Italia 4: Roma (II)

Hari ketiga di kota Roma, kita putuskan untuk menjelajah kota ini. Sebenernya ada banyak agenda dan tempat menarik yang ingin kami kunjungi seperti Coloseo, Forum Romana, Piaza Venezia, Fontana de Trevi, Pantheon, Piaza de la spagna, Piaza del papolo dan Museleum de Agustus. Tapi rasa-rasa nya jadwal terlalu padat hingga kami serahkan saja pada waktu. Just go with the flow and enjoy the highlight. Ngomong-ngomong soal Fontana de Trevi, ada cerita menarik di sabtu malam lalu ketika kami memutuskan untuk menghabiskan sisa malam dan dinner di sana seusai dari Castle d’Angelo. Masih inget kan di tulisan Italia 1 tentang ‘Dont do list’? Well, akhirnya kita ketemu juga yang macam begituan! ;D

Diantara kepadatan manusia-manusia yang berhiruk pikuk di Fontana de Trevi, kami membaur di sana dan berusaha membuat foto pasangan dengan posisi si kangmas ambil gambar kita dengan tangannya sendiri. Tiba-tiba datanglah fotografer lokal yang menawarkan bantuan “Can I help you with your camera?“, yang sepertinya baek ya. Tapi kami tidak tertipu, kami sudah tau trik mereka, then we sayNo!”. Tapi rupanya patah satu tumbuh seribu! Bukanya pada pergi ya si fotografer lokal itu malah berdatangan silih berganti nawarin ‘bantuan’ yang sama kepada cute couple yang sedang berusaha membuat foto romantic mereka di fontana ini ;p Dan ngeselinnya, mereka itu ngotot! Nawarin ‘bantuan’ kok ngotot ya! Plus makin lama makin berani maen serobot kamera aja lho! Sampe-sampe kita ngga bisa bikin foto bersama dengan tenang karena gangguan berdatangan silih berganti, bisa dibilang 5 kali lebih. Saking keselnya karena diganggu mulu ama orang-orang ini terutama sampe udah berani nyerobot kamera, akhirnya si Kangmas ngamuk juga. “No, we dont need your help! please go, leave us alone! If I see you once again you`ll find your own camera in the fountain!” Bukanya nyadar dan segera pergi ya si fotografer ini malah ngedumel pula! Ckckck…  Kejadian malam itu cukup membuat si kangmas antipati kepada Fontana de Trevi. Kalau bukan karena demi ayanknya yang terlalu excited dengan Trevi ini, rasa-rasanya kangmas kagak mau balik selamanya ke sana! ;D

Di hotel minggu pagi itu, diawali dengan pertanyaan si kangmas, “Are sure you will use that shoes?” karena aku bersikeras untuk mengenakan sepatu trepes cewek dari pada sepatu kets. Alasanku, karena Italia panas dan aku malas pakai kaos kaki. Di tambah lagi aku pakai rok, ngga lucu kan kalo pakai kets ;D Perjalanan hari minggu pagi kami awali dari hotel menuju Coloseo dengan metro line B. Dari pemberhentian Castro pretorio, kami akan melewati Termini, Cavaour lalu berhenti di Coloseo metro stop. Sesampai di Coloseo jam 10, antrian nya menuju gerbang pintu masuk nya alamaak! Setelah duduk-duduk menikmati suasana dan mengambil beberapa gambar, akhirnya kami putuskan untuk tidak masuk ke Coloseo dengan pertimbangan antrian yang ujubusyet itu!

 

Kami pun menuju ke Forum Romano, tempat yang paling di idam-idamkan oleh si kangmas yang penggemar Roman Empire! Tapi ternyata antrean nya juga tak jauh ujubusyet walo sedikit lumayan. Karena rada pundung dengan antrean, si kangmas celingukan ke kasir dan aku diminta tunggu di antrian. Lalu akhirnya kangmas menemukan pemberitahuan tentang kartu sakti milik kami, Roma Pass! Dengan kartu itu kita bisa meloncati antrian dan masuk melalui jalur khusus! hahaha… Then he said, “This is the only first time I`m happy that we bought this card! ternyata ada gunanya juga nih kartu! hahaha…” Kami pun masuk dengan semangat sambil diikutin pelototan mata orang yang heran karena kami melenggang masuk tanpa antri ;D

Ternyata Forum Romana itu luaaas sekali! Sekarang saya menyesal meninggalkan sepatu kets di hotel 😦 Aku mulai jalan tertatih-tatih dan kaki lecet luka. Muka cembetut, kaki lecet, aku bener-bener ngga bisa menikmati tempat ini. si ayank mulai menyadari dan nanya, “Are you ok? you seems that you do not happy?”.

Me: “Im ok.”

Schat: “No, you are not! What happen to your feet?”

Me: “Well, I just dont want to complain about a thing that I alreday decide by my selft, honey..”

Schat: “Hmm..? What is that? Tell me!”

Me: “My feet is hurt! I should listen to you more… 😦

Kangmas menghela nafas melihat ayanknya yang kepayahan berjalan. Dilema juga, Forum Romana ini adalah tempat favoritnya. Dan jujur, aku sangat tidak ingin mengganggu keasyikannya dengan rengekan tidak penting atas kakiku. Tapi walau nggak penting, lecetnya si kaki ini minta ampun deh 😦 Sampai di suatu titik, si kangmas memutuskan untuk meminta aku menunggu di bawah pohon yang rindang sembari dia berkeliling sendiri. Tentu aku setuju, kaki ini benar-benar tidak bisa di ajak kompromi.

Puas menjelajahi Forum Romana, atas saran si kangmas, kita balik lagi ke hotel untuk ganti sepatu! Ribet banget ya cewek itu! ;D Well done! My feet is happy now! Lets go to the Trevi Fountain again! ;D

Oh ya, kita putusin untuk naek metro line B menuju Coloseo terus jalan menuju Piaza Venezia, baru naek bus ke Fontana de Trevi. Keputusan buat jalan dari stasiun metro Coloseo ke Piaza Venezia ini ngga akan pernah kita sesali karena pemandangannya fantastik! Coloseo ada di punggung kami dan di depan kami ada Monumento Nazionalle a Vittorio Emanuele II dan di kanan-kiri kita ada pepohonan unik menarik.

Selanjutnya, balik lagi ke Fontana de Trevi.. Trevi bisa dibilang sebagai pusat hingar bingarnya turis. Terdapat banyak restauran, Pizzaria, Gellateria yang buka sampai jam 10 an malam yang bisa kita pilih sesuai selera kita. Selain itu, di sini juga tempat terbaik untuk shopping cendera mata buat oleh-oleh. Selain harganya yang rata-rata lebih murah daripada di tempat lain juga toko yang banyak sehingga membuat kita punya pilihan lebih. Siang itu turis ngga sepadat malam kemarin. Beda dari ke-histeria-an kemarin, kali ini kita bisa lebih santai dan duduk menikmati air mancur ini. Sayangnya, Trevi sedang ada perbaikan, Jadi patung di sebelah kirinya ditutup untuk reparasi. Tapi acara lempar koin tetep ngga lupa dong.. Orang-orang percaya kalau kita lempar koin dengan tangan kanan melewati bahu kiri atas dan posisi badan memunggungi kolam maka suatu saat kita akan kembali ke Roma. Ambil deh 2 koin recehan 500 rupiah, daripada lempar euro kan sayang ;D Lalu dalam hitungan ketiga, kita kompak untuk lempar koin bareng. Semoga kembali lagi ke Roma bersama-sama 🙂

Dan btw fotografer-fotografer lokal itu masih dong di situ. Dengan trik yang sama, mereka lakukan jasa ‘menolong’ memfotokan lalu meminta upah seusai memfoto kepada turis-turis. Ternyata menarik juga memperhatikan bagaimana turis-turis itu merasa ditipu. Yang awalnya happy lalu berubah cemberut atau kadang marah seusai si fotografer lokal minta upah dadakan! Finally, we do enjoyed the fountain with a delicious gellato off course! ;D

Karena letak Pantheon tak seberapa jauh dari Trevi jadi kita jalan kaki ke sana. Cuma di gang sebelah kok. Asal kita ngga nyasar, deket aja tuh Trevi-Pantheon. Maka jangan lupa siapkan peta/google map sebelum jalan ya. Pantheon termasuk ke dalam bangunan Romawi kuno. Dulunya di bangun oleh Kaisar Agustus sebagai tempat pemujaan terhadap dewa-dewa romawi kuno. Namun pada masa Vatican berjaya, Pantheon pun sempat dirubah menjadi gereja. Sayangnya, Pantheon sudah tutup jam 5 sore. Jadi kita cuma bisa leyeh-leyeh di depan lalu mampir ke Tazza D`Oro coffee shop yang direkomendasikan oleh trip advisory. Secangkir espresso Italia pun dipilih oleh si kangmas yang penggemar kopi. Hanya dengan porsi satu sloki kecil nampaknya dia sudah senang. Bagi yang suka strong kopi (and no sugar offcourse) espresso Italia adalah pilihan terbaik!

Terakhir, kami naik bus menuju Barberini metro stop untuk naek metro line A menuju Piaza de Spagna metro stop. Cukup satukali stop saja dari metro Barberini ke Piaza Spagna ini. Kami pun menikmati evening time in the Spanish steps. Bagi aku pribadi, tempat ini tidak semenarik tempat lain yang sudah kita kunjungi di Roma. Spanish steps adalah sebutan untuk tangga yang menghampar menuju gereja dengan arsitektur Baroque. Tapi thoh selama ini kita udah liat banyak arsitektur serupa tersebar di kota Roma. Tapi bagi anda yang pingin shopping barang-barang branded mungkin di sini tempat yang cocok. Tersebar toko-toko dengan merk terkenal di area ini. Sayang pas kita sampai di sana semua toko sudah tutup. Kesan nya jauh berbeda sekali dengan hingar bingar di Trevi maupun piaza navona. Bahkan untuk menemukan restoran pun susah. Jangan juga mengharapkan ada toko suvenir di sini. Maka malam terakhir kami di Italia pun usai sudah. (Bersambung)

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: