Italia 3: Vatican

Sabtu pagi kita semangat banget mau pergi ke Vatican. Kita memutuskan pergi hari sabtu setelah mempertimbangkan informasi bahwa Museo alias musium Vatican tutup di hari minggu. Sayang kan sudah pergi ke Vatican tapi ngga masuk ke Musium. Dan ternyata keputusan kami untuk memilih memasuki Museum Vatican adalah sesuatu yang tidak akan pernah kami sesali!! It`s Wonderful!

Diawali breakfast di hotel, seorang pria Italia membawakan dua piring berisi croissant dan roti kering. Petugas pelayan makan pagi ini pun menawarkan kopi, capucino, machiato, atau latte pada kami. Hmm… Italian coffee at breakfast time!! Saya pun memilih Capucino 🙂 Si Kangmas yang memang penggemar kopi tentu saja tak mau melewatkan espresso ala Italia 🙂

Masalah perut sudah beres, maka kami pun tancap menuju Vatican, dengan sebelumnya mampir dulu ke minimarket dekat hotel untuk membeli persediaan selama perjalanan, roti dan air. Siapa tahu  nanti kami keasyikan di Vatican dan ngga ketemu pedagang asongan pas perut keroncongan ;D

Pergi ke Vatican dari hotel kami dapat ditempuh dengan Metro. Sebelum berlanjut, Aku jelasin dulu ya tentang metro di Roma. Terdapat dua line metro di Roma, Line A dan Line B. Kedua Line ini hanya bertemu satu kali yaitu di stasiun Termini saja. Castro Pretorio ada di Line B bersama Coloseo. Sedangkan pada Line A terdapat Barberini (pemberhentian untuk Trevi Fountain), Spagna (pemberhentian untuk Spanish steps) serta Cipro (Museum of Vatican). maka dari Castro Pretorio kami akan transit di Termini dan pindah ke metro Line A jurusan Batistini, nantinya kami akan berhenti di Cipro. Metro di Roma ini sangat tepat waktu dan berhenti hanya sekian detik saja di masing-masing pemberhentian. Maka kita harus cepat! cepaat!! dan cepaaaattt!!! Tapi jangan lupa manner ya.. malu-malu in ih kalo ndorong orang-orang demi diri sendiri 😉 Well, selama aku di sana sih aku perhatikan semua orang tertib namun tetap cepat. fasilitas metro? emm.. sebenarnya tergantung kita beruntung or enggak. Karena ada dua kereta yang dipakai untuk metro. Yang satu tua tanpa AC dan penuh coretan, dan yang lain baru dengan AC. Masalah kecepatan, keduanya sama-sama cepat, jadi walau tanpa AC tapi perjalanannya tetap cepat sampai kok. Fasilitas di dalam stasiun metro cukup nyaman dengan AC . Hal ini patut diacungi jempol mengingat di musim panas suhu Italia mencapai 40 derajat celcsius. Bisa dibayangkan dong kalau stasiun metro yang notabene di bawah tanah tidak ada AC nya? Bagi anda yang kebelet pipis di area pemberhentian metro, silakan di tahan dulu ;D Sejauh pengamatanku, Aku ngga nemuin toilet satupun di stasiun metro manapun tuh  ;D Naek eksalator menuju pemberhentian metro Italia merupakan pengalaman menarik menurutku. Membuat aku berpikir betapa orang Italia membangun stasiun bawah tanah ini dengan batu-batu yang sangat kokoh. Coba sekali saja eskalator ini berhenti bekerja, aku jamin orang-orang akan kepayahan menuruni/menaiki tangga yang sangaaaaaat tinggi ini. That will be really their very BAD day!! ;D Banyak orang yang menyangsikan Italia dan hanya memandangnya sebelah mata, maka robahlah cara berpikir Anda! Negeri ini kaya dan punya potensi. Pembangunan metro ini saja pastinya cukup menelan biaya yang tidak sedikit, mengingat betapa kokohnya batu-batuan yang dipakai sebagai materialnya.

Sampai di Cipro sekitar pukul 10 pagi. Sebenarnya kami sangat khawatir mendapat info dari teman bahwa antrian di Museum Vatican itu sangat panjang apalagi pada musim panas seperti ini bisa mencapai dua jam. Ditambah lagi bila kita ingin memasuki Basilica, kita harus mengantri lagi dengan antrian yang lebih panjang karena untuk memasuki Basilica tidak dipungut biaya. Namun ternyata, antrian sama sekali tidak panjang. Tidak sampai 10 menit kami mengantri di loket pintu masuk. Harga tiket Musei Vaticani adalah 15 euro. Bila kita punya student card dengan usia dibawah 26 tahun, tunjukkan kartu kita. Syukur-syukur di diskon tiket masuk seperti saya, cukup membayar 8 euro sajah 😉

Bersiaplah untuk ternganga-nganga selama memasuki Musei Vaticani. Tempatnya sangat luas dengan berbagai macam benda seni dipajang di sana-sini. Aku dan si Kangmas setuju bahwa setiap memasuki ruangan baru, selalu saja berbeda dan lebih indah. Semakin mendekati Sistine Chapel semakin menakjubkan saja. Betapa jeniusnya artis yang melukis atap-atap Vatican dengan sangat mewah dan elegant. Semua orang biasanya suka buru-buru pingin segera pergi ke Sistine Chapel. Tapi aku sarankan untuk, take your time and enjoy the journey to the Sistine Chapel! Karena di Sistine Chapel sangat padat oleh orang-orang yang tidak mau beranjak. Jadi kita akan kesulitan untuk benar-benar mencari rasa nyaman, ditambah si petugas pintu yang sedikit-sedikit berteriak “Sssssssttttt!!!! Silence!!”.   

 

Oh ya, kita diperbolehkan memotret selama memasuki Musei Vaticani, kecuali di Sistine Chapel. Berikut aku bagi-bagi hasil jepretan selama terkagum-kagum di Musei vaticani ya 🙂

 

 

 

Sampai di Sistine Chapel, semua pengunjung diminta untuk tidak memfoto dan tidak berbicara. Masuk akal sih, ini kan tempat ibadah. Sampai saat ini, Sistine Chapel masih digunakan para Paus untuk bermusyawarah dan memilih Paus baru. Michelangelo melukis sendiri di Sistine Chapel dengan karya-karya yang mengabadikan namanya, seperti The Creation of Adam di langit-langit Chapel dan The Last Judgement tepat di dinding altar.  Sebenarnya, kita mungkin sangat familiar dengan lukisan The Creation of Adam ini, di mana Adam berusaha meraih tangan Sang Bapa setelah Adam di usir dari langit. Kalau kamu masih penasaran, silahkan meng-googling dua lukisan terkenal tersebut.

Puas menikmati Musei Vaticani, kami menuju Basilica. Basilica masih aktif digunakan hingga saat ini. Setiap hari minggu, paus akan memimpin doa di Basilica. Beruntung bagi kami, lagi-lagi tidak ada antrian memasuki Basilica. Oh ya, ada aturan yang cukup ketat diberlakukan untuk memasuki Basilica, khususnya bagi perempuan. Dilarang mengenakan rok/celana mini di atas lutut, serta baju yang menunjukan lengan dan dada (tank top, kemben, dsb). Jika ada yang nekat mengenakan baju yang tidak berlengan, petugas pintu masuk pun tidak akan segan mengusir. Bagi pria, di minta untuk membuka topi dan kacamata hitam. Intinya, persiapkan diri dengan baik. Kenakan baju sopan yang menutupi dada, bahu dan lutut. Kenakan sepatu untuk jaga-jaga, buka topi dan lepas kaca mata hitam, maka kita akan aman dari usiran para petugas penjaga pintu Basilica 🙂

 

 

Berapakah waktu ideal untuk mengunjungi Vatican? Minimal, satu hari bila kita benar-benar ingin menikmati tempat ini bukan hanya buat mejeng foto 🙂 Waktu itu kita keluar dari Basilica sekitar pukul empat atau lima sore. Beruntungnya, ternyata sedang ada upacara singkat pergantian penjaga yang sayang bila dilewatkan 🙂 Setelah menikmati pergantian penjaga, kita pun masih sempatkan diri untuk mampir ke kantor pos tepat di depan Vatican, dekan dengan Obelisk. Lumayan mengirimkan kartu pos dengan prangko cap Vatikan untuk saudara di rumah. Harga kartu pos hanya 50 sen dan perangko tidak sampai 2 euro 🙂

  

 

Vatican dilihat dari Castle D`Angelo

Kami melanjutkan perjalanan menuju Castle St. D`Angelo yang letaknya tidak jauh dari Vatican. Tinggal jalan lurus aja dari Vatican ke depan maka sampailah kita di Kastil ini. Waktu yang sudah sangat mepet membuat kami segera bergegas sebelum Kasa ditutup. Mengingat Lokasi kastil ini sudah masuk ke Roma maka, Kastil ini adalah Museum gratis pertama dari bonus kartu Roma Pas kami. Konon ceritanya, Kastil ini dibangun untuk bungker penyelamat paus apabila Vatican diserang musuh. Terdapat jalan khusus yang langsung menghubungkan Vatican dengan Kastil ini.

 

 

Ternyata pilihan menuju Kastil D`Angelo adalah pilihan yang tepat untuk menikmati sore kota Roma. Dari puncak Kastil D`Angelo, kita dapat melihat kota Roma dari atas. Indah sekali! Demikianlah kami tutup sore kami. Untuk dinner, kita memilih pergi ke Trevi Fontain yang terkenal banyak restoran dan rame oleh turis. Kita tidak berlama-lama mengunjungi Trevi Fontainnya karena terlalu padat oleh turis, dan menyimpan nya untuk esok hari ketika matahari bersinar cerah dan kamera saya dapat menangkap objek dengan bagus. Roma hari ke-dua pun selesai dengan sempurna 🙂 

 

Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

9 Komentar

  1. Hai Ayu. Terima kasih buat tulisanmu, berguna sekali buat 2 teman saya yg akan ke Belanda dan Itali, nanti saya email ke mereka pengalamanmu ;-).

    Balas
  2. Bitte schon, kakak 🙂 Maaf ya serial Italia nya baru bisa ditulis sedikit, karena blm ada waktu & inspirasi.. hehe.. Semoga secepatnya kota-kota Italia yang lain bisa aku tulis 🙂

    Balas
  3. artistik bangeet bangunan2 di sanaaaa

    Balas
  4. Shifa97

     /  Juni 14, 2014

    Deskripsi jalan2nya kerasa banget. Dari dulu emang pengen banget ke italy. Kalo ada spot menarik lainnya di posting yaaa

    Balas
    • Trims Shifa97 udah mampir 🙂 Iya spot lainnya sih banyak, tapi kadang belum punya inspirasi/waktu buat nulis detail perjalanannya.. hehe.. Aduh, semoga sy makin
      rajin nulisnya ya 😦

      Balas
  5. Rizqy

     /  Juni 14, 2014

    Tulisannya bgs banget. Aku juga penasaran Soal kehidupan masyarakatnya…

    Balas
    • Trims Rizqy udah mampir 🙂 Tentang kehidupan masyarakatnya, pas kita di Roma kita kurang interaksi dengan org lokal krn org Roma lbh grumpy n beberapa kali si Kangmas bertengkar sama org Roma -_-” Cerita kita tentang orang lokal ada di tulisan ttg Firenze, obrolan dengan pemilik BB kita. Mampir ya 🙂

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: