Italia 8: Kastil Malaspina Fosdinovo, Kisah cinta yang terluka hantu Italia

Di Eropa kira-kira ada hantu nggak ya? Orang eropa kan rata-rata nggak percaya hantu gitu..! Ah masak sih? Percaya nggak percaya, kebetulan kita ada cerita yang cukup membuat bulu kuduk berdiri macam di film-film thriller. Penasaran kayak apa hantu Italia? Tulisan kali ini ber-setting di desa Fosdinovo tentang Malaspina Castle yang menyimpan sejarah bisu abad pertengahan. Selamat menikmati šŸ™‚

Malaspina Castle Fosdinovo

Mayoritas pembookingan hotel dalam liburan di Italia ini kita lakukan melalui internet jauh-jauh hari sebelum keberanggkatan. Terdapat berbagai macam situs pembookingan hotel yang bisa kita pakai seperti, booking dot com, agoda dot com, hostels dot com, expedia dan lain-lain. Schat sendiri sudah langganan booking dot com dari lama. Beberapa hotelĀ ada yang minta pinalti berupa uang kalau kita melakukan pembatalan pemesanan, tapi beberapa hotel yang lain free of charge pembatalan sebelum 7 hari kedatangan. Semua tergantung aturan pihak hotelnya masing-masing. Waktu di Belanda sebenernya, rencana kita mau nginap di Firenze dua (2) malam di BB yang sama bahkan kita juga sudah pesan. Sampai suatu hari schatje menemukan Malaspina Castle Bed and Breakfast di daerah Fosdinovo. Jalur yang smpurna dari Firenze menuju Cinque Terre melewati Carrara Mountain of Marble. Dari BB Castle ini juga nggak seberapa jauh dari Pisa dan Lucca, sekitar 1 jam perjalanan. Jadilah kita sepakat untuk membatalkan pemesananĀ 1 hari Firenze dan membooking Malaspina Castle BBĀ selama 2 malam dengan tarif 110 Euro/malam, tanpa sebelumnya mengecek latar belakang sejarah kastil ini di internet maupun buku.

Dari Firenze kita meluncur menuju Fosdinovo. Lama perjalanan idealnya satu setengah jam. Karena keasyikan, kita baru pergi dari Firenze jam 18.00. Diperkirakan jam setengah 8 malam kita bisa nyampai di Malaspina Castle BB. Ada satu hal yang ngebuat kita cemas karena pihak BB nggak bisa dihubungi sedangkan jam maksimum check in adalah sekitar jam 19.00. Sehingga kita sama sekali nggak bisa memberitahukan kemungkinan keterlambatan check in.

Perjalanan menuju Fosdinovo ini cukup berliku. Mobil kita menerjang pedesaan Tuscany dan meliuk-liuk khas perjalanan di area pegunungan. Yang menarik dari perjalanan ini tentu saja kita bisa menikmati landscape Tuscany yang terkenal itu: kebun anggur, kebun bunga matahari yang oranye indah, sekaligus desa-desa Italia yang damai jauh dari hinggar bingar keramaian kota dan turis. Di puncak perjalanan di atas gunung, dari kejauhan kita lihat ada kastil tua yang besar. Aku dan Schatje mulai menebak-nebak karena kita udah mulai hampir tersesat.

Me: “Kira-kira di mana ya Yank kastilnya? Itu kali ya yang di atas bukit itu..”

Schat: “Ah.. enggak ah.. Nggak mungkin yang itu. Itu kan Kastil beneran!”

*Semakin dekat,, semakin dekat…*

Me: (membaca papan nama) “Iya yank!! Yang itu kastil kita!!!”

Schat: (kaget)

Kenapa kita kaget? Karena kita berdua nggak nyangka kalu BB yang kita pesan adalah benar-benar kastil! Batu-batu besar, pintu gerbang kayu, baju zirah perang, sebutin aja satu-satu semua ada! Pas kita nyampai, pintu gerbang utama Kastil udah ditutup. Kita nekat aja masuk ke pintu yang belum dikunci. Melewati tangga batu dan mencoba menuju ke ruangan terdekat sambil pangil-panggil apa ada orang di sana. Beruntung, ada perempuan muda Italia yang sangat ramah membukakan pintu. Dia adalah resepsionis BB yang sudah mau pulang. Lima menit aja kita telat kethok pintu, kita mungkin nggak bisa check in karena nggak ada pekerja yang tinggal di BB. Cuma ada satu orang penjaga kunci yang nggak tahu menahu tentang administrasi BB.

Perempuan muda ini mengantarkan kita ke kamar yang telah kita pesan. Perjalanan menuju kamar ini sangatlah panjang. Dari ruangan resepsionis, kita memasuki pintu kayu besar menuju salah satu ruangan di sayap kiri kastil. Lalu kita harus melewati lorong dan menaiki tangga kecil. Pemandangan di ruangan ini adalah senjata perang dan benda tajam jaman pertengahan. Lalu kita diajak melewati sebuah ruang tengah lengkap dengan meja besar ditengah dan kursi perjamuan. Dinding ruang tengah ini dihiasi sekitarĀ delapan buah lukisan besar keluarga Malaspina lengkap dengan baju tradisional abad pertengahan. Belum sampai juga, kita harus menaiki tangga dan melewati lorong dengan pemandangan indah dari jendelanya, pemandangan desa Fosdinovo dan Tuscany dari atas.Ā Matahari terbenam pun dapat kita nikmati dengan semburat yang sangat indah dari arah jendela ini menghadap. Akhirnya, tinggal satu belokan lagi menaiki tangga menuju lorong kamar kita. Ada 2 kamar yang lain yang kita lewati sebelum nyampai di kamar pesanan kita. Kamar pertama di dekat lorong, dihuni oleh satu orang penyewa. Kamar selanjutnya kosong. Sedangkan kamar ketiga adalah kamar kita yang cukup luas dan nyaman dengan kamar mandi dalam yang sama luasnya seperti kamar tersendiri.

Ā 

Ā 

Ā 

Perempuan muda ini pun menjelaskan peraturan BB seperti makan pagi siap dari jam 8 hingga jam 10 pagi di teras dekat ruang tengah, diharuskan mematikan lampu ketika meninggalkan ruangan manapun di dalam kastil dan bila kita tersesat, ada lonceng di halaman tengah yang bisa kita bunyikan untuk memanggil penjaga kunci. Selesai menjelaskan, perempuan muda ini pun pamit dengan sopan. Suasana pun senyap seketika… Aku yang awalnya excitedĀ tinggal di Kastil beneran, sekarang nyalinya menciut. Suasana senja memang sangat indah tapi sunyi di Kastil ini sungguh lain cerita šŸ˜¦ Belum lagi, aku baca petunjuk aturan kamar sial*n yang di point terakhirnya bilang: “If you meet a ghost, don’t worry, he is a good ghost!”

Kita belum makan seharian dan pihak BB tidak menyediakan fasilitas makan malam.Ā Sebelum memasuki Kastil, kita emang lihat ada restaurant cukup nyaman di samping kastil. Aku pinginya, kita segera maem trus cepet-cepet balik ngumpet di kamar. Kalau bisa baliknya sebelum cahaya matahariĀ hilang biar kitaĀ nggak gelap-gelapan menyusuri jalur panjang menuju kamar šŸ˜¦ Gelap-gelapan? Yep, gelap literally! Masih inget dong aturan yang disampein si resepsionis: diharuskan mematikan lampu setiap kali meninggalkan ruangan manapun di kastil. Peraturan tersebut membuat kastil ini selalu dalam keadaan gelap gulita! Termasuk semua lorong-lorongnya! Kita hanya dibekali senter kecil untuk mencari jejak. Kerasa deh kayak uji nyali: silahkan mencari kamar masing-masing dengan bekal senter kecil, kalo tersesat silakan cari lonceng. Kalau ketemu hantu…ups, berarti anda sedang tidak beruntung! -_-

Yang bikin keselnya, si ayank ternyata tidak merasakan ketakutan seperti yang aku rasakan. Dia malah santai-santai aja menikmati empuknya ranjang kamar. “Duh.. enak ya.. nggak nyangka ternyata beneran Kastil aseli!”, ucapnya sambil enak-enak rebahan. Aku sendiri mau kesel ya gimana lagi thoh dia habis nyupir seharian mungkin capek. Nggak bisa disalahin juga kalo dia asik-asik rebahan di kasur.

Me: “Yank.. maem yuk ke bawah..”

Schat: “..zzzzzttttttt….” boboklah dia.

(20 menit kemudian)

Schat: “Maem yuk!”

Me: (cemberut parah) “Ogah! Nggak laper!” (sambil ngebayangin ogah gelap-gelapan kelayapan di Kastil)

Schat: “Kamu gimana sih tadi ributin ajak makan.. sekarang diajak makan nggak mau… Ya udah, pokoknya aku mau makan. Kalau kamu nggak mau ikut, aku tinggal di sini..”

Me: “Ogaaah.. aku ikut makan deh!”

Lalu keluarlah kami dari sarang. Untungnya sinar matahari masih sedikit tertinggal jadi kitaĀ bisa jalan tanpa harus menghidupkan senter. Setelah melewati berbagai macam lorong, akhirnya sampailah kita di pintu kayu besar menuju taman belakang kastil dan selanjutnya menyusuri taman melewati pintu keluar Kastil. Letak restoranya memang sangat dekat. Restauran ini sudah ramai dipenuhi turis yang aku tidak tau mereka tinggal di mana.. hanya berharap kalau mereka tinggal di Kastil juga biar bisa balik bareng-bareng ke Kastil.. Dasar penakut! hehehe..

Masakannya? Hmmm… nggak ada kata lain selain “Lezzzatt!” yang bisa menggambarkan rasa masakan ini. Aku pesan appetizer berupa salad yang berisi rucola, pine seedsĀ kacang khasĀ italia, olive oilĀ dan daging asap. Lalu main menunya aku pilih pasta testarolo dengan pesto hijau yang sangat kental dan ditutup dengan dessert, machiato italia yang sangat lezat. Semuanya sempurna! Setting restorannya sangat cozzy, hangat dan romantis. Ā Untuk sejenak aku terlena dan melupakan bahwa kita harus balik gelap-gelapan ke Kastil tua yang usianya ribuan taon itu!

Ā 

Ā 

Waktu yang ditunggu pun datang juga. Kita balik menuju kastil dan sialnya kita sendirian. Nggak nampak satupun pengunjung restoran itu yang mungkin juga menghuni kastil ini. Oh sial.. aku merayap di tembok mencari-cari saklar di dinding. Lalu mematikan sakelar lagi setelah melewati ruangan. Begitu seterusnya, turn on-turn off sampai ke koridor kamar. Kita sempatĀ hampir tersesat karena banyaknya lorong dan mirip satu sama lain. Untungnya kita masih ditunjukkan jalanĀ yang benar, menuju kamar kita šŸ˜‰

Selamatlah kita di hari pertamaĀ di kastil ribuan taun ini. Kita bobok lelap dan bangunĀ jam 8 pagi lalu sarapan. Ā Usai sarapan rencananya kita mo cabut ke Pisa dan Lucca. Si Ayank bilang mau ke ruangan resepsionis dulu buat nanya jalur sedangkan aku pilih balik ke kamar sambil siapin barang-barang dan makanan yang mau di bawa dalam perjalanan. Udah satu jam-an lebih nunggu si Schatje kok nggak balik-balik ke kamar. Nyasar di mana dia ya..apa nanya rute butuh waktu yang lama ya…

Dua jam kemudian akhirnya si kangmas balik juga. “Aku habis keliling-keliling kastil tadi.. Semua ruangan yang nggak dikunci pintunya, aku masukin. Banyak ruangan yang bagus..”, cuma bisa geleng-geleng aku menanggapi polahnya itu!

