Italia 2: Roma (I)

Yeahhh! It is the day!! Our summer romantic vacation in the romantic country, Italia

Kami merencanakan liburan selama 9 hari dan akan mengunjungi berbagai kota di Italia. Diantaranya Roma, Perugia, Siena, Firenze, Fosdinovo Tuscany, Pissa, Lucca, Cararra Mountain, Via Regio, Cinque Terre, Genoa dan berakhir di Milan. Ups.. cukup panjang ya daftar nya 🙂 Ayank berencana untuk menyewa mobil dari Roma, sehingga kami bisa road trip dari Roma menuju Genoa dengan mengunjungi kota-kota yang telah saya sebutkan di atas.

Hari itu jumat 3 Agustus 2012 siang, pesawat kami berangkat dari Amsterdam. Berhubung kami tinggal di Den Haag maka kami pun harus menyiapkan ekstra waktu naek kereta Den Haag-Schipol. Beruntungnya, sistem transportasi di negeri kincir ini tidaklah rumit. Terdapat stasiun kereta di bandara Schipol yang dapat diakses oleh kereta dari Stasiun manapun. Jadwal keberangkatan kereta lengkap beserta rutenya pun dapat kita lihat di internet (Netherlands Spoorwagen). Perjalanan kereta Den Haag-Schipol memakan waktu 45 menit. Sekitar pukul 15.00, kami sudah sampai di bandara Schipol, Amsterdam.

O ya, kali ini kami memilih maskapai KLM Royal Dutch sebagai transportasi udara kami, dengan rute Schipol,Amsterdam —  Leonardo da Vinci Fiumicino,Roma dan Linate International Airport,Milan — Schipol,Amsterdam. Kenapa KLM? tentunya masih pada inget dong di cerita Praha 2 rupanya si Ayank kapok naik budget airlines gara-gara kaki nya kepenthok kursi di depan nya.. hihihih ;D Dengan KLM Royal Dutch ini setidaknya kaki si Ayank bisa sedikit lebih nyaman karena ada space di depan nya. Dalam penerbangan ini, kami dua kali ditawarin minum dan satu kali snack. Pertama, pramugari menawarkan Apple juice, Orange juice, Cola, Bir, Wine, Air putih, dengan snack berupa roti dan beberapa permen. Lalu kedua, pramugari akan menawarkan teh atau kopi atau air putih. Penawaran minuman dan snack ini sudah satu paket dengan harga tiket kita jadi tidak perlu mengeluarkan uang ekstra lagi.

KLM Royal Dutch kebanggaan rakyat negeri Belanda ini adalah maskapai tertua di dunia yang masih beroperasi hingga saat ini. Kebanggaan orang Belanda? Yups, sepanjang perjalanan saya telah diceramahi si Meneer gara-gara komentar: “Kamu kok kayaknya bangga banget ya ama KLM?”;D

    

KLM juga memudahkan customer nya untuk chek in secara on line melalui koneksi internet masing-masing. Jadi kita ngga perlu repot-repot lagi ngantri di check in desk yang mengaruskan kita berada di bandara minimal 1 jam sebelum waktu boarding. Dengan chek in on line, penumpang cukup harus ada di tempat ketika pintu gate di buka. Bila kita punya koper/barang-barang yang harus di masukkan bagasi, kita tinggal ngantri di alat pengedropan bagasi. Alat ini secara otomatis akan memindai barang kita dan kita cukup menerima resi apabila terjadi lost bagage. Tidak ada lagi servis manusia, semuanya dimesinkan.. ckckck…

Urusan koper beres, logam detector juga beres. Sekarang saatnya duduk leyeh-leyeh selama 1 jam perjalanan menuju Italia. Sembari sebentar-sebentar motret awan dan pegunungan Alpen di bawah kami, bagus sekali!! 🙂

Sekitar pukul 19.00 kami mendarat di Roma Leonardo da Vinci Fiumicino Airport. Bandara ini sangat penuh sesak jadi kesan nya seolah sempit. Waktu itu pas summer pula.. rasanya mirip sekali seperti lagi berjejalan di pasar Tanah Abang jakarta ;D

Kedatangan kami di Roma disambut dengan ketidakramahan warga Roma. Hal inilah yang kemudian membekas di kepala kami ketika bertemu orang-orang Roma lain pada perjalanan kami selanjutnya yang ternyata tidak jauh lebih baik ;D

Waktu itu kami mampir ke Tourist Information di dalam bandara Fiumicino. Si ayank berencana membeli kartu Roma Pass yang konon katanya akan memberikan akses bus & metro gratis selama 3 hari, plus gratis 2 kali masuk museum di Roma dan diskon 20% sampai 50% untuk beberapa museum yang telah disebutkan di buku panduan. Harga Roma Pass ini 30 Euro, karena kami berdua maka harus beli 2, dengan harga 60 Euro. Sedangkan saya waktu itu menyarankan untuk membeli paket tiket transportasi 3 hari seharga 11 Euro saja yang juga mendapatkan fasilitas gratis menaiki bus & metro. Maka total harga berdua cuma 22 Euro. Tapi dasar si Kangmas dan saya sama-sama ngeyel, maka kami butuh beberapa waktu untuk berdiskusi dan berargumen. Si ayank berargumen bahwa tiket masuk Colloseo+Palatino Hill+Forum Romana sekitar 15 Euro. Tiket masuk Museum Vatikan saja juga 15 Euro. Jadi, 2 museum sudah 30 Euro, jika kita beli 3 day transportation pass yang 11 Euro maka total kami akan mengeluarka 41 Euro/orang. Sedangkan Roma pass cuma 30 Euro per orang plus gratis 2 kali entrance museum. 

Eh.. si mba-mba kasirnya dengan tidak sopan, menginterupsi kami dengan muka kesal bilang kalo mereka mau tutup. Ya, saya bisa pahami kalau mereka mau tutup. Tapi apa ya sebagai Customer Service yang bekerja melayani & memberikan informasi kepada turis (dan pastinya tidak sedikit turis yang bingung), mereka tidak pernah di training bagaimana menjadi CS itu sendiri? Dengan diskusi yang tidak terselesaikan akhirnya kami memutuskan untuk membeli 2 Roma Pass seharga 60 Euro itu. Dan si mba-mba itu tetap saja melayani kami dengan cranky dan memberikan informasi secara ketus serta tidak banyak memberikan solusi tentang wisata di Roma!

Setelah keluar dari kantor itu dan membaca petunjuk Roma Pass, si ayank lebih marah lagi! Ternyata 3 hari yang dimaksudkan di kartu itu bukan 24 jam x 3, melainkan hari di mana kartu itu di aktivasi sampai pukul 00.00 dianggap sebagai hari pertama. Jadi, misal hari itu juga pukul 20.00 kami melakukan aktivasi maka masa 1 hari kartu itu habis pada pukul 00.00 di hari yang sama. Belum lagi ternyata, entrance Colloseo dan Forum Romana+Palatino Hill di anggap terpisah oleh kartu Roma Pass.  Jadi jika kami masuk ke Colloseo maka dianggap memasuki museum pertama gratis. Lalu jika setelah itu masuk ke Forum Romana+Palatina Hill maka dianggap memasuki museum kedua gratis. Bisa dibilang, 15 euro paket colloseo+Palatina Hill+Forum Romana ditambah 11 euro tiket paket transportasi 3 hari terpisah, lebih untung daripada Roma Pass (26 euro vs 30 euro). O ya satu lagi, Vatikan tidak termasuk Roma, sehingga entrance museum Vatican tidak ada di Roma Pass. Apa mau dikata..

Selanjutnya kami berdiskusi tentang transportasi apa yang sebaiknya kami ambil dari bandara Fiumicino menuju stasiun Termini.  Ternyata ada banyak bus khusus yang melayani trayek Fiumicino-Termini dengan harga 5 euro/orang. Lalu kemudian dari Termini kami mau tak mau mulai mengaktivasi Roma Pass dengan naek metro line B menuju Castro Pretoria, metro stop terdekat dari hotel kami.

Yang menarik, selama perjalanan menggunakan bus Fiumicino-Termini, trayek bus ini melewati Colloseo Roma. Kami pun beserta seluruh penumpang bus yang tentunya mayoritas turis baru mendarat di Roma, takjub menganga menyaksikan Colloseo di malam hari hanya beberapa jengkal dari kaca bus kami. 🙂

Setibanya di Stasiun Termini, kami meneruskan perjalanan dengan metro menuju Castro Pretoria, pemberhentian terdekat dari hotel yang telah kami booking. Hotel ini walau sangat basic namun lumayan untuk menginap selama tiga malam di Roma. Dengan fasilitas, AC, TV, shower room, breakfast. Catatan yang sangat penting, AC di kamar hotel adalah hal yang akan membuat anda sangat bersyukur selama menghadapi musim panas di Italia. Bisa anda bayangkan bahwa suhu selama summer disini mencapai 40 derajat celcius setiap harinya.  

Setelah Check in di hotel dan meletakkan barang-barang bawaan, kami pun memutuskan untuk pergi ke Piazza de Navona. Berdasarkan saran dari teman yang pernah pergi ke Italia, Piazza ini sangat menarik dan romantis untuk menghabiskan waktu sore bersama pasangan.

 

 

Pernah baca buku Dan Brown ataukah anda penggemar karya-karya Dan Brown? Maka Piaza Navona adalah tempat yang wajib anda kunjungi!  Air mancur ini adalah karya artist terkenal Italia, Giovanni Lorenzo Bernini yang sangat merepresentasikan arsitektur Baroque yang cukup kental mendominasi era tersebut.  Dalam novel Angel and Demond, Brown menyebut tempat ini sebagai Fontana dei Quattro Fiumi atau fontain of four river sebagai altar of science yang mewakili sungai empat benua: Danube Eropa, Gangga Asia, Rio de la Plata Amerika dan Nil Afrika. Sangat mearik bila kita berjalan berkeliling dan memperhatikan detail patung-patung dalam fontana ini. Ke-empat patung itu adalah dewa-dewa yang dipercaya berkuasa atas sungai-sungai tersebut. Dewa di sungai Gangga digambarkan sedang membawa dayung sebagai simbol navigasi sungai. Dewa sungai Nil digambarkan mengenakan kain yang tersampir kendur, menyimbolkan bahwa pada masa itu tidak ada yang tahu dimanakah sumber sungai Nil berasal. Dewa sungai Danube digambarkan sedang menyentuh simbol papal ke-Pausan. Sedangkan Plata digambarkan sedang duduk di atas tumpukan koin dan terlihat ketakutan oleh seekor ular. Plata sendiri dalam bahasa Spanyol berarti perak, sehingga ini menyimbolkan kekayaan yang dapat Amerika tawarkan kepada Eropa. Namun di sisi lain, patung ular menyimbolkan ketakutan seorang kaya kalau-kalau hartanya akan dicuri. Ditengah-tengah patung itu terdapat Obelis yang Mesirn kuno.

Piaza Navona memang sangat menarik. Selain berkeliling memperhatikan detail patung, kita juga bisa duduk sejenak dan menikmati suasana sore. Tidak jauh dari Fontana, terdapat jajaran lukisan-lukisan indah yang sengaja dipajang dan dijual oleh para pelukis, on the street.  Perut lapar? Jangan khawatir! Terdapat banyak restauran di sekitar piaza ini. Berkelilinglah mensurvei restoran dengan menu yang sesuai selera dan harga yang sesuai kantong anda masing-masing. Serta jangan lupa perhatikan apakah ada fee atau tax tambahan untuk menghindari tourist trap 😉 

Musik merdu yang disenandungkan oleh para musisi jalanan pun menyempurnakan sore kami menikmati keromantisan Piaza ini. Akhirnya, duduk di bangku dekat fountain sambil makan gelato, menutup perjalanan hari pertama kami menikmati Roma 🙂

 

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

7 Komentar

  1. Hai Ayu mau tanya dong, dari Belanda ke Itali, naik pesawat brp ya tiketnya? mana sih lbh murah pesawat atau kereta? .. soalnya ada 2 teman saya dari Jakarta, mereka mau jalan2 ke Belanda dan Itali juga, dan mrk baru pertama kali ke Eropa.

    Balas
  2. Kalo aku prefer naek pesawat Kak. Hemat waktu dan harga bisa lebih murah kalo kita beruntung search nya. Kemarin aku naek KLM pas High season summer, jadinya kena tinggi, 120 Euro PP. Kalo ngga high summer KLM bisa 60-70 Euro PP. Atau coba pesawat budget spt Ryan air, mungkin tiket nya lebih murah apalagi kalo pas promo.. Kapan teman nya datang ke Belanda Ka? Semoga have fun yah 🙂

    Balas
  3. arbanita

     /  September 15, 2013

    Hai Mba Ayu.. mau tanya, dulu pas ke roma nginep di hotel apa? thank u mba..

    Balas
    • Hai Arbanita.. dulu sy nginapnya di Hotel Tre stelle, bintang 3. Alamat di via san martino della battaglia, 11, Rome. Kamar nya basic standart sih tp yg penting ada AC nya krn waktu itu sy datang pas summer, suhu 40ºC ;D
      Akses transportasinya 5min walking distance ke Metro castro pretorio dan 2 pemberhentian bus ke Stasiun termini. Tiap malam dilewati trayek bus 24 jam juga jadi tidak perlu khawatir kemalaman nge-bolang ;D

      Balas
  4. deddy

     /  Februari 17, 2014

    waah sungguh luar biasa cerita dan pengalamannya. saya benar-benar tertarik dan membaca tulisan ini dengan serius dari awal sampai selesai. semoga saya juga bisa ke itali seperti mba Ayu. 🙂

    Balas
  5. Salam Mas Deddy terimakasih. Semoga Mas Deddy cepat ketularan jalan2 ke Eropa seperti saya ya 🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: