaspina Castle BB selama 2 malam dengan tarif 110 Euro/malam, tanpa sebelumnya mengecek latar belakang sejarah kastil ini di internet maupun buku.

Dari Firenze kita meluncur menuju Fosdinovo. Lama perjalanan idealnya satu setengah jam. Karena keasyikan, kita baru pergi dari Firenze jam 18.00. Diperkirakan jam setengah 8 malam kita bisa nyampai di Malaspina Castle BB. Ada satu hal yang ngebuat kita cemas karena pihak BB nggak bisa dihubungi sedangkan jam maksimum check in adalah sekitar jam 19.00. Sehingga kita sama sekali nggak bisa memberitahukan kemungkinan keterlambatan check in.

Perjalanan menuju Fosdinovo ini cukup berliku. Mobil kita menerjang pedesaan Tuscany dan meliuk-liuk khas perjalanan di area pegunungan. Yang menarik dari perjalanan ini tentu saja kita bisa menikmati landscape Tuscany yang terkenal itu: kebun anggur, kebun bunga matahari yang oranye indah, sekaligus desa-desa Italia yang damai jauh dari hinggar bingar keramaian kota dan turis. Di puncak perjalanan di atas gunung, dari kejauhan kita lihat ada kastil tua yang besar. Aku dan Schatje mulai menebak-nebak karena kita udah mulai hampir tersesat.

Me: “Kira-kira di mana ya Yank kastilnya? Itu kali ya yang di atas bukit itu..”

Schat: “Ah.. enggak ah.. Nggak mungkin yang itu. Itu kan Kastil beneran!”

*Semakin dekat,, semakin dekat…*

Me: (membaca papan nama) “Iya yank!! Yang itu kastil kita!!!”

Schat: (kaget)

Kenapa kita kaget? Karena kita berdua nggak nyangka kalu BB yang kita pesan adalah benar-benar kastil! Batu-batu besar, pintu gerbang kayu, baju zirah perang, sebutin aja satu-satu semua ada! Pas kita nyampai, pintu gerbang utama Kastil udah ditutup. Kita nekat aja masuk ke pintu yang belum dikunci. Melewati tangga batu dan mencoba menuju ke ruangan terdekat sambil pangil-panggil apa ada orang di sana. Beruntung, ada perempuan muda Italia yang sangat ramah membukakan pintu. Dia adalah resepsionis BB yang sudah mau pulang. Lima menit aja kita telat kethok pintu, kita mungkin nggak bisa check in karena nggak ada pekerja yang tinggal di BB. Cuma ada satu orang penjaga kunci yang nggak tahu menahu tentang administrasi BB.

Perempuan muda ini mengantarkan kita ke kamar yang telah kita pesan. Perjalanan menuju kamar ini sangatlah panjang. Dari ruangan resepsionis, kita memasuki pintu kayu besar menuju salah satu ruangan di sayap kiri kastil. Lalu kita harus melewati lorong dan menaiki tangga kecil. Pemandangan di ruangan ini adalah senjata perang dan benda tajam jaman pertengahan. Lalu kita diajak melewati sebuah ruang tengah lengkap dengan meja besar ditengah dan kursi perjamuan. Dinding ruang tengah ini dihiasi sekitar delapan buah lukisan besar keluarga Malaspina lengkap dengan baju tradisional abad pertengahan. Belum sampai juga, kita harus menaiki tangga dan melewati lorong dengan pemandangan indah dari jendelanya, pemandangan desa Fosdinovo dan Tuscany dari atas. Matahari terbenam pun dapat kita nikmati dengan semburat yang sangat indah dari arah jendela ini menghadap. Akhirnya, tinggal satu belokan lagi menaiki tangga menuju lorong kamar kita. Ada 2 kamar yang lain yang kita lewati sebelum nyampai di kamar pesanan kita. Kamar pertama di dekat lorong, dihuni oleh satu orang penyewa. Kamar selanjutnya kosong. Sedangkan kamar ketiga adalah kamar kita yang cukup luas dan nyaman dengan kamar mandi dalam yang sama luasnya seperti kamar tersendiri.

 

 

 

Perempuan muda ini pun menjelaskan peraturan BB seperti makan pagi siap dari jam 8 hingga jam 10 pagi di teras dekat ruang tengah, diharuskan mematikan lampu ketika meninggalkan ruangan manapun di dalam kastil dan bila kita tersesat, ada lonceng di halaman tengah yang bisa kita bunyikan untuk memanggil penjaga kunci. Selesai menjelaskan, perempuan muda ini pun pamit dengan sopan. Suasana pun senyap seketika… Aku yang awalnya excited tinggal di Kastil beneran, sekarang nyalinya menciut. Suasana senja memang sangat indah tapi sunyi di Kastil ini sungguh lain cerita 😦 Belum lagi, aku baca petunjuk aturan kamar sial*n yang di point terakhirnya bilang: “If you meet a ghost, don’t worry, he is a good ghost!”

Kita belum makan seharian dan pihak BB tidak menyediakan fasilitas makan malam. Sebelum memasuki Kastil, kita emang lihat ada restaurant cukup nyaman di samping kastil. Aku pinginya, kita segera maem trus cepet-cepet balik ngumpet di kamar. Kalau bisa baliknya sebelum cahaya matahari hilang biar kita nggak gelap-gelapan menyusuri jalur panjang menuju kamar 😦 Gelap-gelapan? Yep, gelap literally! Masih inget dong aturan yang disampein si resepsionis: diharuskan mematikan lampu setiap kali meninggalkan ruangan manapun di kastil. Peraturan tersebut membuat kastil ini selalu dalam keadaan gelap gulita! Termasuk semua lorong-lorongnya! Kita hanya dibekali senter kecil untuk mencari jejak. Kerasa deh kayak uji nyali: silahkan mencari kamar masing-masing dengan bekal senter kecil, kalo tersesat silakan cari lonceng. Kalau ketemu hantu…ups, berarti anda sedang tidak beruntung! -_-

Yang bikin keselnya, si ayank ternyata tidak merasakan ketakutan seperti yang aku rasakan. Dia malah santai-santai aja menikmati empuknya ranjang kamar. “Duh.. enak ya.. nggak nyangka ternyata beneran Kastil aseli!”, ucapnya sambil enak-enak rebahan. Aku sendiri mau kesel ya gimana lagi thoh dia habis nyupir seharian mungkin capek. Nggak bisa disalahin juga kalo dia asik-asik rebahan di kasur.

Me: “Yank.. maem yuk ke bawah..”

Schat: “..zzzzzttttttt….” boboklah dia.

(20 menit kemudian)

Schat: “Maem yuk!”

Me: (cemberut parah) “Ogah! Nggak laper!” (sambil ngebayangin ogah gelap-gelapan kelayapan di Kastil)

Schat: “Kamu gimana sih tadi ributin ajak makan.. sekarang diajak makan nggak mau… Ya udah, pokoknya aku mau makan. Kalau kamu nggak mau ikut, aku tinggal di sini..”

Me: “Ogaaah.. aku ikut makan deh!”

Lalu keluarlah kami dari sarang. Untungnya sinar matahari masih sedikit tertinggal jadi kita bisa jalan tanpa harus menghidupkan senter. Setelah melewati berbagai macam lorong, akhirnya sampailah kita di pintu kayu besar menuju taman belakang kastil dan selanjutnya menyusuri taman melewati pintu keluar Kastil. Letak restoranya memang sangat dekat. Restauran ini sudah ramai dipenuhi turis yang aku tidak tau mereka tinggal di mana.. hanya berharap kalau mereka tinggal di Kastil juga biar bisa balik bareng-bareng ke Kastil.. Dasar penakut! hehehe..

Masakannya? Hmmm… nggak ada kata lain selain “Lezzzatt!” yang bisa menggambarkan rasa masakan ini. Aku pesan appetizer berupa salad yang berisi rucola, pine seeds kacang khas italia, olive oil dan daging asap. Lalu main menunya aku pilih pasta testarolo dengan pesto hijau yang sangat kental dan ditutup dengan dessert, machiato italia yang sangat lezat. Semuanya sempurna! Setting restorannya sangat cozzy, hangat dan romantis.  Untuk sejenak aku terlena dan melupakan bahwa kita harus balik gelap-gelapan ke Kastil tua yang usianya ribuan taon itu!

 

 

Waktu yang ditunggu pun datang juga. Kita balik menuju kastil dan sialnya kita sendirian. Nggak nampak satupun pengunjung restoran itu yang mungkin juga menghuni kastil ini. Oh sial.. aku merayap di tembok mencari-cari saklar di dinding. Lalu mematikan sakelar lagi setelah melewati ruangan. Begitu seterusnya, turn on-turn off sampai ke koridor kamar. Kita sempat hampir tersesat karena banyaknya lorong dan mirip satu sama lain. Untungnya kita masih ditunjukkan jalan yang benar, menuju kamar kita 😉

Selamatlah kita di hari pertama di kastil ribuan taun ini. Kita bobok lelap dan bangun jam 8 pagi lalu sarapan.  Usai sarapan rencananya kita mo cabut ke Pisa dan Lucca. Si Ayank bilang mau ke ruangan resepsionis dulu buat nanya jalur sedangkan aku pilih balik ke kamar sambil siapin barang-barang dan makanan yang mau di bawa dalam perjalanan. Udah satu jam-an lebih nunggu si Schatje kok nggak balik-balik ke kamar. Nyasar di mana dia ya..apa nanya rute butuh waktu yang lama ya…

Dua jam kemudian akhirnya si kangmas balik juga. “Aku habis keliling-keliling kastil tadi.. Semua ruangan yang nggak dikunci pintunya, aku masukin. Banyak ruangan yang bagus..”, cuma bisa geleng-geleng aku menanggapi polahnya itu!

 

 

 Akhirnya kita pun pergi ke Pisa dan Lucca. Menikmati sepanjang hari kita di kota menara condong dan kota lingkaran sampai lupa waktu. Lupa waktu? yep! lagi-lagi kita balik tengah malam 😦 Aku sudah menyiapkan diri sepanjang perjalanan untuk gelap-gelap-an lagi masuk ke kastil tua yang indah di siang hari tapi serem kalo malam ituh! Jam menunjukkan pukul 1 (satu) dini hari. Semakin mendekati kastil aku semakin uring-uringan cemberut dan diam karena ngeri. Si Meneer mah tetap aja semangat, kadang-kadang malah suka iseng. Udah tau suasana serem begitu, si Meneer matanya masih jelalatan ke ruangan yang gelap di pojok sambil komentar, “Eh lihat Yank! Ruangan itu serem ya…!”. Demi apa ya ni bocah! Aku cubit aja tangannya, aku suruh diem! 😀

Seperti malam lalu, kita merambat dalam gelap. Aku pilih berjalan di depan, karena takut kalo jalan di belakang nanti ada yang colek :p Yang paling aku khawatirin kalo-kalo pas nyalain lampu, tiba-tiba “surprise!” ada noni Italia ngasi kejutan 😦 Aku mencoba sangat fokus dan tatapan mata yang enggak jahil. Terutama pas memasuki ruangan tengah itu yang banyak lukisannya. Bulu kuduk rasanya berdiri semua. Kayak-kayak banyak yang liatin gerak-gerik kita selama berjalan. -_- Untungnya kita selamat menuju kamar. Puihhhh… lega rasanya! 🙂

Si kangmas pun langsung menuju tempat tidur dan rebahan. Dalam hitungan detik, doi udah pindah ke pulau mimpi dengan lelap. Aku sendiri asyik utak-atik internet. Maklum dapat wifi gratis di kamar dan kita bawa laptop. Rencananya aku ngga mau melek lama, khawatir kalo yang ‘nemenin’ ngajak ‘kenalan’. Tapi apa daya, kalo udah buka fb apalagi upload foto, bikin lupa ngantuk 😀 Aku pun terjaga selama 2 jam dan baru tidur lelap jam 3 pagi, kebetulan pas si Meneer ngolet.

Jam sembilan pagi aku bangun dan si Meneer udah duluan bangun. Dia pun nanya, “Yank, semalem pas bobok, kamu kebangun lagi nggak?”. Aku kira itu pertanyaan biasa aja karena emang kebiasaan kita kalo bangun tidur suka nanyain, gimana boboknya? nyenyak nggak? bangun lagi nggak? mimpi apa? dan lain-lain. Dengan cuek aku jawab, enggak tuh! Obrolan pun pindah ketika kita breakfast di teras kastil. Kebetulan si mbak resepsionis ada di sana juga menjamu para tamu. Mungkin ada sekitar 4 pasang tamu yang lain yang menginap di BB ini. Tapi herannya, mereka semua kok ya nggak nampak ya kalo malam hari 😦 Pas si mbak itu datang ke meja kita, si Meneer nanya, “Excuse me… tadi pagi sekitar jam 4 ada apa ya? Kok saya dengar suara berisik sekali. Seperti orang marah dan banting pintu tapi terus-terusan. Ada sekitar satu jam saya dengar suara itu..”

Ooh.. Memang sedang ada reparasi di salah satu ruangan kastil, tapi tukangnya baru datang jam 8 pagi. Kalau anda dengarnya jam 4 pagi, I have no idea..” Kata si resepsionis sambil shock. Aku pun shock mendengar pertanyaan mendadak di Schatje. Sejenak si resepsionis pamit buat nanyain ke rekannya, kira-kira suara berisik itu datangnya dari mana. Si schatje pun nanya ke aku, “Yank, kamu percaya hantu itu ada?”. Aku yang berasal dari negara timur dan penakut ini tentunya menganggukkan kepala. “Aku sumpah suara itu nyata, bukan mimpi. Kamu percaya kan ama aku?” lanjutnya lagi. Jadi setelah aku tidur, jam 4 pagi giliran si kangmas kebangun gara-gara suara itu. Suara seperti orang yang lagi ngamuk dan banting pintu berulang-ulang. Dari suara dan gemanya yang berat, menurut si Ayank itu pastilah pintu yang besar. Suara juga disinyalir dari dalam kastil, bukan dari arah luar, teras maupun taman.

Apa yang kamu lakuin pas dengar suara itu?”, tanyaku penasaran. Si ayank pun jawab, “Awalnya aku pingin keluar dan cari di mana sumber suaranya. Kalau memang itu hantu, aku pingin lihat. Tapi lama-lama suaranya makin kencang dan intens seperti orang ngamuk banget. Lalu aku putuskan untuk nggak keluar kamar. Lalu beberapa saat kemudian, aku rasa seperti ada langkah kaki di lorong dan berhenti tepat di depan pintu kamar kita. Saat itu bulu kuduk rasanya berdiri semua! Aku lalu mencoba untuk kembali tenang dan tidur lagi.”

Si resepsionis pun balik dan menyampaikan kalau suara itu mungkin berasal dari pintu teras taman. Kamar kita kan dekat taman dan pintu di situ nggak pernah ditutup. Jadi menurut si resepsionis, mungkin anginlah yang membuat suara berisik dari pintu di pagi tadi. Walau hal ini kita bantah karena aku thoh masih tejaga sampai jam 3 pagi. Kalau memang itu karena angin, logikanya, apakah nggak ada angin selama aku terjaga 2 jam itu? Lalu si angin tiba-tiba datang 1 jam kemudian.. mustahil kan.. Capek berdebat dengan kami, akhirnya si resepsionis ngaku juga, “Don’t worry. She is a good ghost. She is the part of the family.” Jreneegg.. jreeeengggg!! Dia pun menambahkan, kadang ada tamu yang cerita kalau pintu kamarnya ada yang kethok-kethok pas tengah malam. Aku dan schat pun saling pandang.. Untung itu si hantu tadi malam cuma berdiri di depan pintu kamar, nggak ngethok-ngethok! Bahkan pernah ada reality show Ghost Hunters International yang khusus datang ke Italia untuk mencari pembuktian tentang hantu di Malaspina Castle ini. Acaranya semacam uji nyali dan paranormal activity sekitar 4 atau 5 pembawa acara yang disebar di spot terangker kastil dan merekam dengan kamera infra red. Hasilnya? Mereka menemukan suara horor. Lebih lanjut tentang acaranya, silahkan googling sendiri ya 🙂

Beruntungnya, si horor mulai keluar di hari terakhir kami menghuni kastil. Kalau kejadian ini di hari pertama, kayaknya aku ogah balik tengah malah dan merambat di dinding kastil lagi 😀 Tapi.. kok ya ada yang janggal ya. Aku terjaga hampir 2 jam tapi nggak didatengin hal aneh. Bukannya ngarep didatengin ya.. ini aja udah bersyukur 🙂

Schat, ngomong-ngomong kenapa ya kok kamu yang didatengin horor nya? Padahal aku kebangun selama 2 jam. Kalo si horor mau, dia bisa aja datengin aku ya.. Tapi kenapa kok kayaknya dia spesifik hororin kamu aja? Apa yang kamu lakuin sebelumnya? Atau aku nebak, sebelumnya kamu memang pengen ketemu hantu di kastil ini?” pertanyaanku terlontar dengan penuh semangat. Schat pun terdiam sejenak.

Eeem….eem… sebenernya kamu betul. Awalnya aku penasaran pingin liat hantu. Makanya di hari sebelum kita berangkat ke Pisa, aku nyelonong ke seluruh penjuru kamar. Berharap nemuin ruangan paling angker yang kira-kira ada hantunya. Aku ketemu kok ruangan itu. Bikin bulu kuduk berdiri pas masuk di sana….”. Sekali lagi, aku pun cuma tepok jidat menanggapi polahnya.

Beberapa hari seudah balik ke Belanda, aku coba kumpulin info tentang kastil itu. Hasilnya sangat mencengangkan! Konon ceritanya ada legenda rakyat yang berhembus di daerah Fosdinovo. Tentang seorang gadis di abad pertengahan, putri keluarga Malaspina namanya Bianca. Dengan jiwa muda yang membara,  Bianca yang cantik dan kaya ini jatuh cinta kepada pemuda biasa di desa setempat. Bagaikan gayung bersambut, pemuda itu pun membalas cinta Bianca. Jadilah sepang sejoli dalam balutan cinta muda yang menggelora, nekat dan keras kepala. Bak drama Romeo-Juliet, keluarga kaya Malaspina tidak merestui cinta sepasang kekasih ini. Keteguhan cinta Bianca diartikan sebagai pemberontakan terhadap keluarga besar Malaspina. Orangtua yang marah dan malu pun menghukum Bianca dengan mengurungnya di ruang bawah tanah bersama seekor anjing dan babi hutan. Anjing sebagai simbol kesetiaan cinta Bianca terhadap pemuda desa. Sedangkan babi hutan adalah sebagai simbol sikap pemberontakan dan keras kepala Bianca terhadap keluarga besarnya. Cerita Juliet yang dikurung dalam kastil ini awalnya hanyalah dongeng dari mulut ke mulut yang berhembus di sekitar desa. Hingga pada sekitar tahun 2000-an ketika sang pewaris kastil ingin merenovasi ruangan, dia menemukan tulang belulang perempuan, anjing dan babi hutan di ruangan bawah tanah. Maka dongeng yang cuma legenda ini pun akhirnya menemukan bukti. Tulang tersebut disinyalir adalah milik Bianca. Sedangkan hantu yang berkeliaran di kastil pun di duga adalah……  *jawab sendiri ya* 😉

Selain menyimpan cerita misteri, kastil Malaspina juga menyimpan sejarah bisu abad pertengahan. Dante Alliegery yang di usir dari Firenze dikarenakan ajaran agamanya yang bertentangan dengan nasrani katholik Vatikan, diterima di kastil ini oleh bangsawan tuan rumah. Dante diijinkan tinggal di salah satu kamar di kastil malaspina, dilindungi dari serangan musuh dan diijinkan untuk menyebarkan agama sesuai keyakinannya di daerah desa Fosdinovo. Lukisan tentang Dante masih bisa ditemukan di dinding salah satu ruangan terkenal di kastil ini. Bahkan patung dan kamar Dante pun masih di jaga dan bisa dinikmati hingga saat ini.

Yang paling sayang adalah, aku sempat berkeliling di  kastil ini di hari terakhir dan menyusuri lorong-lorong kamar. Tapi setelah di cek di Belanda, foto-foto itu nggak ada! Sampai sekarang, aku masih kehilangan file foto banyak sekali tentang kastil ini. Semoga ini cuma kesalahan teknis ya.. bukan karena ulah noni Italia yang ngambek. 😉

-End-

Italia 7: Firenze (II)

Jujur ya sebelumnya aku ngga begitu familiar dengan kota Firenze. Taunya cuma Firenze tuh markasnya klub sepakbola Italia, Fiorentina. Simbol warna merah yang ada di logo klub Fiorentina pun aku kira gambar ujungnya tombak. hahaha.. parah ya.. jangan diketawain dong! Untung ketemu guide lokal gratis, Leo pemilik Bed and Breakfast kami yang baik yang menceritakan banyak sejarah kota Firenze.

Pada sekitar abad ke-14 ketika Italia masih berbentuk city state, Firenze adalah salah satu city state yang terkuat dan terkaya di Italia. Hal ini berkat kemahiran keluarga Medici membentuk political dinasty. Anggota keluarga Medici tersebar dalam setiap birokrasi city state Firenze bahkan menjalar hingga Kepausan Vatican. Pintarnya lagi, Medici family juga membentuk Medici Bank sebagai bisnis finansial yang melanggengkang kekayaan keluarga besar ini. Pada abad ke-15, Medici Bank pun menjadi Bank terbesar di benua eropa. Seperti kebanyakan bangsawan eropa pada masa itu, keluarga Medici pun mempunyai emblem keluarga, coat of arm. Simbol tameng dengan lima bola merah serta tiga bunga lili emas. Coat of arm inilah yang kemudian menyebar ke seantero Italia, dan terbubuhkan pada simbol keluarga-keluarga yang berhubungan dengan keluarga Medici maupun lembaga yang dibiayai oleh keluarga ini. Bahkan Istana Versailles Perancis pun juga memajang simbol bunga lili ini sehingga disinyalir dulunya anggota keluarga kerjaan Perancis punya hubungan dengan keluarga Medici. Saking kuatnya kekuasaan keluarga Medici dan city state Firence hingga simbol Lili emas pun tak lepas menjadi simbol kota, Lili of Firenze.

Salah satu jasa terbesar keluarga Medici yang lain adalah sumbangsih serta dukungannya yang kuat terhadap seni dan arsitektur. Tidak tanggung-tanggung dana yang dikeluarkan oleh keluarga ini untuk para seniman dan arsitek. Hingga pada puncaknya tahun 1475 ketika Lorenzo de Medici memegang tampu kekuasaan, dengan kekayaanya dan kekuatanya Ia mensponsori para seniman dan arsitektur sehingga mulai tumbuhlah suatu zaman baru di kota ini yang akan menggemparkan seluruh eropa, Renaissance. Banyak seniman terkenal, tokoh serta pemikir hebat yang lahir di era Renaissance  yang mayoritas karyanya juga terlahir di kota tempat lahir Renaissance ini, Firenze. Sebut saja Leonardo da Vinci, Sandro Botticelli, Michelangelo Buonarroti, Raphael, Niccolo Machiavelli, Thomas More, dan lain sebagainya.

Firenze, kota lahirnya jaman Renaissance. Jaman di mana humanisme, seni, ilmu, agama dan kesadaran diri dijunjung tinggi. Beberapa kaum skeptis memandang Firenze cuma beruntung saja karena kebetulan banyak orang hebat lahir secara bersamaan di kota ini dan berkontribusi tinggi. Tapi menurutku sih kalo cuma beruntung aja tapi bertubi-tubi, apalagi namanya kalo bukan berkah langit 🙂 Bahkan Dante Allieghiery juga terlahir di Firenze, tokoh pemikir dan agamawan abad pertengahan jauh sebelum era keluarga Medici berkuasa.

Berjalan-jalan di tengah old city Firenze membuat imajinasi kita berkelana. Back in time di mana jaman keemasan Renaissance berpusat di kota ini. Melihat bagaimana orang pada masa itu menggambarkan keindahan dalam seni dan bangunan.

Siang yang cerah itu seusai mengemasi barang-barang dari BB, kita meluncur menuju old city Firenze. Mobil dan kendaraan pribadi lainnya dilarang memasuki area kota tua. Makanya si kangmas parkir mobil di tempat yang sama seperti semalam. Lalu kita jalan lagi dengan rute yang sama seperti malam lalu 🙂

Kita itu ya bener-bener ngga ada persiapan. Melancong spontan aja. Bahkan buku panduan lonely planet kita beli secara spontan di pedagang suvenir dekat Ponte Vechio!  Haha.. jangan ditiru ya..

Habis buka-buka buku lonely planet Firenze, kita baru mencari jejak! Awalnya kita niat banget mau pasang gembok cinta di tengah-tengah Ponte Vechio makanya nyari-nyari di mana orang-orang biasa pasang gembok cinta tersebut. Tapi pas mo nyebrang Ponte Vechio, alamaaak… rame orang-orang yang sepertinya ngga mau beranjak dari jembatan terkenal ini.  Pantes aja temennya si kangmas pernah bercanda, “Heran! kenapa Jembatan Ponte Vechio itu belum ambruk juga!” Sebagai ungkapan sarkasme atas banyaknya turis yang senantiasa memadati jembatan ini.  

 

 

 Pemandangannya sungguh sangat berbeda dari suasana malam lalu di mana semuanya hanya milik kita berdua.. haha.. Jalanan sepi, cuma tersisa tiga pemuda mabuk yang lagi diceramahin lelaki tua mabuk di dekat patung di tengah-tengah ponte Vechio. Lucu banget deh.. anak muda itu baris seperti regu yang lagi dimarahin ama ketua pletonnya ;D Toko-toko kayu di kanan-kiri jalan juga tutup malam lalu, hingga kita baru tau siang ini kalo toko itu ternyata toko emas!! Hahaha.. tau gitu.. malam lalu.. mumpung sepi.. haha.. Dan setelah kita perhatikan dari buku panduan, ternyata lokasi semalam di mana ada pemuda mabuk itulah tempat kita harusnya pasang gembok cinta! Siang ini pas kita dekati ternyata ada peringatan tertulis, barang siapa mo pasang gembok di area tersebut akan dikenai denda! Nah lhoh! Salah timing! Harusnya malam lalu kita pasang gembok cinta nya pas ngga ada pak polisi berkeliaran di Ponte Vechio…

Perjalanan selanjutnya menuju Piaza della Signora. Piaza ini adalah pusat kota Firenze pada masanya. Sebelumnya flashback dulu ya 🙂

Dari semalam, aku memang ribut mulu penasaran pingin liat David, patung terkenal karya Michaelangelo yang seharusnya ada di Piaza itu. Tapi kita masih belum nemuin di mana si David bersembunyi. Sampai-sampai schatje jadi rada sensi, “Ngapain sih kamu pingin banget liat patung cowok Italia telanjang si David itu?”. Semalam kita juga udah perhatiin kalau pintu masuk bangunan Palazo della Signora diapit dua Patung cowok telanjang. Schatje pun nanya,

Schatje:  “Tuh ada patung cowok Italia telanjang, kamu nggak mau foto ama patung itu?”.

Me: “Menurutmu itu si David apa bukan Yank?”

Schatje: “Emm..kayaknya bukan deh!”

Me: “Ok. Kalo gitu aku ngga mau foto! Satu-satunya cowok telanjang yang aku mau foto bareng cuma David!”

Schatje: “Grrr!! Itu di samping Pallazo ada air mancur dan patung bagus. Kamu mau foto nggak?”

Me: “Mmm.. ogah ah! Aku maunya David aja!”

Begitulah kesebelan si Schatje pada akang David bermula! ;D Hingga akhirnya kita buka buku panduan lonely planet yang ternyata mengungkapkan bahwa si mas-mas telanjang di depan pintu masuk Palazo itu memng David! Tapi bukan versi aselinya. Ini adalah versi tiruan yang dibuat oleh pemerintah Firenze,  patung aselinya ada di museum. Sedangkan patung air mancur di dekat Palazo itu adalah tiruan patung terkenal Fontana de Netuno alias Fountain of Neptune karyaue of Cosimo karya  Bartolomeo Ammannati. Menyesal ya! Karena semalem itu sepi!! Nggak ada turis.. Dunia milik berdua yang lain ngontrak..! Sekarang patung-patung terkenal itu sudah dikerubutin orang-orang. Susah untuk dinikmati dan di foto dengan leluasa. Tapi banyaknya turis dan sengatan matahari tetap tidak menyurutkan kita untuk duduk sejenak menikmati titik pusat kelahiran Renaissance ini. Selain David dan Fountain of Neptune setidaknya terdapat minimal 3 buah patung tiruan dari artis terkenal lain lagi yang sengaja di pajang di Piazza ini. Tiruan The marzocco, singa Florence karya Donatelllo, tiruan Judith and Holophernes karya Donatello, Perseus karya Benvenuto Cellini, Equestrian statue of Cosimo I karya Giambologna dan masih banyak lagi.

 

 

Puas menikmati Piaza, kita niat jalan ke Duomo tanpa rute. Cuma berdasarkan feeling rute semalam! Ternyata itu adalah tindakan yang kurang terpuji ya saudara-saudara.. karena kita nyasar! Hahaha.. Tapi inilah yang menarik dari Firenze. Walau kita nyasar di salah satu lorong, kita nggak akan menyesal! Coba tebak apa yang kita temukan di kala nyasar? Casa di Dante! Alias rumah Dante Allieghiery, pemikir dan agamawan terkenal abad pertengahan. Sungguh penyasaran tanpa penyesalan! Kalau ngga nyasar, mungkin aku pribadi ngga akan pernah tau ternyata Dante adalah orang Firenze dan bahkan rumahnya masih utuh bisa dilihat sampai saat ini karena digunakan sebagai Museum. Bagi yang tidak mengenal Dante, beliau adalah seorang pendeta, sastrawan dan pemikir. Ilmu sosial dan politik menggolongkan Dante dalam paradigma idealisme. Karya terkenalnya adalah Comedia.

 

Setelah menyasar bahagia, akhirnya kita liat kubah Duomo semakin dekat. Duomo yang besar ini bukan hanya indah tapi juga menarik puluhan turis untuk antri memasukinya. Aku dan Schatje mutusin buat ngga masuk ke dalam Duomo mengingat sisa waktu kita yang terbatas. Kita harus nyampe di Fosdinovo sebelum tengah malam karena pihak hotelnya susah untuk dihubungi.

Bangunan Baptestery of st. Giovani dibangun di atas situs pemujaan dewa romawi dan mengalami perenovasian di beberapa generasi. Aselinya Baptisery ini didirikan pada abad ke-4 tapi pintu emasnya dibuat pada tahun 1425 oleh Lorenzo Ghiberty. Saking indahnya pintu emas ini sampai-sampai Michaelangelo menjulukinya Gate of Paradise. Pintu gerbang ini terdiri dari sepuluh relief yang menceritakan tentang kejadian-kejadian yang ada di kitab suci umat nasrani seperti penciptaan Adam dan Eva, Abraham dan pengorbanan Isaac, Solomon and the queen of Sheba, The sacrifice of Noah and his family, dan lain-lain.

  

Katedral Firenze yang sangat besar dan menarik ini didirikan pada abad ke-4 dan 5 serta juga mengalami perenovasian dalam beberapa generasi. Puncak perenovasian adalah pada tahun 1300 ketika masa Renaissance berjaya dan seniman-seniman hebat bermunculan di Firenze. Duomo atau Katedral yang didominasi marmer putih, hijau dan merah ini bahkan terlalu besar untuk dapat diabadikan dalam sekali gambar foto.

 

 Belum puas berkeliling Duomo Firenze tapi waktu sudah mepet sekali maksa kita segera cabut ke Fosdinovo sebelum gelap. masih terlalu banyak cerita tertinggal di Firenze. Jejak peradapan dan keindahan arsitektur kota yang belum kita saksikan langsung dengan mata kepala. Sedih rasanya ketika terpaksa meninggalkan Firenze dengan sangat cepat. But Don’t worry Firenze, we’ll be back buat masang gembok cinta di Ponte Vechio-mu 😉

Italia 6: Firenze (I)

Sudah banyak teman-teman yang ngomong tinggi dan memuja-muja kota Firenze. Membuat aku sangat penasaran seperti apa sih kota pujaan banyak orang yang konon katanya sangat cantik itu! Jam 5 sore kita pergi dari Siena menuju Firenze. Waktu perjalanan yang dibutuhkan dengan kendaraan roda empat adalah 3 jam. Jadi di perkirakan jam 8 kita akan sampai di Firenze. Menyadari kalau kita akan telat, kita pun menghubungi pihak Bed & Breakfast (BB) yang udah kita pesan kalo kemungkinan kita nyampai jam 8-an. Untungnya pihak BB ini sangat kooperatif dan bersedia menunggu kita walo telat datang dari perjanjian awal ;D

Kesan pertama dengan lalu lintas di kota ini adalah cukup nyaman dan luas kalau dibanding Perugia maupun Sienna. Tapi tetep ya.. yang namanya nyasar itu memang nggak bisa dihindarkan. Berbekal alamat dan peta kota Firenze, kita mencoba menemukan lokasi BB. Kerasa deh kayak lagunya Ayu ting ting.. “di mana.. di mana.. di mana…” Untungnya.. si kangmas canggih baca peta nya! Kalo cuma berbekal navigasi peta dari eike, paling ujung-ujungnya kita bisa nyasar ke Gellateria ato Pizzeria! ;D

Setelah dua kali putaran di lokasi yang kita curigai akhirnya ketemu juga itu alamat! Bed and Breakfast Beautiful Florence. Logonya kecil sekali dan cuma dipasang di depan pintu. Tepat pas kita jalan ke arah pintu, ada cowok Italia masih pake helm nyamperin kita dan nanya, “Are you the Bed & Breakfast’s guest?”.

Namanya Leo, pemuda Italia pemilik BB Beautiful Florence. Sehari-hari ia kerja di perusahaan minyak, sedangkan BB ini cuma bisnis sampingannya. Leo dengan ramah menerima kita sambil menunjukkan letak kamar yang udah kita pesan di lantai 2. Standart sih, tanpa AC tapi breakfast udah di jamin. Yah namanya juga Bed and Breakfast masa nggak dikasih breakfast ya! ;D  Pertimbangan kita waktu pilih BB ini adalah karena banyak hotel di area kota tua udah penuh. Lagian kalaupun masih kosong, harganya melonjak gila karena tarif musim panas dan Firenze tak pernah sepi dari kunjungan wisata. Seperti hukum ekonomi, demand tinggi, harga naik. As simple as that! 😉 Lagi pula kita juga cuma 1 malam nginap di Firenze dan bisa dibilang cuma numpang tidur karena seharian kita akan kelayapan.. Maka nggak masalah buat kita untuk mengorbankan sedikit kenyamanan. Tentang lokasi, BB ini emang letaknya di luar kota tua. Buat pergi ke kota tua bisa ditempuh dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi. Letak halte bus ke arah kota tua nggak jauh dari BB ini kok. Tinggal nyebrang jalan aja.. Sedangkan buat kita karena ada kendaraan pribadi maka lokasi BB ini yang diluar kota tua tidak menjadi masalah.

Leo adalah tuan rumah yang baik. Selain menjelaskan lokasi BB dan apa aja yang bisa kita lakukan di sekitar BB (misal makan di pizzeria & transportasi) Leo juga suka diajak ngobrol dari hal ringan sampai serius. Klop lah sudah si kangmas ketemu teman ngobrol.

“Leo, kita penasaran tentang krisis ekonomi yang melanda Eropa. Menurut kamu sebagai orang Italia, apakah krisis ini punya dampak yang berarti bagi kehidupan sehari-hari orang Italia? Karena, jujur aja selama kita road trip di Italia ini kita perhatiin bisnis masih jalan dengan baik, restoran masih juga ramai dan jumlah turis yang berkunjung ke tempat wisata serta rela antri sungguh gila walau suhu 40 derajat celcius. Sung

guh tidak mencerminkan sebuah negara yang butuh suntikan duit dari Uni Eropa! Lalu ke mana semua uang dari bisnis pariwisata itu pergi? Apa Italia tidak bisa mengatur uang? Karena aku yakin bisnis wisata di Italia ini sungguh berdampak besar bagi devisa negaramu!” Yak, begitulah pertanyaan pertama si kangmas terucap. Persis kayak kreditur eropa barat yang lagi menganalisa dan mempertimbangkan permintaan utang nasabah! Aku sih nikmatin aja obrolan mereka sambil makan kacang ya! ;D

“Ya. Buat kita orang Italia krisis ekonomi ini berat. Banyak dari kita yang tidak bisa mengandalkan hidup hanya dengan satu mata pencahariaan. Seperti aku misalnya, aku masih butuh bisnis ini selain dari kerjaanku sehari-hari untuk bisa membuat dapur tetap mengepul. Banyak orang yang punya dua hingga tiga kerjaan sekaligus saat ini sebagai upaya mereka bertahan dari krisis. Karena krisis ini juga, kita mempertimbangkan untuk kembali tinggal bersama keluarga lagi. Mungkin tidak
seperti kamu di Belanda yang bisa pergi dari rumah ketika remaja dan hidup sendiri. Di sini perekonomian kami tidak memungkinkan untuk bisa hidup mandiri seperti itu. Tetap tinggal bersama orangtua merupakan pilihan terbaik saat ini untuk bisa saling meng

hemat dalam perekonomian. Masalahnya sebenarnya terletak di generasi orangtuaku. Mereka adalah generasi yang tidak berpikir panjang. Mereka hidup untuk hari ini dan berusaha selalu senang setiap harinya. Memang bagus dan menyenangkan untuk punya hidup seperti itu. Tapi dampaknya baru dipetik oleh generasiku. Kamilah yang harus menanggung hutang serta hidup tanpa jaminan kesejahteraan sosial. Sungguh beruntung kamu sebagai generasi muda Belanda. Sedangkan tentang bisnis pariwisata, kamu benar bahwa bisnis ini menyumbang devisa besar kepada negara. Banyak pajak dan pungutan yang harus kami serahkan sebagai pemilik tempat penginapan seperti ini. Tapi tentang pertanyaan ke mana uang-uang itu? I’ve nothing to say! Korupsi di tataran pejabat Italia tidak bisa diawasi lagi.”

“Oh..sungguh sayang sekali Leo padahal Italia sangat indah dan banyak potensi. Baik potensi sumber daya alamnya, pertanian buah dan sayur, perkebunan anggur, wisata maupun sumber daya manusia yang bisa membangun kota-kota ini deng

an arsitektur dan bangunan megah! Jalan tol yang kalian punyai sungguh hebat dengan rute yang panjang dan infrastruktur yang baik. Sebagian besar bahkan membelah pegunungan dengan tunel-tunel. Sungguh sangat disayangkan! Leo..boleh nggak kita nanya lagi? kita sangat heran. Pas kita di Roma, kita ketemu banyak orang menyebalkan, kasar dan tidak sopan. Apakah semua orang Italia begitu?” Percaya ato enggak si kangmas beneran nanya ke orang Italia apakah mereka menyebalkan! ;D

“Oh…ya! Orang Roma memang menyebalkan. Mereka merasa merekalah Roman, tinggal di kota besar dan segalanya. Aku juga nggak suka orang Roma. Tapi percayalah, orang Firenze tidak seperti itu. Kami di Firenze lebih ramah dan sopan. Pokoknya asalkan kamu keluar dari Roma sampai ke Tuscani, kamu bisa ketemu orang-orang Italia yang baik dan ramah.” hihi entah narsis atau memang benar adanya tapi begitulah tanggapan Leo. Namun fakta bahwa Leo ramah ke kita udah cukup membuktikan kalo ada orang Italia yang ramah! ;D Dan setelah kita pikir lagi, resepsionis hotel di kota Sienna juga ramah. Sangat berbeda dengan resepsionis hotel di Roma yang kita singgahi.