Ā 

Ā 

Ā Akhirnya kita pun pergi ke Pisa dan Lucca. Menikmati sepanjang hari kita di kota menara condong dan kota lingkaran sampai lupa waktu. Lupa waktu? yep! lagi-lagi kita balik tengah malam šŸ˜¦ Aku sudah menyiapkan diri sepanjang perjalanan untuk gelap-gelap-an lagi masuk ke kastil tua yang indah di siang hari tapi serem kalo malam ituh! Jam menunjukkan pukulĀ 1 (satu)Ā dini hari. Semakin mendekati kastil aku semakin uring-uringan cemberut dan diam karena ngeri. Si Meneer mah tetap aja semangat, kadang-kadang malah suka iseng. Udah tau suasana serem begitu, si Meneer matanya masih jelalatan ke ruangan yang gelap di pojok sambil komentar, “Eh lihat Yank! Ruangan itu serem ya…!”. Demi apa ya ni bocah! Aku cubit aja tangannya, aku suruh diem! šŸ˜€

Seperti malam lalu, kita merambat dalam gelap. Aku pilih berjalan di depan, karena takut kalo jalan di belakang nanti ada yang colek :p Yang paling aku khawatirin kalo-kalo pas nyalain lampu, tiba-tiba “surprise!” ada noni Italia ngasi kejutan šŸ˜¦ Aku mencoba sangat fokus dan tatapan mata yang enggak jahil. Terutama pas memasuki ruangan tengah itu yang banyak lukisannya. Bulu kuduk rasanya berdiri semua. Kayak-kayak banyak yang liatin gerak-gerik kita selama berjalan. -_- Untungnya kita selamat menuju kamar. Puihhhh… lega rasanya! šŸ™‚

Si kangmas pun langsung menuju tempat tidur dan rebahan. Dalam hitungan detik, doi udah pindah ke pulau mimpi dengan lelap. Aku sendiri asyik utak-atik internet. Maklum dapat wifi gratis di kamar dan kita bawa laptop. Rencananya aku ngga mau melek lama, khawatir kalo yang ‘nemenin’ ngajak ‘kenalan’. Tapi apa daya, kalo udah buka fb apalagi upload foto, bikin lupa ngantuk šŸ˜€ Aku pun terjaga selama 2 jam dan baru tidur lelap jam 3 pagi, kebetulan pas si Meneer ngolet.

Jam sembilan pagi aku bangun dan si Meneer udah duluan bangun. Dia pun nanya, “Yank, semalem pas bobok, kamu kebangun lagi nggak?”. Aku kira itu pertanyaan biasa aja karena emang kebiasaan kita kalo bangun tidur suka nanyain, gimana boboknya? nyenyak nggak? bangun lagi nggak? mimpi apa? dan lain-lain. Dengan cuek aku jawab, enggak tuh! Obrolan pun pindah ketika kita breakfast di teras kastil. Kebetulan si mbak resepsionis ada di sana juga menjamu para tamu. Mungkin ada sekitar 4 pasang tamu yang lain yang menginap di BB ini. Tapi herannya, mereka semua kok ya nggak nampak ya kalo malam hari šŸ˜¦ Pas si mbak itu datang ke meja kita, si Meneer nanya, “Excuse me… tadi pagi sekitar jam 4 ada apa ya? Kok saya dengar suara berisik sekali. Seperti orang marah danĀ banting pintu tapi terus-terusan. Ada sekitar satu jam saya dengar suara itu..”

Ooh.. Memang sedang ada reparasi di salah satu ruangan kastil, tapi tukangnya baru datang jam 8 pagi. Kalau anda dengarnya jam 4 pagi, I have no idea..” Kata si resepsionis sambil shock. Aku pun shock mendengar pertanyaan mendadak di Schatje. Sejenak si resepsionis pamit buat nanyain ke rekannya, kira-kira suara berisik itu datangnya dari mana. Si schatje pun nanya ke aku, “Yank, kamu percaya hantuĀ itu ada?”. Aku yang berasal dari negara timur dan penakut ini tentunya menganggukkan kepala. “Aku sumpah suara itu nyata, bukan mimpi. Kamu percaya kan ama aku?” lanjutnya lagi. Jadi setelah aku tidur, jam 4 pagi giliran si kangmas kebangun gara-gara suara itu. Suara seperti orang yang lagi ngamuk dan banting pintu berulang-ulang. Dari suara dan gemanya yang berat, menurut si Ayank itu pastilah pintu yang besar. Suara juga disinyalir dari dalam kastil, bukan dari arah luar, teras maupun taman.

Apa yang kamu lakuin pas dengar suara itu?”, tanyaku penasaran. Si ayank pun jawab, “Awalnya aku pingin keluar dan cari di mana sumber suaranya. Kalau memang itu hantu, aku pingin lihat. Tapi lama-lama suaranya makin kencang dan intens seperti orang ngamuk banget. Lalu aku putuskan untuk nggak keluar kamar.Ā Lalu beberapa saat kemudian, aku rasa seperti ada langkah kaki di lorong dan berhenti tepat di depan pintu kamar kita. Saat itu bulu kuduk rasanya berdiri semua! Aku lalu mencoba untuk kembali tenang dan tidur lagi.”

Si resepsionis pun balik dan menyampaikan kalau suara itu mungkin berasal dari pintu teras taman. Kamar kita kan dekat taman dan pintu di situ nggak pernah ditutup. Jadi menurut si resepsionis, mungkin anginlah yang membuat suara berisik dari pintu di pagi tadi. Walau hal ini kita bantah karena aku thoh masih tejaga sampai jam 3 pagi. Kalau memang itu karena angin, logikanya, apakah nggak ada angin selama aku terjaga 2 jam itu? Lalu si angin tiba-tiba datang 1 jam kemudian.. mustahil kan.. Capek berdebat dengan kami, akhirnya si resepsionis ngaku juga, “Don’t worry. She is a good ghost. She is the part of the family.” Jreneegg.. jreeeengggg!! Dia pun menambahkan, kadang ada tamu yang cerita kalau pintu kamarnya ada yang kethok-kethok pas tengah malam. Aku dan schat pun saling pandang.. Untung itu si hantu tadi malam cuma berdiri di depan pintu kamar, nggak ngethok-ngethok! Bahkan pernah ada reality show Ghost Hunters International yang khusus datang ke Italia untuk mencari pembuktian tentang hantu di Malaspina Castle ini. Acaranya semacam uji nyali dan paranormal activity sekitar 4 atau 5 pembawa acara yang disebar di spot terangker kastil dan merekam dengan kamera infra red. Hasilnya? Mereka menemukan suara horor. Lebih lanjut tentang acaranya, silahkan googling sendiri ya šŸ™‚

Beruntungnya, si horor mulai keluar di hari terakhir kami menghuni kastil. Kalau kejadian ini di hari pertama, kayaknya aku ogah balik tengah malah dan merambat di dinding kastil lagi šŸ˜€ Tapi.. kok ya ada yang janggal ya. Aku terjaga hampir 2 jam tapi nggak didatengin hal aneh. Bukannya ngarep didatengin ya.. ini aja udah bersyukur šŸ™‚

Schat, ngomong-ngomong kenapa ya kok kamu yang didatengin horor nya? Padahal aku kebangun selama 2 jam. Kalo si horor mau, dia bisa aja datengin aku ya.. Tapi kenapa kok kayaknya dia spesifik hororin kamu aja? Apa yang kamu lakuin sebelumnya? Atau aku nebak, sebelumnya kamu memang pengen ketemu hantu di kastil ini?” pertanyaanku terlontar dengan penuh semangat. Schat pun terdiam sejenak.

Eeem….eem… sebenernya kamu betul. Awalnya aku penasaran pingin liat hantu. Makanya di hari sebelum kita berangkat ke Pisa, aku nyelonong ke seluruh penjuru kamar. Berharap nemuin ruangan paling angker yang kira-kira ada hantunya. Aku ketemu kok ruangan itu. Bikin bulu kuduk berdiri pas masuk di sana….”. Sekali lagi, aku pun cuma tepok jidat menanggapi polahnya.

Beberapa hari seudah balik ke Belanda, aku coba kumpulin info tentang kastil itu. Hasilnya sangat mencengangkan! Konon ceritanya adaĀ legenda rakyat yang berhembus di daerah Fosdinovo. Tentang seorang gadis di abad pertengahan, putri keluarga Malaspina namanya Bianca. DenganĀ jiwa muda yang membara, Ā Bianca yang cantik dan kaya ini jatuh cinta kepada pemuda biasa di desa setempat. Bagaikan gayung bersambut, pemuda itu pun membalas cinta Bianca. Jadilah sepang sejoli dalam balutan cinta muda yang menggelora, nekat dan keras kepala. Bak drama Romeo-Juliet, keluarga kaya Malaspina tidak merestui cinta sepasang kekasih ini. Keteguhan cinta Bianca diartikan sebagai pemberontakan terhadap keluarga besar Malaspina. Orangtua yang marah dan malu pun menghukum Bianca dengan mengurungnya di ruang bawah tanah bersama seekor anjing dan babi hutan. Anjing sebagai simbol kesetiaan cinta Bianca terhadap pemuda desa. Sedangkan babi hutan adalah sebagai simbol sikap pemberontakan dan keras kepala Bianca terhadap keluarga besarnya. Cerita Juliet yang dikurung dalam kastil ini awalnya hanyalah dongeng dari mulut ke mulut yang berhembus di sekitar desa. Hingga pada sekitar tahun 2000-an ketika sang pewaris kastil ingin merenovasi ruangan, dia menemukan tulang belulang perempuan, anjing dan babi hutan di ruangan bawah tanah. Maka dongeng yang cuma legenda iniĀ pun akhirnya menemukan bukti. Tulang tersebut disinyalir adalah milik Bianca. SedangkanĀ hantu yang berkeliaran di kastil pun di duga adalah……Ā  *jawab sendiri ya* šŸ˜‰

Selain menyimpan cerita misteri, kastil Malaspina jugaĀ menyimpan sejarah bisu abad pertengahan. Dante Alliegery yang di usir dari Firenze dikarenakan ajaran agamanya yang bertentangan dengan nasrani katholik Vatikan, diterima di kastil ini oleh bangsawan tuan rumah. Dante diijinkan tinggal di salah satu kamar di kastil malaspina, dilindungi dari serangan musuh dan diijinkan untuk menyebarkan agama sesuai keyakinannya di daerah desa Fosdinovo. Lukisan tentang Dante masih bisa ditemukan di dinding salah satu ruangan terkenal di kastil ini. Bahkan patung dan kamar Dante pun masih di jaga dan bisa dinikmati hingga saat ini.

Yang paling sayang adalah, aku sempat berkeliling di Ā kastil ini di hari terakhir dan menyusuri lorong-lorong kamar. Tapi setelah di cek di Belanda, foto-foto itu nggak ada! Sampai sekarang, aku masih kehilangan file foto banyak sekali tentang kastil ini. Semoga ini cuma kesalahan teknis ya.. bukan karena ulah noni Italia yang ngambek. šŸ˜‰

-End-

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: