Italia 5: Perugia-Siena

Pagi ini di hari senin, kita ambil mobil di kounter Avis di stasiun Termini. Rencananya kita memang mau Road Trip dari Roma menuju Genoa/Milan. Mobil yang kita pesan adalah seri Opel warna hitam yang cukup gesit. Perjalanan Roma-Perugia memakan waktu 4 jam.

PERUGIA

Perugia itu Ibukotanya Umbria. Awalnya, kita terlalu mengunder-estimate Perugia. Tanpa bekal peta maupun penunjuk jalan yang rinci, kita gowes aja on the spot. Kita kirain, kota ini tak seberapa luas, tapi ternyata kita salah. Selain jarak antara city wall ke city center nya lumayan jauh, kota ini juga indah dengan beragam toko fashion branded yang berjajar sepanjang jalan utama kota. Jalanannya jangan dibayangkan beraspal ya.. sama seperti kota tua eropa yang lain, jalananan di kota ini masih terbuat dari susunan batu-batu yang sudah diratakan dan lumayan nyaman untuk berjalan. Beberapa bangunan iconic kota ini tentu saja Pallazo dei Priori atau Town Hall yang terdapat Fontana Maggiore di depannya. Selain itu juga tangga medieval yang sangat menarik untuk diabadikan dengan kamera kita. Selebihnya, silahkan untuk menjelajahi jalan-jalan kota ini dan rasakan sendiri sensasi suasananya!

 

  

Setelah dinner di Perugia, kita lanjutkan perjalanan menuju Sienna. Hari sudah mulai gelap, sekitar pukul 10 malam. Diperkirakan sekitar pukul 12 kita bisa sampai Sienna dengan catatan tanpa nyasar ya 😉

SIENNA

Benar saja, hampir tengah malam kami nyampai di Sienna. Hotel yang kami pesan berada di luar old city Sienna. Maklum aja waktu itu pas summer plus kita nge-dadak booking-nya. Jadi, hotel-hotel di dalam kota tua udah pada penuh ter-booking. Untung pihak hotelnya baik, sebelumnya si kangmas udah hubungi kalo kita mau datang telat. Mereka pun bersedia meletakkan kunci kamar di meja resepsionis yang sudah tanpa penjaga. Jadi kalo kita nyampai tengah malam, tinggal ambil amplop berisi kunci yang udah disiapkan oleh pemilik hotel khusus buat kita.

 

Pagi hari yang cerah, kita isi dulu bahan bakar perut kita sebelum city tour Sienna ya… Ternyata hotel ini cukup nyaman dengan pemandangan taman yang bagus serta buffet breakfast yang lumayan lengkap. Kebiasaan jadi kambuh nih, ronde breakfastnya nambah ;D Croisant, cup cake, pie, sandwich, sereal, you name it-lah! pokoknya lengkap..kappp! 🙂

 

 Sienna termasuk ke dalam World Heritage City yang dilindungi oleh UNESCO. Walau sudah eksis sejak jaman Romawi kuno tapi kejayaan kota ini memuncak kala menjadi city state pada abad 12 dan dikenal sebagai money lending city dalam perdagangan wol. Piazza del Campo menjadi pusat kehidupan masyarakat pada masa itu.

  

 

Menjelajah kota ini sangatlah menarik. Jalanannya bisa dibilang sangat sempit bila dibandingkan dengan tinggi dan besarnya bangunan yang ada disekitarnya. Jadi kesanya seperti berjalan di lorong, diapit oleh bangunan tinggi besar di kanan-kiri kita. Tapi bentuk tata kota seperti ini ternyata bermanfaat juga terutama buat menghalau teriknya sinar matahari Italia di musim panas yang seringkali mencapai 40 derajat celcius. Lumayanlah, udah gosong nih empat hari di Italia, di Sienna jadi  bisa neduh-neduh bentar! ;D Sambil sesekali mampir di kedai Gelato, mengeksplorasi home-made ice cream Italia yang bener-bener kaya rasa ini. Sesekali? eh salah.. selama di Sienna, kita dua kali nyangkut di Gellateria! Masing-masing, selalu 3 rasa. Jadi total hari itu aku nyicipin 6 rasa gellato! Gellato di Italia emang ngga ada bosen nya. Walau namanya sama-sama Strawberry tapi di tiap beda toko selalu beda rasanya. Gellato Italia memang bergantung pada resep masing-masing toko. Makanya nyicipin gellato itu serasa ngga ada habisnya! Dan menurut aku pribadi, selama 9 hari jalan di Italia, Gellato in Sienna is the best and in my top list most favorit one! 🙂

Terus, kita lanjut ke Duomo Sienna. Seperti kebanyakan Duomo lain di Italia, Duomo di Sienna pun terbuat dari marmer. Warna putih mengkilat di Duomo ini menambah daya tarik cantiknya tempat ini. Kita sempatin untuk duduk menghadap Duomo sambil menikmati sore kita dan mengabadikan momen kebersamaan ini 🙂

 

Sienna pun kita akhiri dengan satu cup gellato sambil memandangi Piazza del Campo lagi! ;D Ini foto-foto dari Bar Gellateria favorit saya! Lokasinya ngga jauh kok dari Piaza. 🙂

        

Gellateria terlezat se-Italia, versi saya!! :)       

 

 

 

 

Italia 4: Roma (II)

Hari ketiga di kota Roma, kita putuskan untuk menjelajah kota ini. Sebenernya ada banyak agenda dan tempat menarik yang ingin kami kunjungi seperti Coloseo, Forum Romana, Piaza Venezia, Fontana de Trevi, Pantheon, Piaza de la spagna, Piaza del papolo dan Museleum de Agustus. Tapi rasa-rasa nya jadwal terlalu padat hingga kami serahkan saja pada waktu. Just go with the flow and enjoy the highlight. Ngomong-ngomong soal Fontana de Trevi, ada cerita menarik di sabtu malam lalu ketika kami memutuskan untuk menghabiskan sisa malam dan dinner di sana seusai dari Castle d’Angelo. Masih inget kan di tulisan Italia 1 tentang ‘Dont do list’? Well, akhirnya kita ketemu juga yang macam begituan! ;D

Diantara kepadatan manusia-manusia yang berhiruk pikuk di Fontana de Trevi, kami membaur di sana dan berusaha membuat foto pasangan dengan posisi si kangmas ambil gambar kita dengan tangannya sendiri. Tiba-tiba datanglah fotografer lokal yang menawarkan bantuan “Can I help you with your camera?“, yang sepertinya baek ya. Tapi kami tidak tertipu, kami sudah tau trik mereka, then we sayNo!”. Tapi rupanya patah satu tumbuh seribu! Bukanya pada pergi ya si fotografer lokal itu malah berdatangan silih berganti nawarin ‘bantuan’ yang sama kepada cute couple yang sedang berusaha membuat foto romantic mereka di fontana ini ;p Dan ngeselinnya, mereka itu ngotot! Nawarin ‘bantuan’ kok ngotot ya! Plus makin lama makin berani maen serobot kamera aja lho! Sampe-sampe kita ngga bisa bikin foto bersama dengan tenang karena gangguan berdatangan silih berganti, bisa dibilang 5 kali lebih. Saking keselnya karena diganggu mulu ama orang-orang ini terutama sampe udah berani nyerobot kamera, akhirnya si Kangmas ngamuk juga. “No, we dont need your help! please go, leave us alone! If I see you once again you`ll find your own camera in the fountain!” Bukanya nyadar dan segera pergi ya si fotografer ini malah ngedumel pula! Ckckck…  Kejadian malam itu cukup membuat si kangmas antipati kepada Fontana de Trevi. Kalau bukan karena demi ayanknya yang terlalu excited dengan Trevi ini, rasa-rasanya kangmas kagak mau balik selamanya ke sana! ;D

Di hotel minggu pagi itu, diawali dengan pertanyaan si kangmas, “Are sure you will use that shoes?” karena aku bersikeras untuk mengenakan sepatu trepes cewek dari pada sepatu kets. Alasanku, karena Italia panas dan aku malas pakai kaos kaki. Di tambah lagi aku pakai rok, ngga lucu kan kalo pakai kets ;D Perjalanan hari minggu pagi kami awali dari hotel menuju Coloseo dengan metro line B. Dari pemberhentian Castro pretorio, kami akan melewati Termini, Cavaour lalu berhenti di Coloseo metro stop. Sesampai di Coloseo jam 10, antrian nya menuju gerbang pintu masuk nya alamaak! Setelah duduk-duduk menikmati suasana dan mengambil beberapa gambar, akhirnya kami putuskan untuk tidak masuk ke Coloseo dengan pertimbangan antrian yang ujubusyet itu!

 

Kami pun menuju ke Forum Romano, tempat yang paling di idam-idamkan oleh si kangmas yang penggemar Roman Empire! Tapi ternyata antrean nya juga tak jauh ujubusyet walo sedikit lumayan. Karena rada pundung dengan antrean, si kangmas celingukan ke kasir dan aku diminta tunggu di antrian. Lalu akhirnya kangmas menemukan pemberitahuan tentang kartu sakti milik kami, Roma Pass! Dengan kartu itu kita bisa meloncati antrian dan masuk melalui jalur khusus! hahaha… Then he said, “This is the only first time I`m happy that we bought this card! ternyata ada gunanya juga nih kartu! hahaha…” Kami pun masuk dengan semangat sambil diikutin pelototan mata orang yang heran karena kami melenggang masuk tanpa antri ;D

Ternyata Forum Romana itu luaaas sekali! Sekarang saya menyesal meninggalkan sepatu kets di hotel 😦 Aku mulai jalan tertatih-tatih dan kaki lecet luka. Muka cembetut, kaki lecet, aku bener-bener ngga bisa menikmati tempat ini. si ayank mulai menyadari dan nanya, “Are you ok? you seems that you do not happy?”.

Me: “Im ok.”

Schat: “No, you are not! What happen to your feet?”

Me: “Well, I just dont want to complain about a thing that I alreday decide by my selft, honey..”

Schat: “Hmm..? What is that? Tell me!”

Me: “My feet is hurt! I should listen to you more… 😦

Kangmas menghela nafas melihat ayanknya yang kepayahan berjalan. Dilema juga, Forum Romana ini adalah tempat favoritnya. Dan jujur, aku sangat tidak ingin mengganggu keasyikannya dengan rengekan tidak penting atas kakiku. Tapi walau nggak penting, lecetnya si kaki ini minta ampun deh 😦 Sampai di suatu titik, si kangmas memutuskan untuk meminta aku menunggu di bawah pohon yang rindang sembari dia berkeliling sendiri. Tentu aku setuju, kaki ini benar-benar tidak bisa di ajak kompromi.

Puas menjelajahi Forum Romana, atas saran si kangmas, kita balik lagi ke hotel untuk ganti sepatu! Ribet banget ya cewek itu! ;D Well done! My feet is happy now! Lets go to the Trevi Fountain again! ;D

Oh ya, kita putusin untuk naek metro line B menuju Coloseo terus jalan menuju Piaza Venezia, baru naek bus ke Fontana de Trevi. Keputusan buat jalan dari stasiun metro Coloseo ke Piaza Venezia ini ngga akan pernah kita sesali karena pemandangannya fantastik! Coloseo ada di punggung kami dan di depan kami ada Monumento Nazionalle a Vittorio Emanuele II dan di kanan-kiri kita ada pepohonan unik menarik.

Selanjutnya, balik lagi ke Fontana de Trevi.. Trevi bisa dibilang sebagai pusat hingar bingarnya turis. Terdapat banyak restauran, Pizzaria, Gellateria yang buka sampai jam 10 an malam yang bisa kita pilih sesuai selera kita. Selain itu, di sini juga tempat terbaik untuk shopping cendera mata buat oleh-oleh. Selain harganya yang rata-rata lebih murah daripada di tempat lain juga toko yang banyak sehingga membuat kita punya pilihan lebih. Siang itu turis ngga sepadat malam kemarin. Beda dari ke-histeria-an kemarin, kali ini kita bisa lebih santai dan duduk menikmati air mancur ini. Sayangnya, Trevi sedang ada perbaikan, Jadi patung di sebelah kirinya ditutup untuk reparasi. Tapi acara lempar koin tetep ngga lupa dong.. Orang-orang percaya kalau kita lempar koin dengan tangan kanan melewati bahu kiri atas dan posisi badan memunggungi kolam maka suatu saat kita akan kembali ke Roma. Ambil deh 2 koin recehan 500 rupiah, daripada lempar euro kan sayang ;D Lalu dalam hitungan ketiga, kita kompak untuk lempar koin bareng. Semoga kembali lagi ke Roma bersama-sama 🙂

Dan btw fotografer-fotografer lokal itu masih dong di situ. Dengan trik yang sama, mereka lakukan jasa ‘menolong’ memfotokan lalu meminta upah seusai memfoto kepada turis-turis. Ternyata menarik juga memperhatikan bagaimana turis-turis itu merasa ditipu. Yang awalnya happy lalu berubah cemberut atau kadang marah seusai si fotografer lokal minta upah dadakan! Finally, we do enjoyed the fountain with a delicious gellato off course! ;D

Karena letak Pantheon tak seberapa jauh dari Trevi jadi kita jalan kaki ke sana. Cuma di gang sebelah kok. Asal kita ngga nyasar, deket aja tuh Trevi-Pantheon. Maka jangan lupa siapkan peta/google map sebelum jalan ya. Pantheon termasuk ke dalam bangunan Romawi kuno. Dulunya di bangun oleh Kaisar Agustus sebagai tempat pemujaan terhadap dewa-dewa romawi kuno. Namun pada masa Vatican berjaya, Pantheon pun sempat dirubah menjadi gereja. Sayangnya, Pantheon sudah tutup jam 5 sore. Jadi kita cuma bisa leyeh-leyeh di depan lalu mampir ke Tazza D`Oro coffee shop yang direkomendasikan oleh trip advisory. Secangkir espresso Italia pun dipilih oleh si kangmas yang penggemar kopi. Hanya dengan porsi satu sloki kecil nampaknya dia sudah senang. Bagi yang suka strong kopi (and no sugar offcourse) espresso Italia adalah pilihan terbaik!

Terakhir, kami naik bus menuju Barberini metro stop untuk naek metro line A menuju Piaza de Spagna metro stop. Cukup satukali stop saja dari metro Barberini ke Piaza Spagna ini. Kami pun menikmati evening time in the Spanish steps. Bagi aku pribadi, tempat ini tidak semenarik tempat lain yang sudah kita kunjungi di Roma. Spanish steps adalah sebutan untuk tangga yang menghampar menuju gereja dengan arsitektur Baroque. Tapi thoh selama ini kita udah liat banyak arsitektur serupa tersebar di kota Roma. Tapi bagi anda yang pingin shopping barang-barang branded mungkin di sini tempat yang cocok. Tersebar toko-toko dengan merk terkenal di area ini. Sayang pas kita sampai di sana semua toko sudah tutup. Kesan nya jauh berbeda sekali dengan hingar bingar di Trevi maupun piaza navona. Bahkan untuk menemukan restoran pun susah. Jangan juga mengharapkan ada toko suvenir di sini. Maka malam terakhir kami di Italia pun usai sudah. (Bersambung)

Italia 3: Vatican

Sabtu pagi kita semangat banget mau pergi ke Vatican. Kita memutuskan pergi hari sabtu setelah mempertimbangkan informasi bahwa Museo alias musium Vatican tutup di hari minggu. Sayang kan sudah pergi ke Vatican tapi ngga masuk ke Musium. Dan ternyata keputusan kami untuk memilih memasuki Museum Vatican adalah sesuatu yang tidak akan pernah kami sesali!! It`s Wonderful!

Diawali breakfast di hotel, seorang pria Italia membawakan dua piring berisi croissant dan roti kering. Petugas pelayan makan pagi ini pun menawarkan kopi, capucino, machiato, atau latte pada kami. Hmm… Italian coffee at breakfast time!! Saya pun memilih Capucino 🙂 Si Kangmas yang memang penggemar kopi tentu saja tak mau melewatkan espresso ala Italia 🙂

Masalah perut sudah beres, maka kami pun tancap menuju Vatican, dengan sebelumnya mampir dulu ke minimarket dekat hotel untuk membeli persediaan selama perjalanan, roti dan air. Siapa tahu  nanti kami keasyikan di Vatican dan ngga ketemu pedagang asongan pas perut keroncongan ;D

Pergi ke Vatican dari hotel kami dapat ditempuh dengan Metro. Sebelum berlanjut, Aku jelasin dulu ya tentang metro di Roma. Terdapat dua line metro di Roma, Line A dan Line B. Kedua Line ini hanya bertemu satu kali yaitu di stasiun Termini saja. Castro Pretorio ada di Line B bersama Coloseo. Sedangkan pada Line A terdapat Barberini (pemberhentian untuk Trevi Fountain), Spagna (pemberhentian untuk Spanish steps) serta Cipro (Museum of Vatican). maka dari Castro Pretorio kami akan transit di Termini dan pindah ke metro Line A jurusan Batistini, nantinya kami akan berhenti di Cipro. Metro di Roma ini sangat tepat waktu dan berhenti hanya sekian detik saja di masing-masing pemberhentian. Maka kita harus cepat! cepaat!! dan cepaaaattt!!! Tapi jangan lupa manner ya.. malu-malu in ih kalo ndorong orang-orang demi diri sendiri 😉 Well, selama aku di sana sih aku perhatikan semua orang tertib namun tetap cepat. fasilitas metro? emm.. sebenarnya tergantung kita beruntung or enggak. Karena ada dua kereta yang dipakai untuk metro. Yang satu tua tanpa AC dan penuh coretan, dan yang lain baru dengan AC. Masalah kecepatan, keduanya sama-sama cepat, jadi walau tanpa AC tapi perjalanannya tetap cepat sampai kok. Fasilitas di dalam stasiun metro cukup nyaman dengan AC . Hal ini patut diacungi jempol mengingat di musim panas suhu Italia mencapai 40 derajat celcsius. Bisa dibayangkan dong kalau stasiun metro yang notabene di bawah tanah tidak ada AC nya? Bagi anda yang kebelet pipis di area pemberhentian metro, silakan di tahan dulu ;D Sejauh pengamatanku, Aku ngga nemuin toilet satupun di stasiun metro manapun tuh  ;D Naek eksalator menuju pemberhentian metro Italia merupakan pengalaman menarik menurutku. Membuat aku berpikir betapa orang Italia membangun stasiun bawah tanah ini dengan batu-batu yang sangat kokoh. Coba sekali saja eskalator ini berhenti bekerja, aku jamin orang-orang akan kepayahan menuruni/menaiki tangga yang sangaaaaaat tinggi ini. That will be really their very BAD day!! ;D Banyak orang yang menyangsikan Italia dan hanya memandangnya sebelah mata, maka robahlah cara berpikir Anda! Negeri ini kaya dan punya potensi. Pembangunan metro ini saja pastinya cukup menelan biaya yang tidak sedikit, mengingat betapa kokohnya batu-batuan yang dipakai sebagai materialnya.

Sampai di Cipro sekitar pukul 10 pagi. Sebenarnya kami sangat khawatir mendapat info dari teman bahwa antrian di Museum Vatican itu sangat panjang apalagi pada musim panas seperti ini bisa mencapai dua jam. Ditambah lagi bila kita ingin memasuki Basilica, kita harus mengantri lagi dengan antrian yang lebih panjang karena untuk memasuki Basilica tidak dipungut biaya. Namun ternyata, antrian sama sekali tidak panjang. Tidak sampai 10 menit kami mengantri di loket pintu masuk. Harga tiket Musei Vaticani adalah 15 euro. Bila kita punya student card dengan usia dibawah 26 tahun, tunjukkan kartu kita. Syukur-syukur di diskon tiket masuk seperti saya, cukup membayar 8 euro sajah 😉

Bersiaplah untuk ternganga-nganga selama memasuki Musei Vaticani. Tempatnya sangat luas dengan berbagai macam benda seni dipajang di sana-sini. Aku dan si Kangmas setuju bahwa setiap memasuki ruangan baru, selalu saja berbeda dan lebih indah. Semakin mendekati Sistine Chapel semakin menakjubkan saja. Betapa jeniusnya artis yang melukis atap-atap Vatican dengan sangat mewah dan elegant. Semua orang biasanya suka buru-buru pingin segera pergi ke Sistine Chapel. Tapi aku sarankan untuk, take your time and enjoy the journey to the Sistine Chapel! Karena di Sistine Chapel sangat padat oleh orang-orang yang tidak mau beranjak. Jadi kita akan kesulitan untuk benar-benar mencari rasa nyaman, ditambah si petugas pintu yang sedikit-sedikit berteriak “Sssssssttttt!!!! Silence!!”.   

 

Oh ya, kita diperbolehkan memotret selama memasuki Musei Vaticani, kecuali di Sistine Chapel. Berikut aku bagi-bagi hasil jepretan selama terkagum-kagum di Musei vaticani ya 🙂

 

 

 

Sampai di Sistine Chapel, semua pengunjung diminta untuk tidak memfoto dan tidak berbicara. Masuk akal sih, ini kan tempat ibadah. Sampai saat ini, Sistine Chapel masih digunakan para Paus untuk bermusyawarah dan memilih Paus baru. Michelangelo melukis sendiri di Sistine Chapel dengan karya-karya yang mengabadikan namanya, seperti The Creation of Adam di langit-langit Chapel dan The Last Judgement tepat di dinding altar.  Sebenarnya, kita mungkin sangat familiar dengan lukisan The Creation of Adam ini, di mana Adam berusaha meraih tangan Sang Bapa setelah Adam di usir dari langit. Kalau kamu masih penasaran, silahkan meng-googling dua lukisan terkenal tersebut.

Puas menikmati Musei Vaticani, kami menuju Basilica. Basilica masih aktif digunakan hingga saat ini. Setiap hari minggu, paus akan memimpin doa di Basilica. Beruntung bagi kami, lagi-lagi tidak ada antrian memasuki Basilica. Oh ya, ada aturan yang cukup ketat diberlakukan untuk memasuki Basilica, khususnya bagi perempuan. Dilarang mengenakan rok/celana mini di atas lutut, serta baju yang menunjukan lengan dan dada (tank top, kemben, dsb). Jika ada yang nekat mengenakan baju yang tidak berlengan, petugas pintu masuk pun tidak akan segan mengusir. Bagi pria, di minta untuk membuka topi dan kacamata hitam. Intinya, persiapkan diri dengan baik. Kenakan baju sopan yang menutupi dada, bahu dan lutut. Kenakan sepatu untuk jaga-jaga, buka topi dan lepas kaca mata hitam, maka kita akan aman dari usiran para petugas penjaga pintu Basilica 🙂

 

 

Berapakah waktu ideal untuk mengunjungi Vatican? Minimal, satu hari bila kita benar-benar ingin menikmati tempat ini bukan hanya buat mejeng foto 🙂 Waktu itu kita keluar dari Basilica sekitar pukul empat atau lima sore. Beruntungnya, ternyata sedang ada upacara singkat pergantian penjaga yang sayang bila dilewatkan 🙂 Setelah menikmati pergantian penjaga, kita pun masih sempatkan diri untuk mampir ke kantor pos tepat di depan Vatican, dekan dengan Obelisk. Lumayan mengirimkan kartu pos dengan prangko cap Vatikan untuk saudara di rumah. Harga kartu pos hanya 50 sen dan perangko tidak sampai 2 euro 🙂

  

 

Vatican dilihat dari Castle D`Angelo

Kami melanjutkan perjalanan menuju Castle St. D`Angelo yang letaknya tidak jauh dari Vatican. Tinggal jalan lurus aja dari Vatican ke depan maka sampailah kita di Kastil ini. Waktu yang sudah sangat mepet membuat kami segera bergegas sebelum Kasa ditutup. Mengingat Lokasi kastil ini sudah masuk ke Roma maka, Kastil ini adalah Museum gratis pertama dari bonus kartu Roma Pas kami. Konon ceritanya, Kastil ini dibangun untuk bungker penyelamat paus apabila Vatican diserang musuh. Terdapat jalan khusus yang langsung menghubungkan Vatican dengan Kastil ini.

 

 

Ternyata pilihan menuju Kastil D`Angelo adalah pilihan yang tepat untuk menikmati sore kota Roma. Dari puncak Kastil D`Angelo, kita dapat melihat kota Roma dari atas. Indah sekali! Demikianlah kami tutup sore kami. Untuk dinner, kita memilih pergi ke Trevi Fontain yang terkenal banyak restoran dan rame oleh turis. Kita tidak berlama-lama mengunjungi Trevi Fontainnya karena terlalu padat oleh turis, dan menyimpan nya untuk esok hari ketika matahari bersinar cerah dan kamera saya dapat menangkap objek dengan bagus. Roma hari ke-dua pun selesai dengan sempurna 🙂