Selesai ngobrol, kita mampir

ke Pizzeria terdekat rekomendasi Leo. Leo bilang tempat ini adalah favorit orang lokal. Nah tempat kayak ginilah yang susah kita temuin di Roma yang mayoritas tourist oriented. Seneng banget bisa ngerasain tempat kayak gini dengan cita rasa lokal dan bukan tourist based. Harganya pun harga lokal tanpa tourist trap. Di sini keramahan orang Firenze kembali terbukti. Koki pizzeria ini sangat ramah milihin pizza yang mungkin cocok buat kita. Rekomendasinya adalah Pasta al maghiare buat aku yaitu pizza berisi seafoods dengan bumbu asam manis pedas. Sedangkan pasta ala cabonara buat schatje. Terus pizza keju dan Jamur untuk kita maem bareng. Yang menarik di pizzeria ini, adalah si koki ngga cuma masakin buat kita tapi juga jelasin kebiasaan orang lokal. Misal, jangan naburin keju di atas pasta al maghiare (which is I did! ;D) karena akan merusak cita rasa, jangan nambahin jamur di pizza (which is based on my order!;D) karena air yang keluar dari jamur selama proses pemanggangan akan ngerusak pizza nya, minum wine tertentu selama makan pasta tertentu untuk ngebuat rasanya match dan serasi. Dan yang nggak

 kalah penting adalah makanlah pizza langsung dengan tangan tanpa bantuan garpu, pisau maupun sendok. Ceritanya, saking makanan itu enak maka si tamu akan makan lahap tanpa alat bantu makan. Ini juga menjadi wujud apresiasi terhadap si pembuat makanan. Selain itu, hal ini juga merupakan simbol kedekatan tamu dengan tuan rumah. Seolah tidak ada jarak dan merasa seperti berada di rumah sendiri bersama keluarga sendiri. Intinya adalah kehangatan dan keramahan tentunya! Ok Firenze, you win our hearts! 🙂

Selesai makan, hari sudah hampir jam 11 malam. Tapi kita masih terlalu excited pingin segera mengeksplore kota Firenze. Maka kita putuskan untuk ciao ke kota tua. Mobil schatje di parkir di luar kota tua. Dekat dengan sungai yang akan melewati Ponte Vechio yang terkenal itu. Kita jalan kaki romantis menikmati suasana malam Firenze tanpa turis! Rute yang kita lewati adalah Ponte Vechio, Piazza della Signoria, Duomo trus balik lagi ke parkiran dan pulang ke BB. It’s really a romantic night with romantic companionship in the romantic city of a romantic country! What a perfect day! 🙂 *sensor!*

 Mau tau cerita lengkap tentang indahnya kota tua Firenze? Sabar ya.. tahan penasaran anda dan tunggu tulisan saya selanjutnya!! ;)) Hahahaha..

Italia 5: Perugia-Siena

Pagi ini di hari senin, kita ambil mobil di kounter Avis di stasiun Termini. Rencananya kita memang mau Road Trip dari Roma menuju Genoa/Milan. Mobil yang kita pesan adalah seri Opel warna hitam yang cukup gesit. Perjalanan Roma-Perugia memakan waktu 4 jam.

PERUGIA

Perugia itu Ibukotanya Umbria. Awalnya, kita terlalu mengunder-estimate Perugia. Tanpa bekal peta maupun penunjuk jalan yang rinci, kita gowes aja on the spot. Kita kirain, kota ini tak seberapa luas, tapi ternyata kita salah. Selain jarak antara city wall ke city center nya lumayan jauh, kota ini juga indah dengan beragam toko fashion branded yang berjajar sepanjang jalan utama kota. Jalanannya jangan dibayangkan beraspal ya.. sama seperti kota tua eropa yang lain, jalananan di kota ini masih terbuat dari susunan batu-batu yang sudah diratakan dan lumayan nyaman untuk berjalan. Beberapa bangunan iconic kota ini tentu saja Pallazo dei Priori atau Town Hall yang terdapat Fontana Maggiore di depannya. Selain itu juga tangga medieval yang sangat menarik untuk diabadikan dengan kamera kita. Selebihnya, silahkan untuk menjelajahi jalan-jalan kota ini dan rasakan sendiri sensasi suasananya!

 

  

Setelah dinner di Perugia, kita lanjutkan perjalanan menuju Sienna. Hari sudah mulai gelap, sekitar pukul 10 malam. Diperkirakan sekitar pukul 12 kita bisa sampai Sienna dengan catatan tanpa nyasar ya 😉

SIENNA

Benar saja, hampir tengah malam kami nyampai di Sienna. Hotel yang kami pesan berada di luar old city Sienna. Maklum aja waktu itu pas summer plus kita nge-dadak booking-nya. Jadi, hotel-hotel di dalam kota tua udah pada penuh ter-booking. Untung pihak hotelnya baik, sebelumnya si kangmas udah hubungi kalo kita mau datang telat. Mereka pun bersedia meletakkan kunci kamar di meja resepsionis yang sudah tanpa penjaga. Jadi kalo kita nyampai tengah malam, tinggal ambil amplop berisi kunci yang udah disiapkan oleh pemilik hotel khusus buat kita.

 

Pagi hari yang cerah, kita isi dulu bahan bakar perut kita sebelum city tour Sienna ya… Ternyata hotel ini cukup nyaman dengan pemandangan taman yang bagus serta buffet breakfast yang lumayan lengkap. Kebiasaan jadi kambuh nih, ronde breakfastnya nambah ;D Croisant, cup cake, pie, sandwich, sereal, you name it-lah! pokoknya lengkap..kappp! 🙂

 

 Sienna termasuk ke dalam World Heritage City yang dilindungi oleh UNESCO. Walau sudah eksis sejak jaman Romawi kuno tapi kejayaan kota ini memuncak kala menjadi city state pada abad 12 dan dikenal sebagai money lending city dalam perdagangan wol. Piazza del Campo menjadi pusat kehidupan masyarakat pada masa itu.

  

 

Menjelajah kota ini sangatlah menarik. Jalanannya bisa dibilang sangat sempit bila dibandingkan dengan tinggi dan besarnya bangunan yang ada disekitarnya. Jadi kesanya seperti berjalan di lorong, diapit oleh bangunan tinggi besar di kanan-kiri kita. Tapi bentuk tata kota seperti ini ternyata bermanfaat juga terutama buat menghalau teriknya sinar matahari Italia di musim panas yang seringkali mencapai 40 derajat celcius. Lumayanlah, udah gosong nih empat hari di Italia, di Sienna jadi  bisa neduh-neduh bentar! ;D Sambil sesekali mampir di kedai Gelato, mengeksplorasi home-made ice cream Italia yang bener-bener kaya rasa ini. Sesekali? eh salah.. selama di Sienna, kita dua kali nyangkut di Gellateria! Masing-masing, selalu 3 rasa. Jadi total hari itu aku nyicipin 6 rasa gellato! Gellato di Italia emang ngga ada bosen nya. Walau namanya sama-sama Strawberry tapi di tiap beda toko selalu beda rasanya. Gellato Italia memang bergantung pada resep masing-masing toko. Makanya nyicipin gellato itu serasa ngga ada habisnya! Dan menurut aku pribadi, selama 9 hari jalan di Italia, Gellato in Sienna is the best and in my top list most favorit one! 🙂

Terus, kita lanjut ke Duomo Sienna. Seperti kebanyakan Duomo lain di Italia, Duomo di Sienna pun terbuat dari marmer. Warna putih mengkilat di Duomo ini menambah daya tarik cantiknya tempat ini. Kita sempatin untuk duduk menghadap Duomo sambil menikmati sore kita dan mengabadikan momen kebersamaan ini 🙂

 

Sienna pun kita akhiri dengan satu cup gellato sambil memandangi Piazza del Campo lagi! ;D Ini foto-foto dari Bar Gellateria favorit saya! Lokasinya ngga jauh kok dari Piaza. 🙂

        

Gellateria terlezat se-Italia, versi saya!! :)       

 

 

 

 

Italia 4: Roma (II)

Hari ketiga di kota Roma, kita putuskan untuk menjelajah kota ini. Sebenernya ada banyak agenda dan tempat menarik yang ingin kami kunjungi seperti Coloseo, Forum Romana, Piaza Venezia, Fontana de Trevi, Pantheon, Piaza de la spagna, Piaza del papolo dan Museleum de Agustus. Tapi rasa-rasa nya jadwal terlalu padat hingga kami serahkan saja pada waktu. Just go with the flow and enjoy the highlight. Ngomong-ngomong soal Fontana de Trevi, ada cerita menarik di sabtu malam lalu ketika kami memutuskan untuk menghabiskan sisa malam dan dinner di sana seusai dari Castle d’Angelo. Masih inget kan di tulisan Italia 1 tentang ‘Dont do list’? Well, akhirnya kita ketemu juga yang macam begituan! ;D

Diantara kepadatan manusia-manusia yang berhiruk pikuk di Fontana de Trevi, kami membaur di sana dan berusaha membuat foto pasangan dengan posisi si kangmas ambil gambar kita dengan tangannya sendiri. Tiba-tiba datanglah fotografer lokal yang menawarkan bantuan “Can I help you with your camera?“, yang sepertinya baek ya. Tapi kami tidak tertipu, kami sudah tau trik mereka, then we sayNo!”. Tapi rupanya patah satu tumbuh seribu! Bukanya pada pergi ya si fotografer lokal itu malah berdatangan silih berganti nawarin ‘bantuan’ yang sama kepada cute couple yang sedang berusaha membuat foto romantic mereka di fontana ini ;p Dan ngeselinnya, mereka itu ngotot! Nawarin ‘bantuan’ kok ngotot ya! Plus makin lama makin berani maen serobot kamera aja lho! Sampe-sampe kita ngga bisa bikin foto bersama dengan tenang karena gangguan berdatangan silih berganti, bisa dibilang 5 kali lebih. Saking keselnya karena diganggu mulu ama orang-orang ini terutama sampe udah berani nyerobot kamera, akhirnya si Kangmas ngamuk juga. “No, we dont need your help! please go, leave us alone! If I see you once again you`ll find your own camera in the fountain!” Bukanya nyadar dan segera pergi ya si fotografer ini malah ngedumel pula! Ckckck…  Kejadian malam itu cukup membuat si kangmas antipati kepada Fontana de Trevi. Kalau bukan karena demi ayanknya yang terlalu excited dengan Trevi ini, rasa-rasanya kangmas kagak mau balik selamanya ke sana! ;D

Di hotel minggu pagi itu, diawali dengan pertanyaan si kangmas, “Are sure you will use that shoes?” karena aku bersikeras untuk mengenakan sepatu trepes cewek dari pada sepatu kets. Alasanku, karena Italia panas dan aku malas pakai kaos kaki. Di tambah lagi aku pakai rok, ngga lucu kan kalo pakai kets ;D Perjalanan hari minggu pagi kami awali dari hotel menuju Coloseo dengan metro line B. Dari pemberhentian Castro pretorio, kami akan melewati Termini, Cavaour lalu berhenti di Coloseo metro stop. Sesampai di Coloseo jam 10, antrian nya menuju gerbang pintu masuk nya alamaak! Setelah duduk-duduk menikmati suasana dan mengambil beberapa gambar, akhirnya kami putuskan untuk tidak masuk ke Coloseo dengan pertimbangan antrian yang ujubusyet itu!

 

Kami pun menuju ke Forum Romano, tempat yang paling di idam-idamkan oleh si kangmas yang penggemar Roman Empire! Tapi ternyata antrean nya juga tak jauh ujubusyet walo sedikit lumayan. Karena rada pundung dengan antrean, si kangmas celingukan ke kasir dan aku diminta tunggu di antrian. Lalu akhirnya kangmas menemukan pemberitahuan tentang kartu sakti milik kami, Roma Pass! Dengan kartu itu kita bisa meloncati antrian dan masuk melalui jalur khusus! hahaha… Then he said, “This is the only first time I`m happy that we bought this card! ternyata ada gunanya juga nih kartu! hahaha…” Kami pun masuk dengan semangat sambil diikutin pelototan mata orang yang heran karena kami melenggang masuk tanpa antri ;D

Ternyata Forum Romana itu luaaas sekali! Sekarang saya menyesal meninggalkan sepatu kets di hotel 😦 Aku mulai jalan tertatih-tatih dan kaki lecet luka. Muka cembetut, kaki lecet, aku bener-bener ngga bisa menikmati tempat ini. si ayank mulai menyadari dan nanya, “Are you ok? you seems that you do not happy?”.

Me: “Im ok.”

Schat: “No, you are not! What happen to your feet?”

Me: “Well, I just dont want to complain about a thing that I alreday decide by my selft, honey..”

Schat: “Hmm..? What is that? Tell me!”

Me: “My feet is hurt! I should listen to you more… 😦

Kangmas menghela nafas melihat ayanknya yang kepayahan berjalan. Dilema juga, Forum Romana ini adalah tempat favoritnya. Dan jujur, aku sangat tidak ingin mengganggu keasyikannya dengan rengekan tidak penting atas kakiku. Tapi walau nggak penting, lecetnya si kaki ini minta ampun deh 😦 Sampai di suatu titik, si kangmas memutuskan untuk meminta aku menunggu di bawah pohon yang rindang sembari dia berkeliling sendiri. Tentu aku setuju, kaki ini benar-benar tidak bisa di ajak kompromi.

Puas menjelajahi Forum Romana, atas saran si kangmas, kita balik lagi ke hotel untuk ganti sepatu! Ribet banget ya cewek itu! ;D Well done! My feet is happy now! Lets go to the Trevi Fountain again! ;D

Oh ya, kita putusin untuk naek metro line B menuju Coloseo terus jalan menuju Piaza Venezia, baru naek bus ke Fontana de Trevi. Keputusan buat jalan dari stasiun metro Coloseo ke Piaza Venezia ini ngga akan pernah kita sesali karena pemandangannya fantastik! Coloseo ada di punggung kami dan di depan kami ada Monumento Nazionalle a Vittorio Emanuele II dan di kanan-kiri kita ada pepohonan unik menarik.

Selanjutnya, balik lagi ke Fontana de Trevi.. Trevi bisa dibilang sebagai pusat hingar bingarnya turis. Terdapat banyak restauran, Pizzaria, Gellateria yang buka sampai jam 10 an malam yang bisa kita pilih sesuai selera kita. Selain itu, di sini juga tempat terbaik untuk shopping cendera mata buat oleh-oleh. Selain harganya yang rata-rata lebih murah daripada di tempat lain juga toko yang banyak sehingga membuat kita punya pilihan lebih. Siang itu turis ngga sepadat malam kemarin. Beda dari ke-histeria-an kemarin, kali ini kita bisa lebih santai dan duduk menikmati air mancur ini. Sayangnya, Trevi sedang ada perbaikan, Jadi patung di sebelah kirinya ditutup untuk reparasi. Tapi acara lempar koin tetep ngga lupa dong.. Orang-orang percaya kalau kita lempar koin dengan tangan kanan melewati bahu kiri atas dan posisi badan memunggungi kolam maka suatu saat kita akan kembali ke Roma. Ambil deh 2 koin recehan 500 rupiah, daripada lempar euro kan sayang ;D Lalu dalam hitungan ketiga, kita kompak untuk lempar koin bareng. Semoga kembali lagi ke Roma bersama-sama 🙂

Dan btw fotografer-fotografer lokal itu masih dong di situ. Dengan trik yang sama, mereka lakukan jasa ‘menolong’ memfotokan lalu meminta upah seusai memfoto kepada turis-turis. Ternyata menarik juga memperhatikan bagaimana turis-turis itu merasa ditipu. Yang awalnya happy lalu berubah cemberut atau kadang marah seusai si fotografer lokal minta upah dadakan! Finally, we do enjoyed the fountain with a delicious gellato off course! ;D

Karena letak Pantheon tak seberapa jauh dari Trevi jadi kita jalan kaki ke sana. Cuma di gang sebelah kok. Asal kita ngga nyasar, deket aja tuh Trevi-Pantheon. Maka jangan lupa siapkan peta/google map sebelum jalan ya. Pantheon termasuk ke dalam bangunan Romawi kuno. Dulunya di bangun oleh Kaisar Agustus sebagai tempat pemujaan terhadap dewa-dewa romawi kuno. Namun pada masa Vatican berjaya, Pantheon pun sempat dirubah menjadi gereja. Sayangnya, Pantheon sudah tutup jam 5 sore. Jadi kita cuma bisa leyeh-leyeh di depan lalu mampir ke Tazza D`Oro coffee shop yang direkomendasikan oleh trip advisory. Secangkir espresso Italia pun dipilih oleh si kangmas yang penggemar kopi. Hanya dengan porsi satu sloki kecil nampaknya dia sudah senang. Bagi yang suka strong kopi (and no sugar offcourse) espresso Italia adalah pilihan terbaik!

Terakhir, kami naik bus menuju Barberini metro stop untuk naek metro line A menuju Piaza de Spagna metro stop. Cukup satukali stop saja dari metro Barberini ke Piaza Spagna ini. Kami pun menikmati evening time in the Spanish steps. Bagi aku pribadi, tempat ini tidak semenarik tempat lain yang sudah kita kunjungi di Roma. Spanish steps adalah sebutan untuk tangga yang menghampar menuju gereja dengan arsitektur Baroque. Tapi thoh selama ini kita udah liat banyak arsitektur serupa tersebar di kota Roma. Tapi bagi anda yang pingin shopping barang-barang branded mungkin di sini tempat yang cocok. Tersebar toko-toko dengan merk terkenal di area ini. Sayang pas kita sampai di sana semua toko sudah tutup. Kesan nya jauh berbeda sekali dengan hingar bingar di Trevi maupun piaza navona. Bahkan untuk menemukan restoran pun susah. Jangan juga mengharapkan ada toko suvenir di sini. Maka malam terakhir kami di Italia pun usai sudah. (Bersambung)

Italia 3: Vatican

Sabtu pagi kita semangat banget mau pergi ke Vatican. Kita memutuskan pergi hari sabtu setelah mempertimbangkan informasi bahwa Museo alias musium Vatican tutup di hari minggu. Sayang kan sudah pergi ke Vatican tapi ngga masuk ke Musium. Dan ternyata keputusan kami untuk memilih memasuki Museum Vatican adalah sesuatu yang tidak akan pernah kami sesali!! It`s Wonderful!

Diawali breakfast di hotel, seorang pria Italia membawakan dua piring berisi croissant dan roti kering. Petugas pelayan makan pagi ini pun menawarkan kopi, capucino, machiato, atau latte pada kami. Hmm… Italian coffee at breakfast time!! Saya pun memilih Capucino 🙂 Si Kangmas yang memang penggemar kopi tentu saja tak mau melewatkan espresso ala Italia 🙂

Masalah perut sudah beres, maka kami pun tancap menuju Vatican, dengan sebelumnya mampir dulu ke minimarket dekat hotel untuk membeli persediaan selama perjalanan, roti dan air. Siapa tahu  nanti kami keasyikan di Vatican dan ngga ketemu pedagang asongan pas perut keroncongan ;D

Pergi ke Vatican dari hotel kami dapat ditempuh dengan Metro. Sebelum berlanjut, Aku jelasin dulu ya tentang metro di Roma. Terdapat dua line metro di Roma, Line A dan Line B. Kedua Line ini hanya bertemu satu kali yaitu di stasiun Termini saja. Castro Pretorio ada di Line B bersama Coloseo. Sedangkan pada Line A terdapat Barberini (pemberhentian untuk Trevi Fountain), Spagna (pemberhentian untuk Spanish steps) serta Cipro (Museum of Vatican). maka dari Castro Pretorio kami akan transit di Termini dan pindah ke metro Line A jurusan Batistini, nantinya kami akan berhenti di Cipro. Metro di Roma ini sangat tepat waktu dan berhenti hanya sekian detik saja di masing-masing pemberhentian. Maka kita harus cepat! cepaat!! dan cepaaaattt!!! Tapi jangan lupa manner ya.. malu-malu in ih kalo ndorong orang-orang demi diri sendiri 😉 Well, selama aku di sana sih aku perhatikan semua orang tertib namun tetap cepat. fasilitas metro? emm.. sebenarnya tergantung kita beruntung or enggak. Karena ada dua kereta yang dipakai untuk metro. Yang satu tua tanpa AC dan penuh coretan, dan yang lain baru dengan AC. Masalah kecepatan, keduanya sama-sama cepat, jadi walau tanpa AC tapi perjalanannya tetap cepat sampai kok. Fasilitas di dalam stasiun metro cukup nyaman dengan AC . Hal ini patut diacungi jempol mengingat di musim panas suhu Italia mencapai 40 derajat celcsius. Bisa dibayangkan dong kalau stasiun metro yang notabene di bawah tanah tidak ada AC nya? Bagi anda yang kebelet pipis di area pemberhentian metro, silakan di tahan dulu ;D Sejauh pengamatanku, Aku ngga nemuin toilet satupun di stasiun metro manapun tuh  ;D Naek eksalator menuju pemberhentian metro Italia merupakan pengalaman menarik menurutku. Membuat aku berpikir betapa orang Italia membangun stasiun bawah tanah ini dengan batu-batu yang sangat kokoh. Coba sekali saja eskalator ini berhenti bekerja, aku jamin orang-orang akan kepayahan menuruni/menaiki tangga yang sangaaaaaat tinggi ini. That will be really their very BAD day!! ;D Banyak orang yang menyangsikan Italia dan hanya memandangnya sebelah mata, maka robahlah cara berpikir Anda! Negeri ini kaya dan punya potensi. Pembangunan metro ini saja pastinya cukup menelan biaya yang tidak sedikit, mengingat betapa kokohnya batu-batuan yang dipakai sebagai materialnya.

Sampai di Cipro sekitar pukul 10 pagi. Sebenarnya kami sangat khawatir mendapat info dari teman bahwa antrian di Museum Vatican itu sangat panjang apalagi pada musim panas seperti ini bisa mencapai dua jam. Ditambah lagi bila kita ingin memasuki Basilica, kita harus mengantri lagi dengan antrian yang lebih panjang karena untuk memasuki Basilica tidak dipungut biaya. Namun ternyata, antrian sama sekali tidak panjang. Tidak sampai 10 menit kami mengantri di loket pintu masuk. Harga tiket Musei Vaticani adalah 15 euro. Bila kita punya student card dengan usia dibawah 26 tahun, tunjukkan kartu kita. Syukur-syukur di diskon tiket masuk seperti saya, cukup membayar 8 euro sajah 😉

Bersiaplah untuk ternganga-nganga selama memasuki Musei Vaticani. Tempatnya sangat luas dengan berbagai macam benda seni dipajang di sana-sini. Aku dan si Kangmas setuju bahwa setiap memasuki ruangan baru, selalu saja berbeda dan lebih indah. Semakin mendekati Sistine Chapel semakin menakjubkan saja. Betapa jeniusnya artis yang melukis atap-atap Vatican dengan sangat mewah dan elegant. Semua orang biasanya suka buru-buru pingin segera pergi ke Sistine Chapel. Tapi aku sarankan untuk, take your time and enjoy the journey to the Sistine Chapel! Karena di Sistine Chapel sangat padat oleh orang-orang yang tidak mau beranjak. Jadi kita akan kesulitan untuk benar-benar mencari rasa nyaman, ditambah si petugas pintu yang sedikit-sedikit berteriak “Sssssssttttt!!!! Silence!!”.   

 

Oh ya, kita diperbolehkan memotret selama memasuki Musei Vaticani, kecuali di Sistine Chapel. Berikut aku bagi-bagi hasil jepretan selama terkagum-kagum di Musei vaticani ya 🙂

 

 

 

Sampai di Sistine Chapel, semua pengunjung diminta untuk tidak memfoto dan tidak berbicara. Masuk akal sih, ini kan tempat ibadah. Sampai saat ini, Sistine Chapel masih digunakan para Paus untuk bermusyawarah dan memilih Paus baru. Michelangelo melukis sendiri di Sistine Chapel dengan karya-karya yang mengabadikan namanya, seperti The Creation of Adam di langit-langit Chapel dan The Last Judgement tepat di dinding altar.  Sebenarnya, kita mungkin sangat familiar dengan lukisan The Creation of Adam ini, di mana Adam berusaha meraih tangan Sang Bapa setelah Adam di usir dari langit. Kalau kamu masih penasaran, silahkan meng-googling dua lukisan terkenal tersebut.

Puas menikmati Musei Vaticani, kami menuju Basilica. Basilica masih aktif digunakan hingga saat ini. Setiap hari minggu, paus akan memimpin doa di Basilica. Beruntung bagi kami, lagi-lagi tidak ada antrian memasuki Basilica. Oh ya, ada aturan yang cukup ketat diberlakukan untuk memasuki Basilica, khususnya bagi perempuan. Dilarang mengenakan rok/celana mini di atas lutut, serta baju yang menunjukan lengan dan dada (tank top, kemben, dsb). Jika ada yang nekat mengenakan baju yang tidak berlengan, petugas pintu masuk pun tidak akan segan mengusir. Bagi pria, di minta untuk membuka topi dan kacamata hitam. Intinya, persiapkan diri dengan baik. Kenakan baju sopan yang menutupi dada, bahu dan lutut. Kenakan sepatu untuk jaga-jaga, buka topi dan lepas kaca mata hitam, maka kita akan aman dari usiran para petugas penjaga pintu Basilica 🙂

 

 

Berapakah waktu ideal untuk mengunjungi Vatican? Minimal, satu hari bila kita benar-benar ingin menikmati tempat ini bukan hanya buat mejeng foto 🙂 Waktu itu kita keluar dari Basilica sekitar pukul empat atau lima sore. Beruntungnya, ternyata sedang ada upacara singkat pergantian penjaga yang sayang bila dilewatkan 🙂 Setelah menikmati pergantian penjaga, kita pun masih sempatkan diri untuk mampir ke kantor pos tepat di depan Vatican, dekan dengan Obelisk. Lumayan mengirimkan kartu pos dengan prangko cap Vatikan untuk saudara di rumah. Harga kartu pos hanya 50 sen dan perangko tidak sampai 2 euro 🙂

  

 

Vatican dilihat dari Castle D`Angelo

Kami melanjutkan perjalanan menuju Castle St. D`Angelo yang letaknya tidak jauh dari Vatican. Tinggal jalan lurus aja dari Vatican ke depan maka sampailah kita di Kastil ini. Waktu yang sudah sangat mepet membuat kami segera bergegas sebelum Kasa ditutup. Mengingat Lokasi kastil ini sudah masuk ke Roma maka, Kastil ini adalah Museum gratis pertama dari bonus kartu Roma Pas kami. Konon ceritanya, Kastil ini dibangun untuk bungker penyelamat paus apabila Vatican diserang musuh. Terdapat jalan khusus yang langsung menghubungkan Vatican dengan Kastil ini.

 

 

Ternyata pilihan menuju Kastil D`Angelo adalah pilihan yang tepat untuk menikmati sore kota Roma. Dari puncak Kastil D`Angelo, kita dapat melihat kota Roma dari atas. Indah sekali! Demikianlah kami tutup sore kami. Untuk dinner, kita memilih pergi ke Trevi Fontain yang terkenal banyak restoran dan rame oleh turis. Kita tidak berlama-lama mengunjungi Trevi Fontainnya karena terlalu padat oleh turis, dan menyimpan nya untuk esok hari ketika matahari bersinar cerah dan kamera saya dapat menangkap objek dengan bagus. Roma hari ke-dua pun selesai dengan sempurna 🙂 

 

Italia 2: Roma (I)

Yeahhh! It is the day!! Our summer romantic vacation in the romantic country, Italia

Kami merencanakan liburan selama 9 hari dan akan mengunjungi berbagai kota di Italia. Diantaranya Roma, Perugia, Siena, Firenze, Fosdinovo Tuscany, Pissa, Lucca, Cararra Mountain, Via Regio, Cinque Terre, Genoa dan berakhir di Milan. Ups.. cukup panjang ya daftar nya 🙂 Ayank berencana untuk menyewa mobil dari Roma, sehingga kami bisa road trip dari Roma menuju Genoa dengan mengunjungi kota-kota yang telah saya sebutkan di atas.

Hari itu jumat 3 Agustus 2012 siang, pesawat kami berangkat dari Amsterdam. Berhubung kami tinggal di Den Haag maka kami pun harus menyiapkan ekstra waktu naek kereta Den Haag-Schipol. Beruntungnya, sistem transportasi di negeri kincir ini tidaklah rumit. Terdapat stasiun kereta di bandara Schipol yang dapat diakses oleh kereta dari Stasiun manapun. Jadwal keberangkatan kereta lengkap beserta rutenya pun dapat kita lihat di internet (Netherlands Spoorwagen). Perjalanan kereta Den Haag-Schipol memakan waktu 45 menit. Sekitar pukul 15.00, kami sudah sampai di bandara Schipol, Amsterdam.

O ya, kali ini kami memilih maskapai KLM Royal Dutch sebagai transportasi udara kami, dengan rute Schipol,Amsterdam —  Leonardo da Vinci Fiumicino,Roma dan Linate International Airport,Milan — Schipol,Amsterdam. Kenapa KLM? tentunya masih pada inget dong di cerita Praha 2 rupanya si Ayank kapok naik budget airlines gara-gara kaki nya kepenthok kursi di depan nya.. hihihih ;D Dengan KLM Royal Dutch ini setidaknya kaki si Ayank bisa sedikit lebih nyaman karena ada space di depan nya. Dalam penerbangan ini, kami dua kali ditawarin minum dan satu kali snack. Pertama, pramugari menawarkan Apple juice, Orange juice, Cola, Bir, Wine, Air putih, dengan snack berupa roti dan beberapa permen. Lalu kedua, pramugari akan menawarkan teh atau kopi atau air putih. Penawaran minuman dan snack ini sudah satu paket dengan harga tiket kita jadi tidak perlu mengeluarkan uang ekstra lagi.

KLM Royal Dutch kebanggaan rakyat negeri Belanda ini adalah maskapai tertua di dunia yang masih beroperasi hingga saat ini. Kebanggaan orang Belanda? Yups, sepanjang perjalanan saya telah diceramahi si Meneer gara-gara komentar: “Kamu kok kayaknya bangga banget ya ama KLM?”;D

    

KLM juga memudahkan customer nya untuk chek in secara on line melalui koneksi internet masing-masing. Jadi kita ngga perlu repot-repot lagi ngantri di check in desk yang mengaruskan kita berada di bandara minimal 1 jam sebelum waktu boarding. Dengan chek in on line, penumpang cukup harus ada di tempat ketika pintu gate di buka. Bila kita punya koper/barang-barang yang harus di masukkan bagasi, kita tinggal ngantri di alat pengedropan bagasi. Alat ini secara otomatis akan memindai barang kita dan kita cukup menerima resi apabila terjadi lost bagage. Tidak ada lagi servis manusia, semuanya dimesinkan.. ckckck…

Urusan koper beres, logam detector juga beres. Sekarang saatnya duduk leyeh-leyeh selama 1 jam perjalanan menuju Italia. Sembari sebentar-sebentar motret awan dan pegunungan Alpen di bawah kami, bagus sekali!! 🙂

Sekitar pukul 19.00 kami mendarat di Roma Leonardo da Vinci Fiumicino Airport. Bandara ini sangat penuh sesak jadi kesan nya seolah sempit. Waktu itu pas summer pula.. rasanya mirip sekali seperti lagi berjejalan di pasar Tanah Abang jakarta ;D

Kedatangan kami di Roma disambut dengan ketidakramahan warga Roma. Hal inilah yang kemudian membekas di kepala kami ketika bertemu orang-orang Roma lain pada perjalanan kami selanjutnya yang ternyata tidak jauh lebih baik ;D

Waktu itu kami mampir ke Tourist Information di dalam bandara Fiumicino. Si ayank berencana membeli kartu Roma Pass yang konon katanya akan memberikan akses bus & metro gratis selama 3 hari, plus gratis 2 kali masuk museum di Roma dan diskon 20% sampai 50% untuk beberapa museum yang telah disebutkan di buku panduan. Harga Roma Pass ini 30 Euro, karena kami berdua maka harus beli 2, dengan harga 60 Euro. Sedangkan saya waktu itu menyarankan untuk membeli paket tiket transportasi 3 hari seharga 11 Euro saja yang juga mendapatkan fasilitas gratis menaiki bus & metro. Maka total harga berdua cuma 22 Euro. Tapi dasar si Kangmas dan saya sama-sama ngeyel, maka kami butuh beberapa waktu untuk berdiskusi dan berargumen. Si ayank berargumen bahwa tiket masuk Colloseo+Palatino Hill+Forum Romana sekitar 15 Euro. Tiket masuk Museum Vatikan saja juga 15 Euro. Jadi, 2 museum sudah 30 Euro, jika kita beli 3 day transportation pass yang 11 Euro maka total kami akan mengeluarka 41 Euro/orang. Sedangkan Roma pass cuma 30 Euro per orang plus gratis 2 kali entrance museum. 

Eh.. si mba-mba kasirnya dengan tidak sopan, menginterupsi kami dengan muka kesal bilang kalo mereka mau tutup. Ya, saya bisa pahami kalau mereka mau tutup. Tapi apa ya sebagai Customer Service yang bekerja melayani & memberikan informasi kepada turis (dan pastinya tidak sedikit turis yang bingung), mereka tidak pernah di training bagaimana menjadi CS itu sendiri? Dengan diskusi yang tidak terselesaikan akhirnya kami memutuskan untuk membeli 2 Roma Pass seharga 60 Euro itu. Dan si mba-mba itu tetap saja melayani kami dengan cranky dan memberikan informasi secara ketus serta tidak banyak memberikan solusi tentang wisata di Roma!

Setelah keluar dari kantor itu dan membaca petunjuk Roma Pass, si ayank lebih marah lagi! Ternyata 3 hari yang dimaksudkan di kartu itu bukan 24 jam x 3, melainkan hari di mana kartu itu di aktivasi sampai pukul 00.00 dianggap sebagai hari pertama. Jadi, misal hari itu juga pukul 20.00 kami melakukan aktivasi maka masa 1 hari kartu itu habis pada pukul 00.00 di hari yang sama. Belum lagi ternyata, entrance Colloseo dan Forum Romana+Palatino Hill di anggap terpisah oleh kartu Roma Pass.  Jadi jika kami masuk ke Colloseo maka dianggap memasuki museum pertama gratis. Lalu jika setelah itu masuk ke Forum Romana+Palatina Hill maka dianggap memasuki museum kedua gratis. Bisa dibilang, 15 euro paket colloseo+Palatina Hill+Forum Romana ditambah 11 euro tiket paket transportasi 3 hari terpisah, lebih untung daripada Roma Pass (26 euro vs 30 euro). O ya satu lagi, Vatikan tidak termasuk Roma, sehingga entrance museum Vatican tidak ada di Roma Pass. Apa mau dikata..

Selanjutnya kami berdiskusi tentang transportasi apa yang sebaiknya kami ambil dari bandara Fiumicino menuju stasiun Termini.  Ternyata ada banyak bus khusus yang melayani trayek Fiumicino-Termini dengan harga 5 euro/orang. Lalu kemudian dari Termini kami mau tak mau mulai mengaktivasi Roma Pass dengan naek metro line B menuju Castro Pretoria, metro stop terdekat dari hotel kami.

Yang menarik, selama perjalanan menggunakan bus Fiumicino-Termini, trayek bus ini melewati Colloseo Roma. Kami pun beserta seluruh penumpang bus yang tentunya mayoritas turis baru mendarat di Roma, takjub menganga menyaksikan Colloseo di malam hari hanya beberapa jengkal dari kaca bus kami. 🙂

Setibanya di Stasiun Termini, kami meneruskan perjalanan dengan metro menuju Castro Pretoria, pemberhentian terdekat dari hotel yang telah kami booking. Hotel ini walau sangat basic namun lumayan untuk menginap selama tiga malam di Roma. Dengan fasilitas, AC, TV, shower room, breakfast. Catatan yang sangat penting, AC di kamar hotel adalah hal yang akan membuat anda sangat bersyukur selama menghadapi musim panas di Italia. Bisa anda bayangkan bahwa suhu selama summer disini mencapai 40 derajat celcius setiap harinya.  

Setelah Check in di hotel dan meletakkan barang-barang bawaan, kami pun memutuskan untuk pergi ke Piazza de Navona. Berdasarkan saran dari teman yang pernah pergi ke Italia, Piazza ini sangat menarik dan romantis untuk menghabiskan waktu sore bersama pasangan.

 

 

Pernah baca buku Dan Brown ataukah anda penggemar karya-karya Dan Brown? Maka Piaza Navona adalah tempat yang wajib anda kunjungi!  Air mancur ini adalah karya artist terkenal Italia, Giovanni Lorenzo Bernini yang sangat merepresentasikan arsitektur Baroque yang cukup kental mendominasi era tersebut.  Dalam novel Angel and Demond, Brown menyebut tempat ini sebagai Fontana dei Quattro Fiumi atau fontain of four river sebagai altar of science yang mewakili sungai empat benua: Danube Eropa, Gangga Asia, Rio de la Plata Amerika dan Nil Afrika. Sangat mearik bila kita berjalan berkeliling dan memperhatikan detail patung-patung dalam fontana ini. Ke-empat patung itu adalah dewa-dewa yang dipercaya berkuasa atas sungai-sungai tersebut. Dewa di sungai Gangga digambarkan sedang membawa dayung sebagai simbol navigasi sungai. Dewa sungai Nil digambarkan mengenakan kain yang tersampir kendur, menyimbolkan bahwa pada masa itu tidak ada yang tahu dimanakah sumber sungai Nil berasal. Dewa sungai Danube digambarkan sedang menyentuh simbol papal ke-Pausan. Sedangkan Plata digambarkan sedang duduk di atas tumpukan koin dan terlihat ketakutan oleh seekor ular. Plata sendiri dalam bahasa Spanyol berarti perak, sehingga ini menyimbolkan kekayaan yang dapat Amerika tawarkan kepada Eropa. Namun di sisi lain, patung ular menyimbolkan ketakutan seorang kaya kalau-kalau hartanya akan dicuri. Ditengah-tengah patung itu terdapat Obelis yang Mesirn kuno.

Piaza Navona memang sangat menarik. Selain berkeliling memperhatikan detail patung, kita juga bisa duduk sejenak dan menikmati suasana sore. Tidak jauh dari Fontana, terdapat jajaran lukisan-lukisan indah yang sengaja dipajang dan dijual oleh para pelukis, on the street.  Perut lapar? Jangan khawatir! Terdapat banyak restauran di sekitar piaza ini. Berkelilinglah mensurvei restoran dengan menu yang sesuai selera dan harga yang sesuai kantong anda masing-masing. Serta jangan lupa perhatikan apakah ada fee atau tax tambahan untuk menghindari tourist trap 😉 

Musik merdu yang disenandungkan oleh para musisi jalanan pun menyempurnakan sore kami menikmati keromantisan Piaza ini. Akhirnya, duduk di bangku dekat fountain sambil makan gelato, menutup perjalanan hari pertama kami menikmati Roma 🙂