Romantic Paris

64951_4534733278943_427658097_nSepertinya adalah menu wajib bagi semua orang Indonesia untuk mengunjungi kota Paris. Kota yang didaulat sebagai kota paling romantis sedunia, paling luxurious, paling fashionable, dan identik muahaaal. Kalau udah foto di depan Eifel Tour itu rasanya seperti mayoritas travel list sudah terpenuhi. Hayo siapa yang nggak kepingin pergi ke Paris?

Hehehe.. sebegitu dahsyat nya kah kota Paris? Mari kita berkunjung dulu dan berkeliling kota Paris sebelum memberikan judgement ya 🙂

Mister Ayank yang sangat romantis, ingin mewujudkan harapan saya menginjakkan kaki di kota Paris. Kami memutuskan untuk road show alias menggunakan mobil dari Belanda ke Paris. Pertimbangannya, bila kita melihat sesuatu yang indah dan menarik di sepanjang jalan, kita bisa berhenti mampir. Perjalanan antar negri ini idealnya dapat ditempuh dalam waktu 4 jam. Coba bayangkan kalo kita di Indonesia, 4 jam berkendara ya masih juga di satu provinsi, saking luasnya negara kita. Perjalanan kami terbilang cukup lanacar. Hmm.. sejujurnya? saya tidur sepanjang jalan ;D

412814_4511718423586_1780416833_oMulai memasuki kota Paris, terlihat pemandangan padat penduduk. Bahkan terdapat sudut-sudut kumuh di bawah jembatan yang tidak pernah saya lihat pemandangan serupa di Belanda. Saya kaget sih.. ternyata ada penghuni bawah jembatan juga di kota paling terkenal akan ke-luxurious nya di dunia, macam di Jakarta aja. Lalu lintas kota Paris juga sangat sibuk dan macet. Pengendara mobil di Paris terkenal sebagai pengendara ceroboh di Eropa, sama seperti pengendara di Roma. Tapi kalo kita pernah hidup di Jakarta, ya kita tenang aja, penyupir-penyupir di Paris nggak ada apa-apanya deh ;p

457839_4511761504663_1067592100_oKita sampai di hotel menjelang sore. Kita memutuskan untuk menggunakan metro selama berjalan-jalan di kota Paris dan meninggalkan mobil di parkiran hotel. Pertimbangannya karena sangat susah sekali mencari parkir di pusat kota Paris. Selesai check in, kita langsung ngabur ke station metro terdekat dan mengunjungi Eifel tour dari Trocadero hall. Trocadero hall adalah viewing point alias tempat untuk melihat Eifel tour dari jarak yang sedang. Tempat ini sengaja di bangun untuk dapat menikmati keindahan Eifel Tour baik di siang maupun malam hari. Banyak orang-orang menuju ke hall ini untuk berfoto maupun sekedar menikmati menara besi ini. Hmm.. banyak lhoh orang Indonesia yang lagi heboh berfoto berbagai gaya bersamaEifel 🙂 Sedang kami berdua, sangat menikmati menatap menara ini yang kerlap-kerlip indah di malam hari. Lalu kita pulang dan beristirahat.

Keesokan harinya kita akan mengunjungi berbagai turis objek seperti Jardin de Luxembourg, Notredame, Arch de Triumph, Pantheon, Musee de Louvre, Pont LÀrcheveche, Moulin Rouge, Sacre Cour, Galeria Lafayette, Plaza de la Concord , Opera, Champs Elysees, Eifel tower (again). Wah banyak banget ya jadwalnya. Mari kita uraikan satu per satu biar nggak ruwet.

1. Eifel tower

Eiffel dari Champ de Mars Eiffel dari Trocadero Hall Icon utama kota Paris ini didaulat menjadi tempat wajib tampil di foto-foto  para turis yang berkunjung ke Paris. Awal mulanya pada tahun 1800-an, major kota Paris ingin membangun suatu icon untuk kota untuk menyambut Exposition Universelle of 1889, World fair yang diadakan di kota Paris. Arsitek Stephen Sauvestre  di daulat untuk menyeleseikan proposal pembuatan menara. Sedangkan pengerjaanya dilakukan oleh insinyur Gustav Eiffel. Nama menara ini pun menggunakan nama belakang sang insinyur, Eiffel. Ada dua tempat menarik untuk bisa melihat Eiffel yaitu Champ de Mars dan Trocadero Hall. Trocadero hall adalah tempat yang sudah kami kunjungi malam kemarin. Ini adalah point view untuk melihat Eiffel dari jarak yang sempura. Sedangkan Champ de Mars adalah taman di mana menara Eiffel berdiri. Manakah tempat terbaik untuk melihat Eiffel? Kalau ingin berfoto dan menikmati suasana, dari Trocadero hall adalah jarak yang sempurna. Tapi kalo penasaran pengen colek si menara besi dan pingin naik ke atas Eiffel, silahkan datang ke Champ de Mars. Tapi ya siap-siap datang pagi karena antreannya panjang seperti ular naga. Namun dari tempat ini tidak begitu sempurna untuk berfoto bersama Eiffel karena menaranya terlalu besar untuk dicakup utuh oleh kamera. Yang menggunakan metro, silahkan turun di stasiun Bier-Hakeim.

Kami tidak naik ke atas menara karena antrean yang cukup panjang dan ya memang tidak tertarik untuk naik. Kami duduk di bangku taman di dekat kaki Eiffel untuk menikmati suasana dan kebersamaan. A fine romantic morning infront of the Eiffel.. weww..

2. Jardin de Luxembourg

9457_4558667877293_711119023_n

551164_4558679237577_300441527_n 307538_4558669797341_1209985520_n

603223_4558680837617_487651799_nJardin de Luxembourg dulunya adalah sebuah istana yang dibangun oleh Marie de’Medici, janda dari Raja Henry IV.  Familiar kah anda dengan nama belakang tersebut? Medici family of Firenze pernah saya ceritakan di tulisan saya tentang Firenze Italia. Silahkan di simak lagi ya. Dan yah, Madame Marie ini memang sangat merindukan kampung halamannya di Firenze sehingga ingin membangun imitasi dari Pitti Palace of Firenze. Maka jadilah Jadine de Luxembourg. Namun pasca Revolusi Perancis, istana ini kemudian di rebut oleh para republikan dan sekarang dijadikan tempat Senat alias DPR. Sedangkan tamanya menjadi taman terbuka terluas di Paris. Siapapun boleh datang dan bersantai di taman yang indah ini.

3. Katedral Notredame

546187_4534751279393_466195268_nKatedral ini termasuk salah satu iconic objek wisata di kota Paris. Dengan arsitektur bergaya ghotic, Katedral ini berdiri megah dan indah. Jika ingin memasuki Notredame jangan lupa datang pagi karena antreannya tak jauh beda dari antrean menara Eiffel. Masuk ke Notredame juga tidak dipungut biaya jadi aman untuk kocek kita. Ada beberapa peraturan yang harus kita patuhi ketika kita berada di dalam Notredame. Yaitu dilarang berisik, yah maklumlah kan kita harus menghormati tempat ibadah dan menghormati orang lain yang sedang khusyuk beribadah. Peraturan kedua yaitu boleh memfoto tetapi tidak boleh menggunakan flash kamera. Selesei berkeliling Katedral, silakan berjalan menyusuri sungai ke arah belakang Notredame. Maka kita akan melihat jembatan cinta yang terkenal seantero dunia, Pont LÀrcheveche.

4. Pont LÀrcheveche, Jembatan Cinta

9501_4558754759465_250084726_n

9501_4558753999446_1344599725_n 304572_4558754359455_396230052_n

393049_4558755039472_928478206_nPont LÀrcheveche lebih dikenal sebagai jembatan cinta oleh warga di seluruh dunia. Di kanan dan kiri sepanjang jembatan ini penuh bergantung ratusan ribu gembok cinta dari seluruh penjuru dunia. Sangat menarik sekali melihat bagaimana orang Eropa mempercayai mitos menempelkan gembok di jembatan-jembatan sebagai simbol menggembok hati dan cinta pasangan masing-masing 🙂 Memang sih romantis tapi kalo kaya gini kan ngeri juga lihatnya ya.. hehe.. Saya sih sibuk memperhatikan para gembok-gembok tersebut. Sampai ada yang niat banget lho bikin gembok cintanya, udah sengaja pesan gembok dengan bentuk cinta bahkan diukir nama pasangan tersebut. Hayo yang punya pasangan, siap-siap bawa gembok ke Paris buat dipasang di jembatan cinta diatas Seine river.

5. Arch de Triumph

Arch de Triumph juga salah satu bangunan iconic dan wajib dikunjungi oleh para turis. Arch ini dibangun oleh Napoleon Bonaparte untuk menghormati rakyat Perancis yang meninggal selama perang revolusi dan perang Napolean. Terdapat dua macam Arc de Triumph yaitu Arc de Triumph du Carrousel di dekat Musee du Louvre dan Arc du Triomphe de l’Etoile. Arc du Carrousel inilah yang diklaim oleh anaknya si Amin Ra*s di novelnya yang katanya patung manusia menarik kuda di Arc de Triumph dibangun oleh Napoleon menghadap ke arah kiblat Mekkah. Bahwa Axe histourique sengaja dibangun oleh Napoleon sebagai ungkapan jalan kemenangan menuju kiblat. Well, belum ada bukti scientifik untuk kesimpulan anak sang tokoh besar RI tersebut. Masih harus mengumpulkan bukti yang kuat untuk mengklaim “keislaman” Napoleon. Napoleon memang pribadi yang menarik. Berkat jasa Napoleon lah negara barat (dan kita) mempunyai konsep berbangsa, bernegara dan bersatu. Diyakini sebelum masa kekuasaan Napoleon, masyarakat Eropa banyak terdiri dari raja-raja vasal dan kerajaan yang berperang satu lawan lain memperebutkan daerah kekuasaan maupun mempertahankan wilayah dari tetangga. Maka Napoleon merubah arah pondasi kenegaraan di Eropa yang tentunya kita rasakan dampaknya juga sebagai generasi baru Asia pasca perang dunia II. Walaupun tidak semua negara eropa melepaskan sistem kerajaannya namun pandangan Napolean akan berbangsa dan bernegara tetap merubah konstelasi dunia Eropa pada masa itu.

6. Champs Elysees

Dari Arc du Triomphe de l’Etoile kita tinggal menyebrang saja untuk menyusuri the famous Champs Elysees. Champs Elysees adalah nama jalan yang sangat terkenal di seantero jagad akan kemewahanya. Di sepanjang jalan inilah pusat toko-toko fashion mewah dan rajanya mahal. SEbutkanlah semua barang branded buatan Perancis dan desainer kelas dunia semua ada di sini. Beberapa toko bahkan juga memasang bodyguard berbadan gedhe di depan pintu yang membatasi berapa jumlah pengunjung yang diperbolehkan masuk ke dalam toko tersebut.

7. Plaza de la Concord

735173_4558814760965_612220197_nJika kaki kita belum capek berjalan menyusuri Champs Elysees, kita akan menemukan Plaza de la concord. Plaza ini berada di tengah-tengah antara dua Arch de triumph (Du Carrousel di dekat Musee du Louvre dan Arc du Triomphe de l’Etoil). Di tengah-tengah plaza ini terdapat tugu Obelisk aseli dari Mesir. Bagi saya yang mengikuti cerita Maria Antoinnette, Ratu Prancis dari Raja Henry  XVI, sebenarnya sedih menatap plaza ini. Kenapa? Di Plaza de la Concord inilah Sang ratu dan Sang raja di guillotine oleh rakyatnya alias dihukum pancung dengan pisau jagal yang amat sagat tajam. Membayangkan bagaimana marahnya rakyat Perancis pada masa revolusi tersebut tepat di plaza ini. Meneriaki, menghina dan mungkin melempari Raja dan Ratunya yang dianggap nista. Entah bagaimana emosi dan perasaan Louis XVI dan Antoinette dihadapan masa yang menghakiminya. Membayangkan kepala Antoinnette menggelinding dan darahnya mengalir di jalanan Plaza de la Concord. Hingga Napoleon pun pernah berkata bahwa tak seharusnya Perancis menghukum mati raja dan ratunya sendiri karena bagaimanapun juga mereka adalah simbol negara. Rakyat Perancis sangat benci dengan Antoinnette yang bermewah-mewahan, sibuk dengan judi, fashion dan barang mahal sehingga menghabiskan kas negara. Namun lihatlah Paris sekarang, pusat fashion dan kemewahan dunia.

8. Musee de Louvre

551172_4558530553860_1636020737_n 1131_4558129143825_1931145015_n

Masih belum lelah berjalan, silahkan terus saja menyusuri jalan menuju Arc de Triumph du Carrousel. Maka dibelakangnya, kita akan menemukan Musee de Louvre. Louvre sebenarnya adalah museum nasional di mana kita bis amelihat langsung lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci. Waktu itu kami memolih untuk tidak masuk ke dalam museum dan cukum hanya menikmati senja dari luar saja. Selain istirahat karena capek, kita juga sibuk berfoto saja di sini. Dengar-dengar lukisan Monalisanya juga sangat kecil.. hehe..

9. Moulin Rouge

Kincir angin warna merah di atas atap bangunan rumah. Apalagi kalo bukan Moulin Rouge. Sebenarnya kawasan ini adalah kawasan Red Light Districtnya Paris. Namun Moulin Rouge lah yang sangat terkenal sebagai tempat mewah yang menyajikan pertunjukan “seni”. Untuk memasuki Moulin Rouge anda harus reserved berminggu-minggu sebelumnya dan diwajibkan menggunakan baju formil macam mau jalan di Red Carpet. Untuk tiketnya saya tidak tahu pasti karena kita nggak masuk ;p yang pasti, siap-siap merogoh kocek tebal anda. Sebenarnya banyak Bar lain di sekitar Moulin Rouge yang lebih santai yang menyajikan pertunjukan-pertunjukan panas juga. Selain bar dengan pertunjukan panas, di sepanjang jalan ini juga sangat mudah ditemukan Sex-toys-shops. Oh ya satu hal lagi, ingat foto Marlyn Monrow ber dress putih yang dia sibuk memeganggi dress nya yang kena angin itu? Nah Marlyn berfoto di jalan di depan Moulin Rouge. Memang ada angin yang sengaja di keluarkan dari bawah tanah. Silahkan mencoba berfoto ala Marlyn monrow tertiup angin di depan Moulin Rouge. Tapi jangan lupa pakai rok tentunya biar bisa berkibar.. hehe..

10. Sacre Cour

Adalah gereja dengan arsitektur yang sangat indah. Namun untuk menuju ke sini diperlukan pengorbanan yang lumayan karena kita harus mendaki tangga yang sangat banyak. Maka siapkan stamina anda dan tinggalkan high hills di rumah saja. NAmun tentunya pengorbanan kita akan berbuah manis karena pemandangan dari Sacre Cour sungguh sangat indah. KIta bisa melihat kota Paris dari ketinggian. Masuk ke Sacre Cour juga gratis tidak di pungut biaya. Namun berbeda dengan Notredame, di sini kita tidak diperbolehkan mengambil foto dari dalam.

11. Galeria Lafayette

318029_4558810600861_1209820874_n  550908_4558845241727_16148471_n

Adalah semacam shoping indoors alias mall yang sangat terkenal di Paris. Di sini bisa ditemukan semua barang branded dari seluruh dunia, utamanya adalah dari desainer Paris. Siapakah pengunjung Galeria Lafayette? Ibu-ibu INdonesia. hahaha.. lucu juga kalo ngelihat ibu-ibu ini lagi belanja ya.. semuanya mau dibeli buat si ini.. si itu.. si ono.. hahaha.. ribut sendiri..

12.  Opera

735158_4558812800916_828770419_n

Dari Galeria Lafayette kita bisa berjalan kaki menuju Opera. Opera ini adalah tempat pertunjukan teatrikal terkenal di Paris. Melihat arsitektur luarnya saja sudah sangat menarik. Tapi waktu itu sedang tidak ada acara di Opera ini. Sehingga kami hanya duduk-duduk menikmati suasana bersama 🙂 Banyak juga turis seperti kami yang sedang asyik menikmati suasana malam di teras Opera Paris.

13. Pantheon

545128_4558756839517_1079418988_n

Adalah bangunan iconic lain yang sangat terkenal di Paris. Namun apakah Pantheon itu? Sebenarnya Pantheon adalah makam. Kita bisa masuk ke bawah tanah Pantheon ini untuk melihat makam/ peti batu. Jadi orang-orang yang meninggal di sini tidak dikubur tapi cukup dimasukkan ke dalam peti batu dan dipertontonkan. Jadi inget film yoko dan bibi lung yang tidur di peti batu ya.. hehe.. Mayoritas adalah orang-orang terkenal atau berdarah biru yang dikubur di Pantheon. Beberapa scientist juga dikuburkan di sini seperti Fisikawan Voltair dan negarawan. Hari menjelang malam dan suasana di dalam ruang bawah PAntheon semakin mencekam. Saya pun menarik si kangmas keluar dari Pantheon sebelum salah satu peti batu terbuka karena penghuninya kesal dengar suara berisik sepanjang hari ;p

1511_4558001900644_177505378_n 427772_4558000140600_1509365530_n

543296_4558757039522_996222869_n

 

 

 

 

Paris: “Republik Rakyat” CHATELET

72893_4580835471469_782226847_nAda yang sangat menarik perhatian saya kala berkeliaran di kota Paris. Bukan Eiffel tower bukan pula Musee de Louvre, tapi Republique Chatelet. Apakah itu?

Republique Chatelet adalah Republik berdaulat yang berdiri di bawah tanah kota Paris. Walau matahari tak sudi mampir di Republik ini tapi dijamin selalu benderang seterang neon. Itulah ajaibnya Republik ini! Bahkan siang di sini ada 20 jam dan malam cuma 4 jam, hampir tak pernah tidur. Musim di Republik ini pun berbeda dari negara-negara Eropa kebanyakan yang biasanya 3-4 musim. Di Republik ini hanya ada satu musim: panas, tanpa ada hujan sama sekali. Jadi tak perlu repot membawa-bawa payung.

268415_4580836071484_206023562_nPenduduk Republik Chatelet juga ajaib. Saking malasnya berjalan kaki, maka mereka cukup berdiri saja dan menyerahkan pekerjaan melelahkan itu pada eskalator berjalan. Jika lebih malas lagi, mereka akan menunggu datangnya kendaraan ajaib yang bising tapi panjang sepanjang ular piton. Mereka lalu duduk manis sambil merem dan abrakadabra sudah berpindah tempat. Tidak ada ketakutan akan macet dan lalu lintas ruwet yang tergambar di raut muka penduduk Republik ini. Mereka sungguh orang-orang yang optimis akan mobilitasnya yang akan tanpa hambatan. Mereka pun tak perlu khawatir kekurangan suatu apapun, karena beragam toko aneka macam buka 20 jam di sini. Dari toko souvenir, kedai kopi, mini market, restaurant sampai shoping mall underground dapat ditemukan di Republik ini. Jangan pula berani macam-macam di Republik Chatelet karena ada tentara lengkap dengan senjata siap dikekang yang berkeliaran menjaga keamanan.

542163_4580835791477_1959919539_nKeuntungan menjadi warga negara Republique Chatelet adalah: menjadi sakti mandraguna! Gimana nggak sakti kalau tiba-tiba bisa muncul di Musee de Louvre dari bawah tanah.. Sepuluh menit kemudian bisa muncul lagi di Eiffel tower dari bawah tanah.. dan lalu, tak terbendung lagi kesaktiannya karena bisa bangkit dari bawah tanah di seantero kota Paris.

527368_4558016621012_1851170688_nHahaha… ah nggak perlu serius-serius amat baca tulisan saya ya. Chatelet adalah nama station metro terbesar di kota Paris. Saking besarnya hingga membuat ketertakjuban saya berbuah imaginasi 🙂 Beruntung saya menjelajahi dua sisi negeri ini: Paris dan Chatelet. Membuat saya merasakan sensasi menjadi manusia bawah tanah kota Paris. Merasakan sensasi perbedaan keter-takjub-an antara bangunan dari masa kuno yang besar-besar ala kota paris dengan hamparan lorong putih peradaban masa depan ala “Republique” Chatelet. Seperti time travel rasanya, perbedaan waktu di kedua negeri ini pun cukup tajam. Jika malam gelap sudah menggeragapi kota Paris maka “Republik” Chatelet tetap menyambut dengan siang yang terang ala neon. Lucu sekali rasanya, mereka hanya dipisahkan oleh gundukan tanah. Serasa satu alam tapi beda dimensi ;p

Saya dengar berita dari ibukota di tanah air saya, ingin sekali punya republik bawah tanah seperti ini ya? Semoga kita semua bisa sakti mandraguna sesakti peradaban penduduk Republique Chatelet ;D

Salam,

The Queen Of Republique Chatelet 

Schengen, The Historical Town of EU

1619195_10202814978708081_6329917301108490641_nSchengen is a named of a town in Luxembourg. Once we arrived in this town, honestly we found nothing special of its architecture or building. So how come it became the inspiration for no boundary treaty within Europe?

Benelux (Belgium, Nederland, Luxembourg) are the forerunner of how integration of custom and cooperation happen in Europe since 1944. Later on 1951, together with Germany, France and Italy, they formed European Coal and Steel Community. Then, we can see it as a formed transferred into European Union in nowadays.

Schengen town is located in the border of Luxembourg (Benelux), Germany and France. So that it is a perfect location for signed an integration of custom’s treaty. The other interesting thing is that the treaty was signed in a Boat! The boat that sailing in De Mosselle, river of three country and landed in Schengen.

“So that we can travel around Europe without worry of immigration and custom on each borders”, Zegt mijn schat 🙂

Thank you Schengen! 🙂